bot 0 Posted kemarin, jam 09:45 Bandung, CNBC Indonesia-Ketidakpastian global yang semakin tinggi membawa dolar Amerika Serikat (AS) menguat terhadap mata uang banyak negara, termasuk rupiah. Beberapa hari lalu, rupiah bahkan menembus level Rp17.300 per dolar AS atau terlemah sepanjang masa. Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter (DKEM) BI Juli Budi Winantya menjelaskan, ketidakpastian ini dipicu oleh perang antara Amerika Serikat dan Iran yang semakin panas. Banyak analis memperkirakan perang akan berlangsung lama, sehingga prospek ekonomi juga semakin memburuk. "Kondisi perang memperburuk situasi ekonomi sekarang dan ke depan," terangnya dalam diskusi bersama media di Bandung, Jumat (24/4/2026) Dampak perang mengganggu jalur logistik dunia pasca Selat Hormuz ditutup. Harga minyak dunia juga melonjak drastis yang diikuti oleh beberapa barang dan jasa lainnya, membuat inflasi dunia diperkirakan meningkat dari 4,1% menjadi 4,2% "Maka dari itu ekonomi dunia ini akan lebih lambat dari perkiraan semula, dari 3,1% jadi 3%," ujarnya. Masalah bergeser pada sektor keuangan. Ruang pelonggaran moneter global menjadi lebih sempit. Suku bunga acuan AS atau Fed Fund Rate diperkirakan tetap hingga akhir tahun. Belanja pertahanan AS melonjak membuat pelebaran defisit dan mendorong peningkatan yield obligasi. "Ini yang membuat apresiasi dolar, DXY meningkat hampir ke semua mata uang," terang Juli. Indeks Dolar AS (DXY) sempat nyaris menyentuh 100. Sementara itu rupiah menembus level Rp17.300. Meski demikian, Juli menyebut pelemahan yang dialami rupiah tidak seburuk mata uang negara lain. "Nilai tukar rupiah dibandingkan negara lain masih stabil cukup terjaga,"tegasnya. Merujuk data Refinitiv, rupiah mengakhiri perdagangan hari ini di zona hijau dengan apresiasi sebesar 0,52% ke level Rp17.190/US$. Penguatan ini sekaligus membawa rupiah kembali turun ke bawah level psikologis Rp17.200/US$ Respons Bank Sentral, kata Juli adalah dengan mempertahankan suku bunga BI-Rate sebesar 4,75%. Kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah juga terus diperkuat dengan intervensi di pasar off-shore melalui NDF dan intervensi di pasar domestik melalui pasar spot, DNDF, serta pembelian SBN di pasar sekunder, didukung dengan penguatan kebijakan transaksi pasar valas. Di samping itu, BI terus mengoptimalkan berbagai instrumen moneter SRBI. Pada 21 April 2026 SRBI tercatat sebesar Rp885,41 triliun, antara lain didukung dengan kepemilikan nonresiden yang mencapai Rp165,98 triliun (18,75% dari total outstanding). Di tengah gejolak tersebut, BI meyakinkan ekonomi nasional masih cukup kuat. Pada 2026 diperkirakan 4,9-5,7% dengan inflasi terjaga 2,5 plus minus 1%. Ini didorong oleh konsumsi rumah tangga yang terjaga, neraca dagang yang surplus dan cadangan devisa yang memadai. (mij/mij) Add as a preferred source on Google [1] [Gambas:Video CNBC][2] References^ Add as a preferred source on Google (www.cnbcindonesia.com)^ [Gambas:Video CNBC] (www.cnbcindonesia.com)Sumber Share this post Link to post Share on other sites