Jump to content
FJB - Forum Jual Beli Indonesia
Masuk untuk mengikuti  
bot

Geger Harta Karun 30.000 Ton Emas di Banten 'Dirampok' Asing

Recommended Posts

Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa kini lewat relevansinya di masa lalu.

Jakarta, CNBC Indonesia - Emas hingga kini masih menjadi instrumen investasi safe haven paling diburu masyarakat global. Namun, siapa sangka jika sejarah mencatat sebuah temuan fantastis di tanah air yang sempat membuat geger dunia.

Ternyata, ada penemuan cadangan emas hingga 30.000 ton di wilayah Banten. Sayangnya, "durian runtuh" ini tidak sepenuhnya jatuh ke tangan rakyat Indonesia, melainkan dikuasai oleh pihak asing pada masa kolonial.

Jejak 'Gunung Emas' di Selatan Batavia

Kisah ini bermula di Cikotok, sebuah wilayah di selatan Banten yang jaraknya hanya sekitar 200 km dari Jakarta (dahulu Batavia). Desas-desus mengenai kandungan emas di wilayah ini sebenarnya sudah lama terdengar oleh pemerintah kolonial Belanda.

Namun, penelitian serius baru membuahkan hasil setelah seorang ahli geologi bernama Oppenoorth melakukan penyusuran mendalam. Meski harus membabat hutan belantara dan medan yang ekstrem, upaya ini akhirnya menyingkap tabir harta karun yang luar biasa.

Pada Maret 1928, surat kabar Sumatra-bode melaporkan temuan yang mencengangkan. "Hingga saat ini ditemukan emas sebesar 30.000 ton dari Cikotok," tulis laporan tersebut, sebagaimana dikutip dari arsip sejarah.

Eksploitasi Masif Pihak Asing

Temuan ini praktis membuat pemerintah kolonial langsung bergerak cepat. Untuk mengeruk kekayaan tersebut, hak operasional diberikan kepada perusahaan asing, NV Mijnbouw Maatchappij Zuid Bantam.

Dari sini, penambangan emas dilakukan secara masif. Jalur pengangkutan tambang pun tak hanya diakses dari Sukabumi. Menurut harian de Indische Courant (25 Juli 1939), pemerintah kolonial membangun akses baru dari Rangkasbitung dan Pelabuhan Ratu.

Selain itu dibangun pula pabrik berkapasitas 20 ton per hari. Hanya saja, pabrik tersebut tak bisa menampung semua hasil eksploitasi emas saking banyaknya. Bahkan, selama pekerjaan pun, para kuli sering menemukan emas dengan berat bervariasi.

"Selama pekerjaan, sering ditemukan emas dengan berat beragam. Paling tinggi mencapai 126 gram," tulis de Indische Courant (25 Juli 1939).

Pada 1933, penambangan emas sudah memberikan catatan baik. Tercatat ada 400 Km2 wilayah penambangan di Cikotok. Emas pun bisa diraih hanya dengan menggali 50 meter. Bahkan, pemerintah bisa mendapat emas jauh lebih besar.

"Jumlah emas yang terungkap dari eksplorasi berjumlah lebih dari 61.000 ton emas dengan nilai 3,68 miliar gulden," tulis de Locomotief (29 Maret 1933).

Meski begitu, banyaknya emas hanya menguntungkan satu pihak saja, yakni pemerintah kolonial. Mereka makin kaya raya. Sementara, penduduk pribumi sama sekali tak mendapat keuntungan dan kesejahteraan dari penambangan emas, sekalipun pemerintah kolonial menjanjikan kesejahteraan bagi pribumi.

Singkat cerita, sumber emas Cikotok menjadi penambangan emas terbesar yang pernah dimiliki pemerintah kolonial hingga berlanjut ke pemerintah Republik Indonesia. Pada era kemerdekaan, tambang emas Cikotok diambil alih NV Perusahaan Pembangunan Pertambangan dan kemudian diteruskan PT Aneka Tambang pada 1974.

Riwayat tambang emas Cikotok harus berakhir pada 2005 karena kandungan emasnya habis. Meski habis, kejayaan tambang emas Cikotok diteruskan oleh tambang emas yang lebih besar, yakni Freeport di Papua.

(fab/fab) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[1] [Gambas:Video CNBC]
[2]

References

  1. ^ Add as a preferred source on Google (www.cnbcindonesia.com)
  2. ^ [Gambas:Video CNBC] (www.cnbcindonesia.com)

Sumber

Share this post


Link to post
Share on other sites
Masuk untuk mengikuti  

×
×
  • Create New...