Jump to content
FJB - Forum Jual Beli Indonesia

Archived

This topic is now archived and is closed to further replies.

Parno

BISNIS PROPERTI: Perkembangan Kian Kondusif, Saatnya Investasi

Recommended Posts

JAKARTA: Desakan kalangan pengembang supaya pemerintah mempermudah regulasi kepemilikan properti bagi warga asing ternyata masuk akal.

 

Memang, perkembangan properti Indonesia pada tahun ini lebih baik daripada negara-negara di Asia Pasifik lainnya.

 

Di sektor properti mewah misalnya, lembaga riset properti Jones Lang Lasalle mencatat sepanjang kuartal II/2012 lonjakan harga di Jakarta mencapai 19,2%, tertinggi di regional Asia Pasifik.

 

Padahal di periode yang sama, harga properti mewah di negara-negara regional itu lainnya seperti Hong Kong, Singapura, Shanghai, dan Beijing turun hingga 8%. Penurunan ini rata-rata diakibatkan oleh pengetatan regulasi oleh pemerintah masing-masing negara untuk mendinginkan pasarnya.

 

Di sektor perkantoran, Jakarta lagi-lagi menunjukkan kecenderungan yang berlawanan dengan para tetangganya. Bersama Beijing dan Shanghai, ibukota Indonesia itu diprediksi mencatat pertumbuhan tarif sewa ruang perkantoran paling tinggi di Asia Pasifik sepanjang tahun ini, yakni hingga 26%.

 

Lembaga riset properti DTZ merinci  tarif sewa ruang kantor di Jakarta pada kuartal II/2012 saja sudah mencapai Rp152.281 per m2 tiap bulannya, naik 12,5% dibandingkan dengan periode sebelumnya yang hanya Rp135.360 per m2 per bulan.

 

“Tarif sewa ruang kantor Jakarta diperkirakan akan terus terus meningkat, tumbuh sebesar 26% pada tahun 2012 secara keseluruhan. Pertumbuhan dua digit akan berlanjut ke tahun 2013, didukung oleh permintaan yang solid dan pasokan baru yang sangat rendah,” terang laporan bertajuk DTZ Property Times Asia Pacific Q2/2012 itu.

 

Jika tarif sewa Jakarta, Beijing dan Shanghai diperkirakan terus meningkat, tidak demikian dengan Hongkong dan Singapura. Para penyewa ruang kantor di wilayah premium dua kota tersebut masih akan menikmati penurunan tarif sewa pada semester II/2012.

 

Meskipun demikian, penurunan tarif sewa di Hongkong perlahan mulai melambat dan bersiap untuk rebound tahun depan, seiring dengan adanya pengetatan suplai ruang kantor sewa baru selama masa koreksi tarif ini.

 

Sedangkan Singapura,  dimana harga sewa perdana menurun 3% di kuartal II/2012, diperkirakan penurunan lebih lanjut pada semester II/2012, mengingat tingkat kekosongan ruang kantor masih naik. Selain Singapura, tempat lain di Asia Tenggara yang diprediksi mengalami koreksi tarif sewa kantor adalah Kuala Lumpur, Malaysia.

 

Andy K. Natanael, Chief Operating Officer (COO) Urban Development PT Modernland Realty Tbk, menuturkan booming properti Indonesia saat ini dipacu kondusifnya ekonomi yang melahirkan orang kaya baru. Mereka cenderung memilih investasi di sektor yang dianggap aman, yakni properti.

 

Lagipula, menurutnya, harga properti di Indonesia relatif paling murah dibandingkan dengan negara Asia lainnya, sehingga rentang pertumbuhan harganya bisa lebih besar.

 

Saatnya Investasi?

 

Dengan kondisi demikian, apakah ini saat yang tepat bagi para investor untuk menyalurkan dananya ke sektor real estate Indonesia? Sepertinya, masih banyak yang harus dipertimbangkan.

 

Industri properti Indonesia dari 2013 ke 2014 diperkirakan hanya tumbuh 7%,  lebih lambat dibandingkan dengan perkiraan untuk periode 2012-2013 yang sampai 36%.

 

Lembaga riset Morgan Stanley memprediksi sepanjang 2012, pertumbuhan industri properti Indonesia tertunjang oleh kenaikan harga maupun volume produk dari para pengembang.

 

Namun, tahun depan kemungkinan hanya ditunjang rerata kenaikan harga jual karena stok mulai terkendala lahan yang makin terbatas.

 

Hasan Pamudji, Senior Research Manager Knight Frank Indonesia, secara teoritis perlambatan ini merupakan bagian dari siklus properti setiap tahun, yang dipengaruhi oleh banyak faktor terutama kondisi ekonomi makro dan sentimen dunia usaha.

 

“Kebutuhan akan tetap ada, terutama untuk hunian. Namun, ada banyak ketidakpastian pada tahun 2013, mulai dari kondisi ekonomi global hingga penundaan pembelian properti akibat kebijakan loan to value maksimal 70% dari Bank Indonesia,” ujarnya.

 

Menurutnya, walaupun perekonomian Indonesia banyak ditopang oleh kekuatan domestik, masih ada kemungkinan terpengaruh krisis ekonomi global, sebab motor penggerak ekonomi Asia, yakni China dan India juga mulai mengalami perlambatan di sektor properti.

 

Saat ini, dia menambahkan, Indonesia masih dilirik oleh para investor asing di sektor properti karena menawarkan imbal hasil paling tinggi di Asia Pasifik. Tetapi, ketika krisis di AS dan Eropa mulai membaik, bisa jadi investor juga melirik ke sana.

 

“Kalau soal lahan makin terbatas, memang di daerah lain lahan masih banyak tersedia, tapi bagaimanapun motor properti Indonesia masih terfokus di Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi),” terang Hasan.

 

Direktur Indonesia Property Watch Ali Tranghanda juga mengatakan investor yang ingin masuk ke sektor properti pada tahun depan harus hati-hati. Sebab, indikasi perlambatan terlihat pada tahun lalu dimana pengembang mulai mengerem kenaikan harga jual yang memang sudah tinggi.

 

Merujuk pada data Bank Indonesia pada kuartal II/2012 penjualan rumah primer turun 10%-12%, sekunder naik 15% dan diperkirakan terus naik pada semester kedua tahun ini karena konsumen beralih membeli rumah sekunder. Namun, investasi di sektor properti dinilai tetap menguntungkan apabila investor lebih mengarah ke investasi jangka panjang 5 tahun hingga 10 tahun.

 

Jadi, masih tertarik berinvestasi di sektor properti? (bas)

 

 

p-89EKCgBk8MZdE.gif

 

Sumber

Share this post


Link to post
Share on other sites

×
×
  • Create New...