Jump to content
FJB - Forum Jual Beli Indonesia
Masuk untuk mengikuti  
bot

Lari dari Bayang-bayang PHK, Peluh Kelas Menengah Mencari Nafkah

Recommended Posts

Jakarta, CNN Indonesia --

Lesunya pasar kerja[1] Tanah Air tahun ini membuat fenomena "putar otak" menjadi strategi bertahan hidup bagi kelas menengah[2]. Kondisi tersebut juga berlaku bagi para lulusan muda seperti Ajeng, Faris, dan Rahajeng yang terpaksa ikut memutar otak demi bertahan hidup.

Ajeng sarjana komunikasi berusia 23 tahun memilih jalan wirausaha dengan menyewakan handy talkie dan membuka jasa komisi gambar (art commission), setelah lelah menghadapi tipu daya lowongan kerja, serta proses rekrutmen yang tak kunjung membuahkan hasil.

Sebelumnya, ia kerap berselancar di dunia maya mulai dari LinkedIn, Jobstreet, hingga Glints pernah ia jajal untuk mencari pekerjaan yang sesuai latar belakang ilmunya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berbekal pengalaman organisasi di TV kampus serta magang di perusahaan e-commerce, Ajeng mencoba melamar ke berbagai sektor. Mulai dari media, agensi periklanan, hingga industri fast-moving consumer goods (FMCG), tetapi belum ada yang merespons lamarannya.

"Banyak aku apply-nya, lumayan acak (sektornya)," katanya ketika berbincang bersama CNNIndonesia.com.

Tak jarang, wanita lulusan 2025 itu menemukan lowongan kerja yang menuntut beban pekerjaan di luar posisi yang ditawarkan.

Dengan langkah berani, Ajeng membuka usaha penyewaan HT berkat pengalaman yang diperolehnya saat bekerja di usaha milik temannya. Lewat usaha itu, ia berpotensi memperoleh bagi hasil sekitar 15 persen hingga 20 persen

"Jadi nanti persenannya ada, misalnya aku kebagian 15 persen atau 20 persen," ujarnya.

[Gambas:Youtube][3]

Jurus Ajeng bertahan dari gempuran kondisi ekonomi saat ini tidak hanya mengandalkan penyewaan HT. Ia juga melirik opsi lain seperti membuka jasa komisi gambar.

Ajeng percaya usaha ini lebih menjanjikan baginya yang punya hobi menggambar. Terlebih, peluang usaha tersebut dinilai cukup menjanjikan setelah tren komisi ilustrasi ramai di media sosial.

"Kayaknya yang art itu sih aku buka kayak komisi aja. Soalnya lagi zaman kan kayak (tren menggambar) kucing jelek (di media sosial). Jadi kayaknya bisa di situ," ujar Ajeng.

Langkah serupa diambil Faris (nama samaran) di Jakarta. Sebagai programmer, ia mengandalkan pekerjaan lepas (freelance) setahun terakhir untuk menyambung hidup. Ia memilih bertahan dengan pekerjaan lepas setelah kontraknya tidak diperpanjang oleh perusahaan sebelumnya.

Menjadi pekerja lepas ia biasa mengerjakan proyek dari rekannya dan berjalan sekitar dua bulan, kemudian jeda sebelum proyek berikutnya datang.

"Dia (teman Faris) selalu ada proyek sih. Mungkin dua atau tiga bulan ada proyek, lalu selesai. Sebulan enggak ada, lalu ada lagi proyek lain," kata pria berusia 27 tahun tersebut.

Namun, menyadari ketidakpastian upah yang diperoleh, Faris meningkatkan kemampuan diri dengan mempelajari Kecerdasan Buatan (AI). Tujuannya agar ia bisa menjadi sosok yang lebih kompetitif di mata perusahaan besar.

Maklum, kebanyakan perusahaan milik negara kerap menetapkan persyaratan pelamar kerja yang cukup ketat, termasuk kesesuaian latar belakang pendidikan. Sebagai lulusan teknik mesin, Faris mengaku kesulitan memenuhi kriteria tersebut, meski telah memiliki pengalaman dan mengikuti bootcamp sebagai programmer.

Menurut dia, perusahaan swasta cenderung lebih fleksibel dalam menilai latar belakang pendidikan. Namun, pelamar tetap harus melalui tahapan lanjutan seperti uji kemampuan sebelum diterima.

