Jump to content
×
×
  • Create New...

Kenikmatan Memancing


Recommended Posts

Dalam catatan ini saya ceritakan pengalaman memancing pada hari Minggu, 18 Juli 2010 yang lalu. Pengalaman yang sangat mengesankan dan tidak akan terlupakan. Berharap catatan ini menjadi kenangan dan pelajaran buat saya sendiri dan tentunya buat para mancing mania.

 

Rencana memancing pada hari itu sudah digagas sejak seminggu sebelumnya. Mendekati hari H rencana ini ingin digagalkan oleh istriku. Menurutnya pekerjaan ini tidak bermanfaat. Lebih baik gunakan waktu libur tersebut untuk pekerjaan lain di rumah. Padahal jauh-jauh hari saya dan anak tertua saya sudah mempersiapkan segalanya. Memang dalam rencana kami pergi berlima, saya dan anak sulung kemudian adik ipar saya dan anaknya serta satu orang keponakan. Dengan sedikit mendongkol akhirnya kami dapat juga pergi memancing pada hari itu.

 

Pada 17.00 WIB hari Sabtu (17/7/2010), saya pacu kendaraan menuju Pasirpengarayan yang berjarak sekitar 185 km dari Pekanbaru. Spot mancing yang kami tuju adalah daerah Desa Ulak Patian yang berjarak 75 km dari Pasirpengarayan. Desa ini terletak di tepi sungai Rokan Kanan atau dikenal dengan nama sungai Batanglubuh oleh masyarakat setempat. Sesampai di Pasirpengarayan kami bermalam di rumah adik ipar. Malam itu kami persiapkan semua keperluan untuk mancing, termasuk persiapan logistik yaitu nasi dan lauk pauknya. Semua sudah klop dan oke. Rencana setelah solat subuh kami langsung berangkat.

 

Tengah malam sampai pagi hujan turun sangat lebat. Kami khawatir kondisi ini dapat menggagalkan rencana kami. Sudahlah izin memancing sulit didapat dari istri, ditambah lagi hari hujan lebat. Sepertinya alam sudah tidak menghendaki kami memancing hari itu. Untuk menghibur hati saya mencoba tuliskan dalam status facebook kondisi ini. Bahkan saya ingat status facebook saya yang membuat ketawa, yaitu “Kalau hujan yang lebat maka kita mesti bersyukur, tapi kalau yang lain yang lebat maka kita mesti bercukur.” Sesuatu yang memang sulit untuk dipungkiri. Tapi ternyata menjelang pagi hujan mulai reda namun tetap tidak berhenti. Kami tetap memutuskan untuk berangkat berharap hujan berhenti.

 

Subuh menjelang pagi kami muat semua peralatan ke mobil. Setelah merasa siap kami langsung tancap gas. Dalam gerimis kami pacu terus kendaraan. Hampir sampai di tempat tujuan hujan pun mulai reda. Akhirnya setelah 2 jam perjalanan kami pun sampai ke Desa Ulak Patian. Di sana ada rekanan kami yang sudah menunggu. Dia yang menyewakan boat buat mancing. Kami menyewa boat dan satu buah sampan untuk satu hari. Boat tersebut kami bawa sendiri dan di belakangnya kami ikatkan sebuah sampan.

 

Kami segera memuat semua peralatan ke atas boat. Setelah merasa semuanya tidak ada yang tertinggal lagi maka kami pun berangkat. Mesin boat kami hidupkan dan boat melaju ke arah hilir karena kami mengambil spot yang di hilir. Sebelumnya kami sudah beberapa kali memancing di hulunya. Setelah 15 menit kami pun sampai dan berencana mulai mancing. Boat kami pinggirkan dan kami tambatkan. Saatnya bagi-bagi logistik. Bertiga mancing di boat dan dua orang di sampan. Peralatan pancing, umpan, minuman dan makanan dibagi.

 

Saat itulah kami menyadari bahwa kami telah melupakan sesuatu yang penting. Ternyata makanan seperti nasi bungkus dan segala lauk-pauknya yang sudah dipersiapkan semalam tidak dibawa. “Aduh! Bagaimana kita mau makan siang nanti?”, tanya anak saya. Padahal sarapan pagi pun belum kami lakukan. Tidak mungkin membeli makanan di tengah hutan. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke rumah pemilik boat. Saya dan anak saya tinggal di sampan, adik ipar saya dan yang lainnya kembali untuk mencari perbekalan. Sementara mereka pergi, kami menyiapkan pancing dan mulai memancing. Kami coba dulu memancing dengan umpan kucur, tidak berapa lama langsung “strike” seekor baung seberat kira-kira 0,5 kg.

