bot 0 Posted 13 jam yg lalu. Jakarta, CNBC Indonesia - Direktur CORE Indonesia Mohammad Faisal mengungkapkan kondisi Indonesia masih lebih baik dibandingkan negara lain, dalam menghadapi perang Amerika Serikat dengan Iran. Dari sisi harga komoditas, negara-negara dunia harus mempersiapkan diri pada kenaikan harga minyak. Apalagi dengan gagalnya gencatan senjata, tekanan masih akan dirasakan ke depannya. Menurutnya Indonesia masih lebih baik dibandingkan negara lainnya, karena tingkat ketergantungannya tidak setinggi Filipina dan Malaysia. "Ketergantungan terhadap Gulf Country (negara teluk), kita masih lebih baik. Filipina 90%, Malaysia 70%, Indonesia 20% ini karena masih impor dari negara-negara Afrika. Dalam konteks ketahanan energi, kita masih jauh lebih baik dari negara tetangga," ungkap Faisal dalam Central Banking Forum, dengan tema Ketahanan Ekonomi Indonesia dalam Menghadapi Volatilitas Nilai Tukar Global, di Jakarta, Senin (13/4/2026). Selain itu, Indonesia juga gencar melakukan percepatan transisi energi, sehingga tidak hanya mengandalkan minyak. Dia menilai transisi energi harus lebih banyak didorong, termasuk pemanfaatan batu bara. Meski aman dari sisi energi, Faisal menyoroti potensi peningkatan harga yang cukup krusial, salah satunya pangan. Peningkatan harga pupuk misalnya, bisa berimbas pada komoditas pangan, seperti gula dan kedelai. "Sebelum perang sudah meningkat, kemudian setelah Januari meningkat lebih tinggi. Sehingga bisa diredam dengan menjaga stabilitas nilai tukar sangat penting," ungkapnya. Dari sisi nilai tukar rupiah, meski terjadi volatilitas, Indonesia masih bisa meredam dampaknya karena cadangan devisa masih cukup. "Yang cukup diapresiasi adalah nilai tukar selama ini tanpa menaikkan suku bunga BI Rate masih dipertahankan. Ini hal positif untuk stabilitas nilai tukar ke depan," kata Faisal. (rah/rah) [Gambas:Video CNBC][1] References^ [Gambas:Video CNBC] (www.cnbcindonesia.com)Sumber Share this post Link to post Share on other sites