bot 0 Posted 4 jam yg lalu. Jakarta, CNN Indonesia -- PT Sarana Multigriya Finansial (SMF[1]) menyatakan angka backlog kepemilikan rumah di Indonesia menurun berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2025.Berdasarkan data Susenas terbaru, angka backlog perumahan sekitar 9.637.157 unit. Jumlah itu mengalami penurunan dari data Susenas tahun 2023, yakni sebanyak 9,9 juta unit.Data angka backlog terbaru itu memiliki rincian sekitar 5,5 juta rumah tangga tinggal di bukan rumah milik sendiri, tetapi layak huni. Selain itu 4,1 juta rumah tangga tinggal di di rumah bukan milik sendiri dan kondisinya tidak layak huni. ADVERTISEMENT SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT Kepala Divisi Riset Ekonomi PT SMF, Martin D Siyaranamual, mengatakan penurunan angka backlog ini tidak menunjukkan hasil baik ataupun buruk. Sebab, belum ada hasil yang menunjukkan masalah permintaan rumah terselesaikan. "Apakah ini menandakan bahwa program perumahan pemerintah itu berjalan, berhasil? Ya dan tidak. Karena memang belum ada, belum dilihat secara detail keberhasilan dari program-program perumahan yang ada di Indonesia," kata Martin dalam konferensi pers Kinerja Full Year 2025 PT SMF (Persero) di Jakarta, 4 Maret lalu.Meski begitu, Martin mengatakan program dan stimulus dari pemerintah tentu berperan penting dalam menekan angka backlog di 2025.Sebagai contoh adanya KPR subsidi atau Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) yang kuotanya bertambah menjadi 350 ribu rumah dari yang sebelumnya hanya 220 ribu rumah, KUR Perumahan, rumah subsidi, insentif PPN DTP 100 persen, hingga program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS).Persentase pengaruhnya belum bisa dipastikan, karena banyak aspek lain yang juga bisa mempengaruhi penurunan angka tersebut, seperti tingkat kelahiran atau penurunan permintaan dari masyarakat."Tetapi yang jelas, sudah barang tentu penurunan ini, sumbernya itu datangnya dari program pemerintah. Kita nggak bisa menolak itu [membantah fakta]," ucap Martin.Selain masalah jumlah permintaan perumahan, juga ada backlog soal kelayakan hunian yang pada tahun lalu angkanya mencapai 23 juta unit rumah.Angka itu terdiri dari 19 juta rumah tangga milik sendiri, namun kondisinya tidak layak huni. Sementara 4,1 juta rumah tangga yang tinggal di rumah bukan milik sendiri serta kondisinya tidak layak. Jumlah backlog satu ini juga mengalami penurunan."Dari 25 juta rumah tangga yang tinggal di rumah tidak layak unik, sekarang menjadi 23,4 juta rumah tangga," sebutnya.Sementara PT SMF sendiri memiliki peran mendukung sektor perumahan dengan penyediaan dana jangka panjang untuk mendorong pasar pembiayaan perumahan tetap stabil dan efisien.PT SMF juga berperan dalam penyaluran FLPP sejak 2018 melalui pembiayaan jangka panjang murah dengan porsi 25 persen. Sementara, sisanya dari pemerintah melalui Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera)."Khusus untuk FLPP di mana kita sebagai fiskal tools pemerintah, kita sudah keluarkan surat utang sebagai blended finance atau leverage dari para pemerintah yang diterima 18 kali jumlahnya mencapai Rp 17,49 triliun," kata Direktur Utama PT SMF Ananta Wiyogo.Lengkapnya baca di sini[2]. (har) ====[3] References^ SMF (www.cnnindonesia.com)^ di sini (www.detik.com)^ ==== (www.cnnindonesia.com)Sumber Share this post Link to post Share on other sites