 

Setelah lebih 30 menit mereka tiba kembali. Pemilik boat memberikan bekal sedikit nasi dalam termos, 1 kg beras, garam, bawang, cabe, mancis dan sebilah pisau. Artinya untuk sambal atau gulai berarti kami harus memasak. Jelas kami harus memancing ikan untuk dimasak makan siang nantinya. Untuk tempat memasak kami disarankan singgah di satu pondok kosong nelayan di pinggir sungai. Menurutnya disitu ada peralatan memasak seperti panci dan periuk. “Okelah kalau begitu,” kataku.

 

Tidak berapa lama setelah itu pancingku disambar ikan. Terasa berat sekali dan ikannya kuat. Namun akhirnya ikannya malah nyangkut di ranjau kayu di bawah sana. Kondisi air yang agak keruh dan dalam menyebabkan aku kesulitan menariknya. Mau diputuskan talinya tapi ikannya masih ada. Akhirnya aku putuskan untuk menyelaminya. Kubuka baju kebesaran mancing dan celana, hanya tinggal celana dalam saja, aku melompat ke air. Ternyata airnya sangat dalam, saya tidak sanggup menyelam sampai ke dasar. Tapi anehnya berhasil juga melepaskan pancing dari ranting kayu tersebut. Kemudian anakku di sampan menarik pancing tersebut dan hasilnya seekor baung kira-kira seberat 2 kg. “Basah juga akhirnya tembakauku,” pikirku. Setelah itu kami sering “strike” ikan-ikan seperti baung, kapiek, selais, keting, juaro, bangkalan, tilan dan lain-lain.

 

Singkat cerita, hari sudah beranjak tengah hari. Rasa lapar mulai menyerang. Kami pun segera berkayuh menuju pondok yang disarankan. Setelah beberapa menit akhirnya kami sampai ke pondok sederhana itu. Lebih tepatnya disebut gubuk. Inilah gubuk nelayan sungai, terbuat dari kayu-kayu hutan dan lantai kepingan papan-papan hanyut. Di dalamnya ada dapur tempat memasak. Adik ipar saya segera memasak nasi dan menyiapkan kayu pemanggang ikan. Sementara saya sibuk membersihkan ikan yang akan kami panggang. Satu ekor ikan juaro sebesar betis, beberapa ekor selais, keting dan kapiek saya bersihkan. Sambil menunggu masak, para anak-anak bermain di pinggir tebing. Teringat olehku waktu kecil dahulu. Waktu itu saya dan teman-teman terbiasa main dan berenang di sungai. Dunia terasa bebas dan milik kita.

 

Setelah semuanya masak, hidung kami pun bergerak-gerak mencium bau harum panggang ikan segar itu. Ikan-ikan itu ditaburi garam kemudian dipanggang. Bau harumnya mengundang selera makan. Kami pun mulai makan dengan “piring” daun pisang. Tidak peduli ikan panggangnya masih panas namun tetap kami santap. Terasa begitu nikmat sekali. Akhirnya seluruh nasi dan ikan yang dihidangkan dilahap habis. Nikmat! Setelah itu saya ingat solat zuhur, dan saya berwudu. Saya pun solat di atas sekeping papan. Untuk arah kiblat saya melihat matahari, dan saya arahkan agak ke barat laut. Begitu sederhananya namun begitu tinggi rasa syukur terasa.

 

Begitulah kisah kami memancing hari itu. Biasanya setiap pergi memancing ada-ada saja kisah yang tercipta. Ada kisah lucu, ada kisah sedih, marah dan sebagainya. Tapi lebih sering kisah lucu yang membuat kita rindu untuk memancing selalu. Namun lebih dari itu, bagi saya kegiatan memancing itu adalah sarana untuk MENIKMATI KESEDERHANAAN DAN KETERBATASAN. Tentunya teman-teman para pemancing pasti memiliki kisah-kisah unik yang lucu dan tidak terlupakan.

Link to post
Share on other sites

Komentar

Isi komentar anda sebelum mendaftar. Jika anda sudah mendaftar, ->login<- sekarang untuk mengomentari menggunakan akun anda.

Guest
Komentari...

×   Pasted as rich text.   Paste as plain text instead

  Only 75 emoji are allowed.

×   Your link has been automatically embedded.   Display as a link instead

×   Draft konten dipulihkan..   Hapus draft

×   You cannot paste images directly. Upload or insert images from URL.