Jump to content
FJB - Forum Jual Beli Indonesia
Masuk untuk mengikuti  
bot

Perang Timur Tengah Ganggu LNG, Asia Beralih ke Batu Bara

Recommended Posts

Jakarta, CNN Indonesia --

Negara-negara Asia dilaporkan mulai beralih ke batu bara[1] untuk menjaga pasokan energi dan menekan biaya di tengah terganggunya pengiriman gas alam cair (LNG) akibat konflik Amerika Serikat dan Israel dengan Iran.

Reuters pada Kamis (19/3) memberitakan perusahaan utilitas di Asia meningkatkan penggunaan pembangkit listrik berbasis batu bara seiring melonjaknya harga LNG dan terhambatnya distribusi melalui Selat Hormuz.

Harga LNG spot di Asia bahkan dilaporkan melonjak dua kali lipat ke level tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Kondisi ini dipicu hampir terhentinya pengiriman melalui Selat Hormuz, serta penghentian ekspor oleh Qatar sebagai eksportir LNG terbesar kedua di dunia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Asia Selatan tingkatkan penggunaan batu bara

Sejumlah negara di Asia Selatan, seperti Bangladesh hingga Pakistan, mulai meningkatkan produksi listrik berbasis batu bara untuk mengatasi krisis pasokan.

Bangladesh tercatat meningkatkan pembangkit listrik berbahan batu bara serta impor listrik berbasis batu bara sepanjang Maret, menurut data pemerintah setempat.

Sedangkan Pakistan berencana meningkatkan penggunaan sumber energi domestik, termasuk batu bara lokal, guna mengurangi ketergantungan pada LNG yang harganya semakin mahal dan tidak stabil.

"Dengan berkurangnya pembangkit berbasis LNG, pembangkit berbahan batu bara domestik dapat meningkatkan produksi, terutama di luar jam puncak," kata Menteri Energi Pakistan Awais Leghari.

====[2]

Analis memperkirakan gangguan pasokan akibat perang akan menekan permintaan LNG di Asia dalam jangka pendek.

Selama hampir satu dekade terakhir, porsi gas alam dalam pembangkit listrik di Asia memang terus menurun, seiring meningkatnya penggunaan energi terbarukan.

Namun, lonjakan harga LNG akibat konflik dinilai akan semakin mempercepat penurunan permintaan tersebut.

Konsultan energi Wood Mackenzie memperkirakan pertumbuhan permintaan LNG Asia pada 2026 akan turun signifikan. Proyeksi impor bahkan dipangkas menjadi sekitar 5 juta metrik ton dari sebelumnya 12,4 juta ton, dengan asumsi gangguan pasokan berlangsung selama dua bulan.

Lonjakan harga LNG juga berpotensi membebani negara-negara berkembang di Asia, terutama yang bergantung pada impor energi.

Ketua Summit Group Bangladesh, Aziz Khan, menyebut kenaikan harga energi sulit dibebankan ke masyarakat.

"Anda sedang menghancurkan tulang punggung ekonomi negara-negara miskin," ujarnya.

Selain itu, laporan Global Energy Monitor menyebut proyek infrastruktur LNG senilai US$107 miliar di Asia Selatan berisiko tertunda atau dibatalkan akibat tingginya biaya dan keterbatasan jaringan distribusi.

Harga batu bara global juga mengalami kenaikan, dengan patokan utama Asia naik sekitar 13 persen bulan ini. Namun, kenaikan tersebut masih lebih rendah dibanding lonjakan harga LNG.

Meski demikian, impor batu bara diperkirakan tetap terbatas dalam jangka pendek. Negara-negara besar, seperti China, India, Jepang, dan Korea Selatan masih mengandalkan stok yang cukup serta kontrak jangka panjang.

Di sisi lain, krisis ini justru memperkuat argumen untuk mempercepat transisi ke energi terbarukan.

Analis dari lembaga energi IEEFA, Sam Reynolds, menilai ketergantungan pada bahan bakar fosil impor semakin berisiko di tengah gejolak geopolitik.

"Guncangan terbaru kembali membuktikan risiko ketergantungan pada energi fosil impor dan membuka peluang lebih besar bagi energi terbarukan," ujarnya.

Konflik di Timur Tengah kini tidak hanya berdampak pada geopolitik, tetapi juga mulai menggeser peta energi global, terutama di kawasan Asia yang menjadi salah satu konsumen energi terbesar dunia.

(anm/chri) Add logo.png?v=12.3.1 as a preferred
source on Google
[3]

References

  1. ^ batu bara (www.cnnindonesia.com)
  2. ^ ==== (www.cnnindonesia.com)
  3. ^ Add as a preferred source on Google (www.cnnindonesia.com)

Sumber

Share this post


Link to post
Share on other sites
Masuk untuk mengikuti  

×
×
  • Create New...