bot 0 Posted 1 jam yg lalu. Jakarta, CNN Indonesia -- Mantan Komisaris PT Kereta Api Indonesia (KAI[1]) Riza Primadi angkat suara terkait kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur[2] yang menewaskan 15 orang. Ia menilai tragedi tersebut bukan sekadar insiden teknis, melainkan cerminan persoalan sistemik di sektor perkeretaapian.Dalam unggahan di LinkedIn pada Rabu (29/4), Riza menyebut kecelakaan itu sebagai bentuk kelalaian yang sudah lama terjadi dan tidak ditangani secara menyeluruh oleh para pemangku kebijakan."Ini adalah manifestasi kelalaian sistemik yang dipelihara di bawah hidung para pemangku kebijakan," ujarnya. ADVERTISEMENT SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT Ia menyoroti perdebatan publik yang kerap terfokus pada aspek teknis seperti persinyalan atau human error. Menurutnya, diskusi tersebut tidak menyentuh akar masalah utama. Riza menegaskan ketiadaan proyek Double Double Track (DDT) di lintas Bekasi-Cikarang menjadi faktor krusial yang luput dari perhatian. Ia meyakini kecelakaan tidak akan terjadi apabila infrastruktur tersebut telah terealisasi."Jika program DDT Bekasi-Cikarang ini dieksekusi, musibah berdarah kemarin tidak akan pernah terjadi," katanya.[Gambas:Youtube][3]Berdasarkan pengalamannya selama delapan tahun sebagai komisaris KAI, Riza cukup memahami dinamika internal dalam pengambilan kebijakan di sektor perkeretaapian. Ia menilai hambatan birokrasi menjadi salah satu penyebab utama mandeknya proyek strategis."Saya tahu persis bagaimana rencana besar ini disusun, tapi juga melihat betapa frustrasinya manajemen menghadapi tembok birokrasi dengan tata kelola yang amburadul," ujarnya.Ia juga menyoroti praktik operasional yang masih mencampur perjalanan KRL dengan kereta jarak jauh di jalur yang sama. Kondisi ini dinilai berisiko tinggi terhadap keselamatan."Secara operasional, mencampur KRL dengan kereta jarak jauh di jalur ganda akan selalu menyimpan potensi bahaya fatal," kata dia.Riza menyebut ada dua solusi permanen untuk mencegah kecelakaan serupa, yakni pembangunan DDT dan penerapan sistem Automatic Train Protection (ATP). Namun, ia menilai kedua solusi tersebut kerap terhambat oleh persoalan lintas lembaga."Ada semacam deep state di birokrasi yang membuat proyek krusial ini selalu takes time," ujarnya.Ia pun mengingatkan agar tragedi tersebut tidak semata disederhanakan sebagai kesalahan teknis di lapangan. Menurutnya, masalah yang lebih besar justru terletak pada tata kelola dan koordinasi antarinstansi."Selama DDT tidak diselesaikan dan sinkronisasi teknologi dianggap rumit, narasi teknis apa pun hanya cara halus untuk mencuci tangan," katanya. (lau/ins) Add as a preferred source on Google [4] References^ KAI (www.cnnindonesia.com)^ Stasiun Bekasi Timur (www.cnnindonesia.com)^ [Gambas:Youtube] (www.youtube.com)^ Add as a preferred source on Google (www.cnnindonesia.com)Sumber Share this post Link to post Share on other sites