bot 0 Posted 1 jam yg lalu. Jakarta, CNN Indonesia -- Ancaman kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM[1]) pada April kian menjadi sorotan di tengah lonjakan harga minyak[2] dunia dan pelemahan nilai tukar rupiah.Kombinasi dua faktor ini dinilai meningkatkan tekanan terhadap biaya energi sehingga memunculkan spekulasi penyesuaian harga BBM dalam waktu dekat.Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira memperkirakan kenaikan harga BBM akan lebih dulu terjadi pada jenis nonsubsidi seiring meningkatnya harga keekonomian. ADVERTISEMENT SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT Ia menyebut harga Pertamax dan Pertamina Dex berpotensi naik sekitar Rp1.500 hingga Rp2.000 per liter atau setara kurang lebih 15 persen. "BBM nonsubsidi diperkirakan naik Rp1.500-2.000 per liter sekitar 15 persen untuk Pertamax dan Pertamina Dex. Jadi kenaikan sampai Rp5.000 per liter sepertinya harus dihindari karena menciptakan inflasi yang berisiko tinggi," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Senin (30/3).Ia mengingatkan kenaikan yang terlalu tinggi berisiko mendorong pergeseran konsumsi ke BBM subsidi yang bisa memicu gangguan pasokan."Kalau naik terlalu tinggi bahaya ke pergeseran BBM subsidi. Nanti muncul penimbunan dan justru ganggu stok BBM bersubsidi seperti Pertalite dan solar subsidi," ujarnya.Menurut Bhima, tekanan terhadap harga BBM tak lepas dari beban fiskal yang semakin berat, terutama jika pemerintah harus terus menahan harga di tengah kenaikan harga minyak global."APBN tanpa realokasi belanja yang besar tidak bisa menanggung selisih harga keekonomian. Atau risikonya memang Pertamina yang menanggung, dengan cashflow yang bleeding," jelasnya.Sementara itu, pengamat pasar keuangan Ibrahim Assuaibi melihat peluang kenaikan BBM, termasuk subsidi, menjadi semakin besar jika tren harga minyak dan kurs rupiah terus berlanjut."Kalau harga minyak mentahnya naik, kemungkinan besar BBM akan dinaikkan, apalagi rupiah melemah. Rupiah kemungkinan besar ini Rp17.100. Ini indikasi, suka tidak suka pemerintah harus menaikkan bahan bakar ini, terutama Pertalite," ujarnya.Ia menambahkan tanpa penyesuaian harga, risiko defisit anggaran akan semakin melebar, sehingga pemerintah kemungkinan perlu mengambil langkah pengetatan."Kalau tidak menaikkan (harga BBM), kemungkinan besar akan ada defisit anggaran yang cukup tajam lagi. Jadi kemungkinan besar pemerintah harus melakukan pengetatan anggaran dengan cara menaikkan harga BBM bersubsidi," katanya.Untuk BBM nonsubsidi, Ibrahim menilai kenaikan hampir tidak terhindarkan, sementara untuk BBM subsidi kemungkinan lebih terbatas namun tetap berdampak luas."Kalau nonsubsidi mah, mau naik selangit pun juga tidak jadi masalah. Yang ditakutkan itu BBM subsidi. Kemungkinan besar dari Rp10 ribu bisa jadi Rp10.500-an (per liter). Tapi Rp500 ini luar biasa dampaknya," jelasnya.Harga minyak dunia melonjak hingga sekitar US$115 per barel di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel. Penutupan Selat Hormuz turut mengganggu pasokan energi global dan mendorong harga naik tajam.Di sisi lain, nilai tukar rupiah melemah mendekati Rp17 ribu per dolar AS, yang memperbesar biaya impor energi. Kondisi ini menambah tekanan terhadap anggaran negara, khususnya untuk subsidi dan kompensasi energi.Hingga akhir Maret 2026, harga BBM di Indonesia masih belum mengalami perubahan sejak penyesuaian terakhir pada awal bulan. Pertalite tetap di Rp10 ribu per liter dan solar subsidi Rp6.800 per liter, sementara BBM nonsubsidi seperti Pertamax berada di kisaran Rp12.300 per liter.Namun, sejumlah negara di Asia Tenggara telah lebih dulu menaikkan harga BBM dalam beberapa pekan terakhir, mengikuti tren kenaikan harga minyak global.====[3] (del/sfr) Add as a preferred source on Google [4] References^ BBM (www.cnnindonesia.com)^ harga minyak (www.cnnindonesia.com)^ ==== (www.cnnindonesia.com)^ Add as a preferred source on Google (www.cnnindonesia.com)Sumber Share this post Link to post Share on other sites