bot 0 Posted 11 jam yg lalu. Jakarta, CNBC Indonesia - Perang Iran-Amerika Serikat (AS) memicu penutupan Selat Hormuz. Hal ini meningkatkan risiko bagi asuransi umum yang memberikan proteksi bagi risiko klaim perdagangan internasional dan pelayaran. Direktur Utama Asuransi Asei Dody Dalimunthe menyebut premi asuransi perang berpotensi naik hingga tiga kali lipat di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global. Meski demikian, sebagian besar pelaku industri lebih memilih untuk bersikap selektif dalam memilih risiko ketimbang langsung menaikkan harga premi. Dengan banyaknya perusaha yang merubah rute akibat penutupan Selat Hormuz, terjadi adanya keterlambatan pengiriman barang. Keterlambatan ini kemudian berimbas pada sektor asuransi perdagangan, terutama terkait kepastian pembayaran dalam transaksi ekspor-impor. "Nah delay ini impact-nya ke asuransi perdagangan. Karena barang yang harusnya diterima itu sebulan bisa molor ke sana. Sehingga di luar negeri yang mungkin sudah ada deal dengan pembeli di sana bisa-bisa dia pembelinya menunggu kelamaan dan nggak jadi beli. Jadi barang menumpuk di sana, dan dia nggak bisa bayar ke si ekspor itu," jelas Dody ditemui wartawan di Jakarta, Senin, (13/4/2026). Masih dari pemain pelat merah, Presiden Direktur Tugu Insurance Adi Pramana tak menampik pihaknya mengantisipasi adanya peningkatan risiko atas dampak perang ini. Apalagi, TUGU sebagai anak usaha Pertamina ikut memproteksi kapal tanker minyak dan gas (migas) milik Pertamina. "Ini memang untuk perang ini ya pasti ada sedikit peningkatan risiko jadi ada sedikit penambahan klaimnya itu tapi kita usahakan bahwa kami benar-benar support jadi ya sudah kita mungkin full effort lah untuk membawa kapal tersebut kembali ke Indonesia," ujar Adi dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat, (10/4/2026). Meski hingga saat ini belum ada klaim, namun segmen asuransi offshore menjadi salah satu kontributor terbesar dari Gross Written Premium (GWP) TUGU selama tahun 2025. Diketahui, asuransi offshore berkontribusi terhadap 10,52% dari total GWP sebesar Rp6,37 triliun. Belum lama ini, 2 Kapal Tanker minyak milik PT Pertamina (Persero) masih tertahan di Selat Hormuz. Minggu lalu, pemerintah sedang melakukan komunikasi intens dengan pihak Iran agar kapal tersebut bisa segera ke luar. "Lagi dilakukan komunikasi yang intens terkait dengan dua kapal itu. Insya Allah doain bisa cepat. Ada jeda 2 Minggu daripada eskalasi di Timur Tengah. Mudah-mudahan bisa cepat selesai," terang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia saat Konfrensi Pers di Istana Negara, Rabu (8/4/2026). Bahlil menekankan, bahwa 2 kapal tanker milik Pertamina itu membawa minyak mentah atau crude bukan impor produk jadi yakni Bahan Bakar Minyak (BBM). "Tinggal crudenya saja sekitar 20%-25% (Impor minyak dari timur Tengah)" tegas Bahlil. (fsd/fsd) [Gambas:Video CNBC][1] References^ [Gambas:Video CNBC] (www.cnbcindonesia.com)Sumber Share this post Link to post Share on other sites