Jump to content
FJB - Forum Jual Beli Indonesia

Mega Mendung di Sepatuku....


Recommended Posts

Mega Mendung di Sepatuku....

KOMPAS.com - Sekumpulan mega putih dengan latar biru tua tampak cantik berarak. Mega-mega itu hadir di seluruh permukaan sepasang sepatu kasual bertali dengan sol datar. Terlihat unik dan cantik membalut kaki.  

Memadukan batik dengan kulit sebagai bahan sepatu bukan sekadar menciptakan keunikan. Namun, lebih jauh membantu produsennya bertahan di tengah kepungan serbuan produk impor dan tuntutan kreativitas yang semakin tinggi. Setidaknya ini yang diungkapkan Shina (44) dan Agnes L Hussen.

Shina (44), produsen sepatu berlabel ”be patient”, sebenarnya belum genap empat tahun memproduksi sepatu batik. Namun, volume produksi sepatu batiknya ternyata mendominasi hingga 85 persen total produksi yang rata-rata mencapai 1.000 pasang per bulan.

Demikian pula dengan Agnes yang mampu memproduksi 2.000 pasang sepatu batik per bulan dengan label ”Vote” dan ”Absolutee”. Sepatu buatannya lebih banyak untuk pesta, resepsi, dan sejenisnya. Kecepatan mengikuti tren menjadi kunci.

Koleksi sepatu batik yang ditawarkan Shina beragam, mulai dari sepatu bersol datar, bersol tebal, berhak tinggi, hingga sepatu bot. Aneka motif batik dia hadirkan bersama sentuhan kulit kambing, domba, dan sapi.

Adapun Agnes menjatuhkan pilihan pada model kasual yang dianggapnya belum banyak digarap meski sebenarnya untuk sepatu nonbatik ia justru memproduksi sepatu pesta. Ia menggunakan kain batik dengan motif dan warna yang sedang digemari, seperti kuning, merah muda, hijau, dan biru cerah. ”Saya memilih model sepatu yang kasual karena untuk sepatu pesta atau bot rasanya sudah banyak yang membuat,” kata Agnes.

Sepatu-sepatu ”be patient” dari Shina, selain muncul melalui pameran demi pameran, juga hadir di pusat perbelanjaan Sarinah lantai 1, Jalan Thamrin, Jakarta. Shina mulai membuat sepatu pada tahun 2003 menuruti kata hatinya untuk terjun di bidang ini. Padahal saat itu ia masih menggeluti bisnis pembuatan kotak kemasan, antara lain kotak sepatu.

Hampir berbarengan Agnes juga merintis produksi sepatunya 11 tahun lalu. Semula ia juga hanya memproduksi sepatu dari kulit sintetis. Baru setahun lalu ia mulai memproduksi sepatu batik karena melihat sepatu jenis ini semakin digemari. Sepatu batik juga mampu bersaing dengan sepatu-sepatu impor karena keunikannya. ”Selama masih ada kebijakan pegawai pakai batik, saya yakin sepatu batik akan bertahan bahkan semakin berkembang,” kata Agnes.

Dari coba-coba

Shina fanatik pada sepatu yang nyaman meski harganya lebih mahal. Ia kadang-kadang kesulitan menemukan sepatu keren tetapi nyaman. Shina kemudian coba-coba memesan ke sebuah bengkel sepatu dengan model yang ia bawa, tetapi menekankan sepatu pesanannya harus nyaman. Ia ingin orang semakin mudah menemukan sepatu cantik dan nyaman di pasaran. Sepatu-sepatu yang sudah jadi lantas ia tawarkan kepada teman-temannya. Ternyata responsnya positif.

Hanya berjalan empat bulan pemilik bengkel mendorong Shina memproduksi sendiri sepatu-sepatunya. Kebetulan sang pemilik bengkel kewalahan menerima pesanan dari para pelanggannya, termasuk Shina. Pemilik bengkel lalu merekomendasikan seorang pekerjanya yang belum lama keluar.

Akhirnya Shina memulai produksi sepatu di rumah kontrakan yang lokasinya bersebelahan dengan rumah tinggalnya di Pulomas, Jakarta Timur. Dari seorang pekerja lalu bertambah menjadi tiga, lima, lalu 10 orang dalam dua bulan. ”Awalnya hanya mau membantu tukang sepatu yang direkomendasikan kepada saya karena katanya istrinya sedang hamil dan sakit. Ternyata usaha ini bisa berkembang,” kata Shina.

Semula ia hanya memproduksi sepatu-sepatu dari kulit sintetis. Tiga tahun kemudian ia memulai produksi dengan bahan kulit binatang, seperti sapi, domba, dan kambing. Sepatu batik mulai dibuatnya pada tahun 2009 menggunakan bahan batik print dan cap. Batik tulis digunakan berdasarkan pesanan. Selain batik, Shina juga menggunakan kain tenun.

Berkat pameran

Usaha Shina bukan tanpa kendala. Setahun pertama, ia hanya mampu berproduksi tanpa tahu harus ke mana memasarkan sepatu-sepatunya selain dari tangan ke tangan. Ribuan pasang sepatu pun menumpuk. Beruntung pada tahun 2014 ia mulai mengikuti pameran atas dukungan sebuah BUMN yang menjadi ”bapak asuh” usahanya. Bukan saja dagangannya ludes, labelnya juga mulai dikenal orang. Sepatunya diminta ikut pameran di Sarinah. Karena responsnya bagus, hingga kini produknya tetap mendapat tempat di sana.

”Penjualan utama saya dari pameran. Dalam sebulan bisa 2-3 kali ikut pameran di sejumlah daerah. ”Ada stan yang saya sewa sendiri, ada yang gratis karena menjadi anak asuh sebuah perusahaan,” kata Shina yang sejak 2008 total menekuni bisnis sepatunya.

Selain berani meninggalkan bisnis sebelumnya, Shina mampu membeli rumah kontrakan yang dijadikan tempat produksi sepatu. Ia menekuni usaha ini bersama sang suami, Lico Hatma Gandhanto.

Agnes juga memanfaatkan pameran untuk mempromosikan dan mendongkrak penjualan sepatu batiknya. Ia juga memiliki gerai-gerai di berbagai toko serba ada di Jakarta, Lampung, Yogyakarta, Palembang, Semarang, dan Bali. Agnes yang tinggal di Kelapa Gading Permai, Jakarta, kini mempekerjakan 20 orang. Sebagian dari mereka mengerjakan pembuatan sepatu di rumah masing-masing. Harga sepatunya yang merupakan kombinasi kain batik dan kulit sintetis ini dibanderol mulai dari Rp 279.000 hingga Rp 299.000 per pasang.

(Sri Rejeki)   

Sumber: Kompas Cetak

Editor :

Dini

 

p-89EKCgBk8MZdE.gif

 

Sumber

Link to post
Share on other sites

Komentar

Isi komentar anda sebelum mendaftar. Jika anda sudah mendaftar, ->login<- sekarang untuk mengomentari menggunakan akun anda.

Guest
Komentari...

×   Pasted as rich text.   Paste as plain text instead

  Only 75 emoji are allowed.

×   Your link has been automatically embedded.   Display as a link instead

×   Draft konten dipulihkan..   Hapus draft

×   You cannot paste images directly. Upload or insert images from URL.

×
×
  • Create New...