bot 0 Posted 3 jam yg lalu. Jakarta, CNN Indonesia -- Pengamat memperkirakan pemerintah akan mempertimbangkan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi [1]seperti Pertalite[2] dan Solar apabila rata-rata harga minyak mentah [3]dunia mencapai US$90 per barel per bulan.Praktisi migas Hadi Ismoyo menjelaskan tolok ukur pemerintah dalam menentukan kebijakan harga BBM tidak didasarkan pada harga harian, melainkan rata-rata harga dalam periode tertentu, terutama per bulan.Karenanya, Hadi tidak heran jika pemerintah saat ini belum mempertimbangkan kenaikan harga BBM subsidi. ADVERTISEMENT SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT Terlebih, pada Senin (9/3) harga minyak mentah acuan Brent sempat melonjak hingga US$104 per barel, tetapi terkoreksi dan turun menjadi US$92,45 per barel. "Perlu diingat ada jenis harga peak (fluktuatif) dan harga rata-rata bulanan," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Selasa (10/3).Di tengah konflik Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran, Hadi menilai harga minyak mentah dunia masih berpotensi naik lebih tinggi.Ia bahkan memprediksi harga puncak (peak) bisa mencapai US$150 per barel apabila konflik terus meluas dan para pihak tidak menahan diri.Prediksi tersebut sejalan dengan pernyataan Menteri Energi Qatar Saad al-Kaabi yang sebelumnya juga menyebut potensi lonjakan harga minyak dunia hingga level tersebut.Menurut Hadi, eskalasi konflik di Timur Tengah saat ini sudah menyasar berbagai fasilitas penting, tidak hanya instalasi militer dan kilang minyak, tetapi juga fasilitas air yang menjadi sumber kehidupan di kawasan gurun."Khusus Iran, ditambah dengan pengganti Imam Khamenei adalah putranya yang boleh jadi lebih radikal dan melanjutkan tradisi dendam yang berjilid-jilid," ujar Hadi.Hadi menilai pemerintah baru akan mempertimbangkan kenaikan harga BBM subsidi apabila rata-rata harga minyak dunia dalam sebulan mencapai sekitar US$90 per barel.Artinya, kenaikan harga harian hingga US$120 hingga US$150 per barel belum tentu langsung direspons dengan kebijakan kenaikan harga BBM subsidi."Paling aman pakai ektrapolasi berdasarkan historical kenaikan yang pernah terjadi. Saya sudah kasih angka tadi, prediksi saya bulan Maret ini rata-rata di sekitar US$90 per barel," kata Hadi.Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026, pemerintah menetapkan asumsi Indonesia Crude Price (ICP) sebesar US$70 per barel.Jika rata-rata harga minyak dunia dalam sebulan berada di level US$90 per barel, berarti terjadi kenaikan sekitar 28 persen dari asumsi dalam APBN.Namun demikian, Hadi menyebut kenaikan harga BBM subsidi di masyarakat tidak akan sepenuhnya mengikuti lonjakan harga minyak mentah karena adanya faktor harmonisasi harga.Ia memperkirakan pemerintah dapat menahan kenaikan harga BBM pada kisaran 50 hingga 70 persen dari kenaikan harga minyak mentah.Jika menggunakan asumsi harmonisasi 50 persen, kenaikan harga BBM diperkirakan tidak lebih dari sekitar 14 persen dari harga saat ini.Hadi mengilustrasikan, jika harga Solar saat ini Rp6.800 per liter dan naik sekitar 14 persen, maka harga barunya dapat berada di kisaran Rp7.752 per liter."Semua formula itu hanya prediksi. Semua tergantung kepada kesepakatan harga antara pemerintah dan DPR karena banyak faktor yang kompleks sekali perhitungannya," ujar Hadi.Pandangan serupa disampaikan pengamat ekonomi energi Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi.Menurut dia, pemerintah sebaiknya mempertimbangkan kenaikan harga BBM subsidi dengan melihat rata-rata harga minyak dunia dalam periode tertentu, baik mingguan maupun bulanan.Hal itu karena pergerakan harga minyak dunia sangat dinamis jika hanya dilihat dari perubahan harian."Ini kan dinamis ya. Saya kira memang idealnya dilihat rata-rata apakah dalam waktu satu pekan atau satu bulan, sehingga itu lebih realistis daripada hanya sehari dua hari (yang) kondisinya sangat dinamis," kata Fahmy.Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa sendiri telah buka suara mengenai kenaikan harga minyak mentah dunia ini.Ia menilai lonjakan harga minyak mentah dunia yang menembus US$100 per barel masih terlalu dini untuk dijadikan dasar perubahan kebijakan pemerintah, terutama yang terkait dengan BBM bersubsidi.Menurut Purbaya, kenaikan tersebut baru terjadi dalam waktu singkat.Sementara, pemerintah menghitung asumsi harga minyak dalam APBN berdasarkan rata-rata dalam satu tahun penuh."Kan baru satu hari, hitungan kita kan setahun penuh," ujar Purbaya di Pasar Tanah Abang Blok A, Jakarta Pusat, Senin (9/3).Ia menegaskan lonjakan sesaat belum tentu mencerminkan tren tahunan karena harga minyak masih bisa kembali turun."Asumsi kita setahun penuh. Kalau sekarang US$100 (per barel), habis itu jatuh ke US$50 (per barel), bisa sama dengan yang kemarin. Jadi jangan terlalu cepat-cepat adjust ini, adjust itu," ujarnya.Purbaya memastikan pemerintah akan terus memantau perkembangan harga minyak dunia sebelum memutuskan kebijakan baru.Menurut dia, pemerintah akan melihat perkembangan dalam satu bulan ke depan untuk menilai arah pergerakan harga minyak dunia."Kita lihat kondisi seperti apa. Nanti setelah sebulan kita prediksi, harga minyak seperti apa, sehingga kita bisa ngambil kebijakan yang pas," ucap Purbaya.Ia menegaskan APBN siap berfungsi sebagai shock absorber untuk meredam gejolak harga minyak dunia.Ia mengatakan, sekarang ekonomi Indonesia masih ekspansi. Purbaya mengaku belum melihat gangguan dari aktivitas ekonomi dalam negeri gara-gara harga yang naik tinggi akibat kenaikan harga minyak dunia.Ia pun meminta agar jangan cepat-cepat memastikan atau menyimpulkan harga minyak dunia akan dibanderol US$100 terus menerus.Purbaya mengatakan ada sejumlah prediksi yang bahkan menyebut harga minyak bisa mencapai US$150 per barel."Kita monitor dari waktu ke waktu dan saya enggak akan terlambat mengambil keputusan kalau diperlukan," ucap Purbaya.Sejauh ini, Purbaya memastikan pemerintah belum memiliki rencana untuk mengubah kebijakan subsidi BBM yang akan berdampak pada kenaikan harga Pertalite dan Solar.====[4] (dhz/sfr) References^ (BBM) bersubsidi (www.cnnindonesia.com)^ Pertalite (www.cnnindonesia.com)^ harga minyak mentah (www.cnnindonesia.com)^ ==== (www.cnnindonesia.com)Sumber Share this post Link to post Share on other sites