Jump to content
FJB - Forum Jual Beli Indonesia
Masuk untuk mengikuti  
bot

Mendag Waspadai Ekspor RI Bisa Turun Jika Perang Timur Tengah Berlarut

Recommended Posts

Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso [1]menyebut pertumbuhan ekspor[2] Indonesia berpotensi melambat alias turun jika konflik di Timur Tengah[3] terus berlanjut dan tidak kunjung berakhir.

"Kalau kondisinya perang enggak selesai-selesai, ya bisa dampaknya ke ekspor kita. Paling tidak ekspor kita bisa pertumbuhannya bisa lebih rendah daripada tahun lalu. Tapi mudah-mudahan cepat selesai," kata Budi di Kemendag, Jakarta Pusat, Jumat (27/3).

Ia menjelaskan ekspor Indonesia ke kawasan Timur Tengah pada 2025 tercatat sebesar US$9,87 miliar atau setara Rp167,49 triliun (asumsi kurs Rp16.970 per dolar AS) atau sekitar 3,49 persen dari total ekspor nasional.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dari jumlah tersebut, kontribusi terbesar berasal dari Uni Emirat Arab (UEA) sekitar 40 persen, diikuti Arab Saudi 29 persen, dan Iran sekitar 2,5 persen atau setara US$250 juta.

"Ekspor kita ke Timur Tengah tahun 2025 itu kan US$9,87 miliar, atau pangsa pasarnya itu 3,49 persen dari total ekspor kita ke dunia," ujarnya.

Menurut Budi, dampak konflik sejauh ini belum terlalu menekan dari sisi permintaan, melainkan lebih terasa pada aspek logistik. Kenaikan harga minyak serta penutupan sejumlah jalur pelayaran membuat distribusi menjadi lebih panjang dan mahal.

"Dampaknya sebenarnya lebih banyak ke logistik, alat angkutnya. Karena memang harga minyak kan naik. Jadi pengaruhnya ke logistik dan juga salah satunya rute pengalihan. Jadi kan semakin panjang sekarang karena ada beberapa port yang ditutup," jelasnya.

Ia menambahkan meski permintaan dari kawasan Timur Tengah masih berjalan, biaya transportasi menjadi lebih tinggi sehingga menambah beban pelaku usaha.

"Permintaan ekspor ke Timur Tengah memang masih jalan. Ya, cuman itu tadi, cost-nya mungkin lebih tinggi untuk biaya transportasinya," kata Budi.

Di tengah kondisi tersebut, pemerintah masih melihat peluang agar ekspor tetap tumbuh. Salah satunya berasal dari tren kenaikan harga komoditas seperti crude palm oil (CPO) dan batu bara yang berpotensi mendorong nilai ekspor.

Selain itu, pemerintah mendorong pelaku usaha untuk memperluas pasar ke kawasan lain. Negara-negara di Amerika Latin, Asia Tenggara, hingga kawasan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) dinilai dapat menjadi alternatif pasar di tengah perubahan peta perdagangan global akibat konflik geopolitik.

"Kalau kita punya peluang di situ, artinya kita bisa memanfaatkan peluang itu dengan baik, kita sebenarnya bisa masuk ke pasar-pasar itu," ujarnya.

Upaya lain yang dilakukan adalah mendorong efisiensi logistik dalam negeri agar biaya distribusi bisa ditekan dan daya saing ekspor meningkat. Budi menyebut pihaknya juga melakukan koordinasi dengan pelaku usaha dan asosiasi logistik untuk mengurangi hambatan dalam proses ekspor.

Di sisi lain, pemerintah masih menunggu data terbaru untuk menghitung proyeksi dampak lebih lanjut. Namun, Budi menyebut peluang perlambatan tetap terbuka jika konflik berlangsung dalam jangka panjang.

"Kalau lihat sekarang ini kondisi kayak gini bisa saja (ekspor melambat tahun ini), ya mungkin lebih rendah dari tahun lalu bisa saja sih. Tapi kalau ini enggak berhenti ya, dengan catatan ini (perang Timur Tengah) enggak berhenti," kata Budi.

====[4]

(del/pta) Add logo.png?v=12.3.2 as a preferred
source on Google
[5]

References

  1. ^ Budi Santoso (www.cnnindonesia.com)
  2. ^ ekspor (www.cnnindonesia.com)
  3. ^ Timur Tengah (www.cnnindonesia.com)
  4. ^ ==== (www.cnnindonesia.com)
  5. ^ Add as a preferred source on Google (www.cnnindonesia.com)

Sumber

Share this post


Link to post
Share on other sites
Masuk untuk mengikuti  

×
×
  • Create New...