Jump to content
FJB - Forum Jual Beli Indonesia
Masuk untuk mengikuti  
bot

Harga Plastik Naik 60 Persen di Surabaya, UMKM Didesak Ganti Kemasan

Recommended Posts

Jakarta, CNN Indonesia --

Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya[1] mendesak para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM[2]) untuk segera melakukan inovasi kemasan dengan meninggalkan bahan plastik. Langkah ini diambil menyusul lonjakan harga plastik[3] di pasar yang mencapai 60 persen akibat gejolak pasokan global.

Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil, dan Menengah serta Perdagangan (Dinkopumdag) Kota Surabaya Mia Santi Dewi mengatakan, kenaikan harga ini dipicu oleh naiknya harga minyak yang menjadi bahan baku plastik, akibat konflik di Timur Tengah.

"Memang kenaikan harga plastik sekarang ini cukup signifikan ya, sekitar 30 sampai 60 persen. Jadi memang dipacu pasokan global dan harga energi di dunia yang tidak bisa kita hindari," kata Mia, Selasa (7/4).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mia mengatakan, ketergantungan pada plastik saat ini menjadi beban berat bagi biaya produksi. Untuk menjaga stabilitas harga produk di tingkat konsumen, pihaknya secara masif melakukan pendampingan agar UMKM beralih ke bahan alternatif yang lebih ekonomis dan ramah lingkungan.

"Dinas Koperasi UMKM serta Perdagangan Kota Surabaya sudah melakukan beberapa langkah antisipasi, monitoring harga dan ketersediaan secara rutin. Kemudian melakukan pendampingan pada UMKM di lapangan," katanya.

Ia menekankan, tanpa inovasi kemasan, pelaku usaha akan terjepit antara kenaikan biaya modal dan penurunan daya beli masyarakat.

[Gambas:Youtube][4]

"Memang terasa dengan perubahan atau kenaikan harga plastik ini, tapi kita melakukan pendampingan UMKM. Antara lain dengan inovasi terhadap kemasan, karena pasti akan berpengaruh dengan harga biaya produksi," ucapnya.

"Jadi kita mencoba mendampingi untuk inovasi kemasan di UKM, tidak lagi dengan plastik, tapi dengan bahan-bahan lain yang bisa menekan biaya produksinya," tambahnya.

Selain mendorong substitusi kemasan, Pemkot Surabaya juga menginstruksikan perubahan pola distribusi. Salah satunya adalah meminimalkan penggunaan kemasan plastik ukuran kecil (sachet) dan beralih ke penjualan kuantitas besar.

"Jadi kalau terkait dengan perdagangan pada umumnya ya mungkin kuantitas jual itu tidak lagi dikemas kecil-kecil. Tapi yang memang paling signifikan itu perubahan kemasan yang harus mulai dilakukan," ujarnya.

Sementara itu, berdasarkan hasil pemantauan di sejumlah toko dan pasar tradisional, Dinkopumdag mengonfirmasi bahwa tren kenaikan harga plastik memang sedang terjadi secara merata.

"Kalau kemarin ke beberapa toko memang ada kenaikan harga. Jadi teman-teman di lapangan juga secara rutin melakukan monitoring harga di pasar," tutur Mia.

Untuk meredam gejolak harga lebih lanjut, Pemkot Surabaya kini tengah mengintervensi rantai pasok dengan menghubungkan pelaku usaha langsung ke distributor utama.

"Kita komunikasi dengan distributor, kemudian kita hubungkan dengan para pedagang atau UMKM kita. Jadi lebih memutus rantai pasoknya supaya gak terlalu panjang," kata dia.

Meski keluhan dari pelaku usaha belum membludak, Mia memastikan langkah antisipatif tetap menjadi prioritas agar roda ekonomi kelas menengah ke bawah di Surabaya tidak terhenti.

"Kita berusaha terus mendampingi, terutama di UMKM, supaya tetap bisa jalan, produksi bisa terus, harga juga tidak naik, supaya daya beli masyarakat juga tidak menurun. Kemudian pendapatan mereka juga tetap stabil," pungkasnya. 

(frd/ins) Add logo.png?v=12.3.2 as a preferred
source on Google
[5]

References

  1. ^ Surabaya (www.cnnindonesia.com)
  2. ^ UMKM (www.cnnindonesia.com)
  3. ^ harga plastik (www.cnnindonesia.com)
  4. ^ [Gambas:Youtube] (www.youtube.com)
  5. ^ Add as a preferred source on Google (www.cnnindonesia.com)

Sumber

Share this post


Link to post
Share on other sites
Masuk untuk mengikuti  

×
×
  • Create New...