Berbekal pembelajaran mandiri dari YouTube dan berbagai konten di internet, Faris mulai memahami banyak hal mengenai AI.

"Kalau (perusahaan) swasta bisa (melihat) AI jadi nilai plus. Mereka lebih menghargai itu. Kalau memahami AI ini mempermudah banget sih," ujar Faris.

Faris melihat kemampuan di bidang AI dapat membuka peluang baru. Dengan memanfaatkan teknologi tersebut, ia dapat membuat sebuah website secara lebih cepat dan efisien. Ia juga semakin pede kalau daya tariknya di mata perusahaan swasta akan semakin besar.

Tak hanya di Jakarta, jauh di Purwokerto sana ada Rahajeng yang tengah berjibaku mencari pekerjaan. Lulusan Universitas Jenderal Soedirman pada September 2025 itu sempat berkesempatan magang di salah satu media nasional melalui program magang nasional pemerintah.

Enam bulan Rahajeng merasakan dinamika kerja di Ibu Kota, hingga akhirnya harus berpamitan dengan tebalnya polusi Jakarta saat masa magangnya selesai. Ia tak mendapatkan tawaran lanjut di media nasional tersebut dan kembali ke kampung halamannya.

Rahajeng juga dihadapkan pada realita pahit saat mencari kerja, mulai dari diputusnya komunikasi oleh perusahaan karena kendala domisili di Purwokerto, hingga tingginya syarat pengalaman (2-3 tahun) yang sulit dipenuhi oleh lulusan baru.

"Aku sebagai fresh graduate itu kayak merasa kesulitan karena ada syarat minimum dari lowongan pekerjaan yang disediakan misalnya kayak pengalaman sekitar 2-3 tahun sesuai pekerjaan yang ada," ujarnya.

Selain itu, minimnya lowongan yang relevan dengan latar belakang pendidikannya di bidang Hubungan Internasional memaksa Rahajeng untuk memutar otak.

Alhasil, muncullah ide menghidupkan kembali usaha penjualan pakaian bekas (thrifting) yang sempat ia jalankan saat kuliah. Ia mengaku sempat menjual pakaian preloved miliknya sejak 2024 hingga awal 2025. 

Menurutnya, usaha tersebut cukup menjanjikan mengingat tren thrifting kini masih diminati masyarakat.

"Kebetulan aku agak jago marketing juga sih. Aku jualin dan lumayan pendapatannya selama seminggu," cerita Rahajeng kepada CNNIndonesia.com.

Dengan mengandalkan kemampuan pemasaran dan memanfaatkan komunitas di media sosial X, ia menargetkan untuk membuka bisnis kembali akhir Mei ini.

Kisah Rahajeng, bersama Ajeng dan Faris, menegaskan bahwa di tengah pasar kerja yang ketat, bertahan hidup kini tak bisa lagi hanya mengandalkan satu pintu. Beralih ke pekerjaan lepas (freelance) atau merintis usaha mandiri menjadi pilihan realistis untuk tetap bergerak di tengah ketidakpastian ekonomi.

Kisah Ajeng, Faris, hingga Rahajeng menggambarkan satu hal yang sama: bertahan kini tak lagi bergantung pada satu pintu. Khususnya di tengah ketatnya pasar kerja dan ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.

Dari melamar pekerjaan tanpa henti, beralih ke freelance, hingga merintis usaha kecil dari pengalaman dan hobi, para pejuang muda Tanah Air terus mencari celah di tengah keterbatasan.

Pilihan-pilihan itu mungkin belum memberi kepastian, tetapi menjadi cara realistis untuk tetap bergerak, sembari menunggu peluang yang lebih stabil datang di kemudian hari.

(dhz/ins/bac) Add logo.png?v=12.3.4 as a preferred
source on Google
[4]

References

  1. ^ pasar kerja (www.cnnindonesia.com)
  2. ^ kelas menengah (www.cnnindonesia.com)
  3. ^ [Gambas:Youtube] (www.youtube.com)
  4. ^ Add as a preferred source on Google (www.cnnindonesia.com)

Sumber

Share this post


Link to post
Share on other sites
Masuk untuk mengikuti  

×
×
  • Create New...