Jump to content
FJB - Forum Jual Beli Indonesia

Archived

This topic is now archived and is closed to further replies.

Parno

SIDAK PASAR: Kenaikan harga daging dianggap bukan karena faktor puasa

Recommended Posts

DENPASAR: Disperindag Provinsi Bali dan Kota Denpasar melakukan inspeksi gabungan mendadak di Pasar Kreneng dan Pasar Badung guna memantau perkembangan harga sembilan kebutuhan pokok atau Sembako menjelang puasa dan lebaran.

 

I Wayan Gatra, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Denpasar, menjelaskan dari hasil inspeksi mendadak atau Sidak tersebut tidak terlihat korelasi antara faktor puasa dan lebaran dengan fluktuasi harga Sembako.

 

“Kalaupun terjadi kenaikan harga daging, itu tidak terkait langsung dengan waktu menjelang puasa. Memang harga daging naik dari Rp55.000perkg menjadi Rp60.000 per kg. Kenaikannya masih di bawah 10%, belum begitu ekstrim dan itu kenaikan biasa karena [masalah] pasokan saja,” ujarnya usai Sidak, Kamis (19/7).

 

Menurut Gatra, ancaman kenaikan harga Sembako menjelang puasa dan lebaran tidak perlu dikhawatirkan masyarakat Bali, khususnya warga Denpasar, selama distribusi atau pasokan barang tidak terganggu.

 

Berdasarkan pengalaman pada tahun-tahun sebelumnya, justru permintaan barang di saat lebaran di Pulau Dewata mengalami penurunan karena masyoritas umat muslim keluar dari Bali pada saat lebaran untuk merayakan di kampung halamannya.

 

“Jadi hukum pasar itu jelas, kalau pasokan berkurang, maka harga naik. Sebaliknya untuk permintaan,” tegasnya.

 

Berdasarkan pemantauan ada sejumlah bahan pokok yang mengalami kenaikan harga di dua pasar besar Kota Denpasar tersebut, a.l. beras super harga per kg naik 5,8% menjadi Rp9.000 dari sehari sebelumnya Rp8.500.

 

Kenaikan signifikan terjadi pada bawang putih, yakni mencapai 50% dalam dua pekan terakhir. Harga bawang putih per kg pada hari ini Rp18.000, meningkat dibandingkan posisi kemarin Rp13.000 dan pekan pertama Juli Rp9.000.

 

Demikian pula dengan harga cabai, di mana untuk semua jenis mengalami kenaikan bervariasi dibandingkan posisi harga kemarin.

 

Harga riil cabai keriting naik 20%, dari Rp25.000 per kg menjadi Rp30.000 per kg. Sementara harga cabai besar naik 33% menjadi Rp24.000 per kg dari Rp18.000.

 

Posisi harga cabai yang disampaikan pedagang tersebut berbeda dengan catatan Disperindag Provinsi Bali yang melaporkan harga cabai besar dan cabai kecil di sejumlah pasar tidak mengalami perubahan dalam dua pekan terakhir, yakni bertahan masing-masing Rp15.000 dan Rp16.000 per kg.

 

“Untuk hasil pertanian itu tergantung alam. Kalau hujan, pasti kenaikan harga tomat dan cabai tidak bisa dihindari,” jelas Gatra.

 

Sayuran Impor

Gatra mengakui masih marak penjualan produk-produk hortikultura impor, seperti wortel dan jeruk, di Pasar Kreneng dan Pasar Badung.

 

Kendati harga keduanya lebih mahal dibandingkan produk lokal, pedagang memilih menjualnya karena kurangnya pasokan dari domestik.

 

“Itu tergantung dari sisi produksi [dalam negeri].Kalau produksinya tidak memenuhi syarat atau tidak memenuhi kebutuhan dari masyarakat, impor itu pasti terjadi. Tetapi kami akan coba rem barang-barang impor, terutama buah dan sayur-sayuran agar hasil tani masyarakat kita bisa masuk pasar. Bulan ini sudah mulai kebijakan itu,” tandasnya. (Bsi)

 

 

p-89EKCgBk8MZdE.gif

 

Sumber

Share this post


Link to post
Share on other sites

×
×
  • Create New...