Jump to content
FJB - Forum Jual Beli Indonesia
Masuk untuk mengikuti  
bot

Harga Minyak Bergerak Liar Bak Roller Coaster

Recommended Posts

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak dunia bergerak liar pada perdagangan Selasa (17/3/2026).

Setelah sempat melonjak tinggi pada pagi hari, harga kini terkoreksi tipis meski masih bertahan di level yang relatif mahal. Pergerakan ini menunjukkan pasar energi global sedang berada dalam fase volatilitas tinggi.

Berdasarkan data Refinitiv, pada pukul 09.10 WIB harga minyak Brent sempat berada di US$103,05 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) mencapai US$95,96 per barel. Namun pada pukul 10.50 WIB, harga mulai terkoreksi tipis.

Tercatat harga Brent turun menjadi US$102,75 per barel, sedangkan WTI berada di US$95,83 per barel. Meski melemah, harga masih jauh lebih tinggi dibandingkan awal Maret.

Sebagai gambaran, pada 4 Maret 2026 harga Brent masih berada di kisaran US$81,40 per barel dan WTI US$74,66 per barel. Dalam waktu kurang dari dua pekan, harga minyak melonjak tajam sebelum kemudian bergerak naik turun seperti roller coaster dalam beberapa hari terakhir.

Volatilitas ini dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap pasokan minyak global di tengah konflik Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Konflik tersebut telah mengganggu jalur distribusi energi di kawasan Teluk, khususnya di Selat Hormuz, yang menjadi salah satu jalur perdagangan minyak paling vital di dunia.

Melansir dari Reuters, dampak konflik tersebut bahkan membuat minyak Timur Tengah menjadi yang termahal di dunia saat ini. Benchmark minyak regional melonjak tajam akibat gangguan pasokan yang semakin serius.

Harga Dubai crude, salah satu acuan utama minyak Timur Tengah untuk pasar Asia, tercatat mencapai US$153,25 per barel. Angka ini bahkan melampaui rekor harga Brent sepanjang sejarah yang pernah menyentuh US$147,50 per barel pada 2008.

Lonjakan harga tersebut berkaitan erat dengan terganggunya arus ekspor minyak dari kawasan Teluk. Data dari perusahaan analitik Kpler menunjukkan ekspor minyak Timur Tengah ke Asia pada Maret turun drastis menjadi sekitar 11,665 juta barel per hari, jauh lebih rendah dibandingkan hampir 19 juta barel per hari pada Februari.

Penurunan ini berarti pasokan ke Asia menyusut sekitar 32% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, ketika jalur perdagangan energi masih berjalan normal.

Kondisi tersebut membuat sejumlah kilang minyak di Asia mulai menurunkan tingkat operasional karena kesulitan mendapatkan pasokan dari Timur Tengah. Di saat yang sama, para pembeli mulai mencari alternatif pasokan dari wilayah lain seperti Afrika dan Amerika.

Dengan situasi geopolitik yang masih memanas dan jalur distribusi energi yang belum pulih sepenuhnya, pasar minyak diperkirakan akan tetap bergerak volatil dalam waktu dekat. Harga bisa melonjak sewaktu-waktu ketika risiko pasokan meningkat, tetapi juga dapat terkoreksi cepat ketika muncul harapan stabilitas pasokan global.

CNBC Indonesia

(emb/emb) Add cnbc-logo.svg?v=6.9.0 as a preferred
source on Google
[1] [Gambas:Video CNBC]
[2]

References

  1. ^ Add as a preferred source on Google (www.cnbcindonesia.com)
  2. ^ [Gambas:Video CNBC] (www.cnbcindonesia.com)

Sumber

Share this post


Link to post
Share on other sites
Masuk untuk mengikuti  

×
×
  • Create New...