bot 0 Posted 7 jam yg lalu. Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten "raja tekstil" PT Sri Rejeki Isman Tbk. (SRIL) alias Sritex menjadi salah satu dari 18 emiten yang diputuskan delisting dari pasar modal RI. Sritex "ditendang" PT Bursa Efek Indonesia (BEI), karena mengalami pailit. SRIL beserta 17 emiten lainnya akan resmi hengkang dari BEI pada 10 November mendatang. Keputusan bursa ini merujuk kriteria delisting yang tertera pada Pengumuman Bursa terkait Penghentian Sementara, Pengumuman Bursa nomor Peng-00003/BEI.PLP/12-2025 tanggal 30 Desember 2025 perihal Potensi Delisting Perusahaan Tercatat; dan berdasarkan Peraturan Bursa Nomor I-N tentang Pembatalan Pencatatan (Delisting) dan Pencatatan Kembali (Relisting) Saham di Bursa. Selanjutnya, sesuai dengan Peraturan Bursa No. I-N, perusahaan tercatat harus melaksanakan buyback saham. BEI menegaskan bahwa perusahaan tercatat yang telah diputuskan delisting tetap memiliki kewajiban sebagai perusahaan tercatat, sampai dilakukannya efektif delisting sebagaimana ditetapkan oleh bursa. "Persetujuan penghapusan pencatatan Efek Perseroan ini tidak menghapuskan kewajiban-kewajiban yang belum dipenuhi oleh Perseroan kepada Bursa," kata BEI dam pengumumannya. BEI menetapkan tanggal 10 Mei 2026 menjadi batas penyampaian Keterbukaan Informasi buyback dan mulai pelaksanaan buyback oleh para emiten delisting. Sementara masa pelaksanaan buyback emiten yang delisting ditetapkan mulai 11 Mei hingga 9 November 2026. Oleh karena itu, investor yang "nyangkut" di saham-saham delisting termasuk SRIL, harus mencermati keterbukaan informasi masing-masing perusahaan tersebut. Sritex sendiri memiliki rekam jejak panjang di pasar modal. Perusahaan itu menjadi salah satu pemain besar di industri tekstil nasional sebelum akhirnya terjerat masalah keuangan. Lantas tak heran jika banyak investor yang memegang SRIL. Berdasarkan Laporan Bulanan Registrasi Pemegang Efek per 31 Januari 2025, jumlah kepemilikan masyarakat di SRIL sebanyak 8.158.734.000 atau setara 39,89%. Adapun jumlah investor hingga akhir Maret 2026 mencapai 45.866 pemegang saham. Di antaranya, ada investor kakap Lo Kheng Hong. Hal ini terungkap usai PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) membuka data kepemilikan saham di atas 1%. Per 27 Februari 2026, pria yang akrab disapa Pak Lo itu tercatat menggenggam saham Sritex sebanyak 209.339.500 unit sekitar 1,02% dari saham yang beredar di publik. Dengan harga saham SRIL sebesar 146 per saham, kepemilikan Pak Lo di SRIL setara dengan dana Rp30,56 miliar dana milik LKH yang saat ini tersangkut di Sritex. (fsd/fsd) [Gambas:Video CNBC][1] References^ [Gambas:Video CNBC] (www.cnbcindonesia.com)Sumber Share this post Link to post Share on other sites