bot 0 Posted 1 jam yg lalu. Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah berhasil ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Selasa (10/3/2026). Seiring pelemahan dolar AS di pasar global. Melansir data Refinitiv, mata uang Garuda ditutup menguat 0,47% atau terapresiasi ke level Rp16.855/US$. Penguatan ini sekaligus membalikkan pelemahan pada perdagangan sebelumnya, ketika rupiah sempat menyentuh level Rp16.990/US$ sebelum akhirnya ditutup melemah 0,15% di posisi Rp16.935/US$ pada Senin (9/3/2026). Pada perdagangan hari ini, rupiah memang sudah menunjukkan penguatan sejak awal sesi. Rupiah dibuka terapresiasi 0,62% di level Rp16.830/US$ dan bergerak dalam rentang Rp16.830/US$ hingga Rp16.890/US$ sepanjang perdagangan. Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB terpantau melemah 0,67% ke level 98,515. Penguatan rupiah pada perdagangan hari ini ditopang kombinasi sentimen eksternal dan domestik. Dari eksternal, pelemahan dolar AS di pasar global menjadi faktor utama yang menopang rupiah. Indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia terkoreksi pada perdagangan hari ini, setelah sehari sebelumnya sempat melonjak tajam akibat kekhawatiran pasar terhadap eskalasi perang di Timur Tengah. Tekanan terhadap dolar AS mulai mereda setelah Presiden AS Donald Trump dalam wawancara dengan media asing menyebut perang melawan Iran sudah "sangat tuntas". Pernyataan ini sedikit meredakan kekhawatiran investor terhadap konflik berkepanjangan yang berpotensi mengganggu pasokan energi global dan menekan pertumbuhan ekonomi dunia. Sebelumnya, perang AS-Israel melawan Iran sempat mengguncang pasar keuangan global dan memicu lonjakan harga minyak. Situasi tersebut sempat mendorong investor memburu aset aman, termasuk dolar AS. Namun, dengan mulai meredanya sebagian kekhawatiran pasar, pelaku pasar kini mengurangi kepemilikan aset berdenominasi dolar. Kondisi ini membuka ruang bagi penguatan mata uang lain, termasuk rupiah. Dari dalam negeri, sentimen positif juga datang dari data penjualan eceran. Bank Indonesia (BI) melaporkan Indeks Penjualan Riil (IPR) Januari 2026 tumbuh 5,7% secara tahunan. Kinerja ini ditopang oleh pertumbuhan penjualan pada kelompok barang budaya dan rekreasi, makanan, minuman, dan tembakau, serta subkelompok sandang. Meski demikian, secara bulanan penjualan eceran pada Januari 2026 tercatat terkontraksi 2,7%, sejalan dengan normalisasi konsumsi masyarakat setelah periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru. (evw/evw) Add as a preferred source on Google [1] [Gambas:Video CNBC][2] References^ Add as a preferred source on Google (www.cnbcindonesia.com)^ [Gambas:Video CNBC] (www.cnbcindonesia.com)Sumber Share this post Link to post Share on other sites