Jump to content
FJB - Forum Jual Beli Indonesia
Masuk untuk mengikuti  
bot

Kenapa Harga Emas Tak Banyak Gerak saat Perang Iran vs AS-Israel?

Recommended Posts

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dunia tidak menunjukkan lonjakan signifikan meskipun konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel, melawan Iran meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Sebelumnya, serangan dilakukan AS-Israel ke Teheran pada 28 Februari, menewaskan Ayatollah Khamenei dan membuat Iran membalas dengan merudal pangkalan militer Amerika di Arab serta menutup Selat Hormuz.

Padahal, mengutip CNBC International, secara historis, logam mulia biasanya menguat saat terjadi ketegangan geopolitik karena dianggap sebagai aset "safe haven" oleh investor. Setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu, harga emas sempat naik dari US$5.296 menjadi US$5.423 per troy ounce, namun kenaikan itu tidak bertahan lama.

Gelombang aksi juga jual membuat harga turun lebih dari 6% menjadi US$5.085 pada 3 Maret. Dalam beberapa hari terakhir, harga emas bergerak relatif stabil di kisaran US$5.050 hingga US$5.200 per troy ounce, dengan harga terakhir sekitar US$5.175 per troy ounce.

CEO situs analisis logam mulia Metals Daily, Ross Norman, mengatakan stagnasi harga emas dipengaruhi beberapa faktor, termasuk penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Menurutnya, kenaikan harga minyak akibat konflik juga dapat memperpanjang inflasi dan mendorong bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi.

Hal ini bisa terjadi jika jalur energi penting dunia seperti Selat Hormuz terganggu akibat konflik. Suku bunga tinggi biasanya membuat investor lebih tertarik pada aset yang memberikan imbal hasil seperti obligasi pemerintah dibandingkan logam mulia yang tidak menghasilkan bunga.

"Pergerakan harga emas dan perak saat ini terlihat kurang bergairah, tetapi mungkin itu wajar setelah lonjakan besar yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir," kata Norman, dikutip Senin (16/3/2026).

Ia juga menambahkan bahwa sebagian investor institusional mulai berhati-hati memegang emas. Volatilitas harga yang cukup tinggi dalam beberapa waktu terakhir.

Kepala riset di perusahaan investasi Al Ramz, Amer Halawi, mengatakan konflik geopolitik sering kali memicu aksi jual besar-besaran pada awalnya. Menurutnya, saat terjadi tekanan likuiditas di pasar, investor cenderung menjual berbagai aset terlebih dahulu sebelum kembali membeli aset yang dianggap aman.

"Jika terjadi krisis likuiditas, hampir semua aset akan dijual sampai para pelaku pasar bisa memahami situasinya dan kembali memfokuskan investasi pada aset yang tepat," ujarnya dalam program "Access Middle East".

Ia menambahkan bahwa fenomena tersebut sering terjadi pada awal krisis. Ini hal yang muncul secara "tradisional".

"Secara tradisional, ketika terjadi guncangan di pasar, bahkan emas pun bisa ikut dijual terlebih dahulu sebelum kemudian kembali menguat," ujarnya.

Meski pergerakan harga emas terlihat datar dalam jangka pendek, sejumlah bank investasi global tetap optimistis terhadap prospek jangka panjang logam mulia ini. Bank investasi JPMorgan Chase memprediksi harga emas bisa mencapai US$6.300 per troy ounce pada akhir 2026.

Sementara itu, Deutsche Bank mempertahankan proyeksi harga US$6.000 per troy ounce pada akhir tahun dalam laporan riset terbaru mereka. Para analis menilai ketidakpastian geopolitik global, inflasi yang masih tinggi, serta ketegangan di Timur Tengah dapat terus mendukung permintaan emas sebagai aset lindung nilai dalam jangka panjang.

(sef/sef) Add cnbc-logo.svg?v=6.9.0 as a preferred
source on Google
[1] [Gambas:Video CNBC]
[2]

References

  1. ^ Add as a preferred source on Google (www.cnbcindonesia.com)
  2. ^ [Gambas:Video CNBC] (www.cnbcindonesia.com)

Sumber

Share this post


Link to post
Share on other sites
Masuk untuk mengikuti  

×
×
  • Create New...