Jump to content
FJB - Forum Jual Beli Indonesia

Archived

This topic is now archived and is closed to further replies.

Parno

EKONOMI SUMUT: Pertumbuhan manufaktur kuartal II turun 4,23%

Recommended Posts

MEDAN: Pertumbuhan produk industri manufaktur mikro dan kecil triwulan II/2012 di Sumut mengalami penurunan sekitar 4,23% dibandingkan dengan periode sama tahun lalu.

 

Kepala Seksi Diseminasi dan Layanan Statistik Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatra Utara Pendi Dewanto mengakui adanya penurunan produk industri manufaktur mikro dan kecil di daerah ini terutama karena menurunnya produksi industri pengolahan tembakau sebesar 22,51%.

 

Kemudian industri kertas dan barang dari kertas 21,83% industri barang bukan galian logam 17,43%, industri pengolahan lainnya 14,53%, industri minuman 14,35%, industri karet dan barang dari karet turun sebesar 8,56%.

 

“Jenis industri mikro dan kecil tersebut selama ini cukup signifikan dalam menunjang pertumbuhan produksi  industri manufaktur mikro dan kecil di daerah ini,” ujarnya menjawab Bisnis di Medan, Jumat (3/8).

 

Menurut dia,  menurunnya produksi industri manufaktur mikro dan kecil dipicu turunnya permintaan dari konsumen dan sulitnya bahan baku terutama untuk industri yang sifatnya musiman.

 

Jika dibandingkan dengan pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil secara nasional, kata dia, pertumbuhan industri manufaktur mikro dan kecil di Sumut turun 4,23% sedangkan nasional naik 2,11%.

 

“Ini mencerminkan bahwa kinerja industri manufaktur mikro dan kecil di Sumut lebih rendah dibandingkan dengan nasional,” tandasnya.

 

Sementara itu, Mursimin, seorang pelaku industri manufaktur mikro di Medan mengakui perusahaan yang dipimpinnya kekurangan bahan baku untuk menghasilkan berbagai produk seperti kran air.

 

“Bahan bakunya sangat sulit, sehingga produksi terpaksa dibatasi,” tuturnya tanpa menyebutkan volume.

 

Dia menilai banyak kebijakan pemerintah yang kurang mendukung pengembangan industri manufaktur mikro dan kecil a.l. larangan impor bahan baku besi bekas serta besarnya pungutan tak resmi yang dibebankan kepada pelaku industri kecil dan mikro.

 

Dia mencontohkan, biaya mengurus perizinan dari izin gangguan hingga perusahaan beroperasi membutuhkan biaya relatif besar. Dengan demikian, paparnya, banyak pengusaha mikro dan kecil tumbang sebelum beroperasi optimal.

 

Jargon pemerintah membantu pelaku usaha mikro dan kecil, paparnya, lebih banyak hanya dibibir saja. Pada praktinya, kata dia, pengusaha kecil dan mikro menjerit tanpa pernah didengarkan pemerintah.

 

“Kalau ada usaha kecil yang maju, semua berlomba untuk menunjukkan pada umum seolah-olah merupakan buah dari pembinaan pemerintah. Padahal, tanpa bantuan pemerintah usaha itu sebenarnya sudah jalan, namun diklaim sebagai bantuan pemerintah,” tuturnya.

 

Coba pehatikan perusahaan yang dibantu BUMN lewat program mitra binaan, umumnya mereka incar yang sudah jalan dan mengekspor produk. “Usaha seperti itulah yang diberikan bantuan yang jumlahnya relatif kecil.

 

Tanpa bantuan BUMN pun, sebenarnya usaha seperti itu sudah jalan dan memang berkembang. Tapi, diklaim berkat bantuan BUMN.”

 

Demikian juga bantuan kredit perbankan yang diklaim sudah menyentuh usaha mikro dan kecil. Menurut dia, semua adalah kamuflase dan pembohongan terhadap masyarakat.

 

“Coba Anda lihat. Pengusaha konveksi diberikan pinjaman tanpa agunan Rp1 juta per orang. Untuk menambah stok barang menjelang lebaran saja tidak cukup. Padahal bunga yang dibebankan mencapai 2%-3% per bulan.

 

“Ini namanya pemerasan gaya baru perbankan. Penguaha lebih mengarah kerja bakti untuk menambah pemasukan perbankan,” tuturnya. (Bsi)

 

 

p-89EKCgBk8MZdE.gif

 

Sumber

Share this post


Link to post
Share on other sites

×
×
  • Create New...