Jump to content
FJB - Forum Jual Beli Indonesia
Masuk untuk mengikuti  
bot

Membredel Dampak Lonjakan Harga Minyak di Atas US$100/Barel ke RI

Recommended Posts

Jakarta, CNN Indonesia --

Lonjakan harga minyak[1] dunia yang menembus level US$100 per barel kembali memunculkan kekhawatiran akan stabilitas perekonomian Indonesia[2]. Kenaikan harga energi global tersebut dinilai berpotensi menimbulkan tekanan pada berbagai sektor ekonomi[3] domestik, mulai dari anggaran negara hingga daya beli masyarakat.

Sebagai negara yang masih mengimpor sebagian kebutuhan minyaknya, Indonesia relatif rentan terhadap gejolak harga energi global. Ketika harga minyak dunia naik signifikan, biaya impor energi akan meningkat dan berdampak pada keseimbangan fiskal serta sektor eksternal.

Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution, Ronny P Sasmita, menilai lonjakan harga minyak hingga di atas US$100 per barel hampir pasti memberikan tekanan bagi perekonomian nasional.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Ronny, tekanan tersebut akan muncul terutama pada dua sektor utama, yakni Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta nilai tukar rupiah.

"Jika harga minyak dunia sudah menembus US$100 per barel, tekanan ke ekonomi Indonesia hampir pasti muncul di dua sisi sekaligus, yakni APBN dan nilai tukar rupiah," kata Ronny kepada CNNIndonesia.com, Senin (9/3).

Ia menjelaskan, Indonesia masih mengimpor sebagian kebutuhan minyaknya sehingga kenaikan harga global secara langsung meningkatkan biaya impor energi.

Kondisi tersebut pada akhirnya akan memperlebar defisit neraca migas Indonesia. Ketika nilai impor energi meningkat, tekanan terhadap neraca perdagangan sektor energi juga ikut bertambah.

"Indonesia masih mengimpor sebagian kebutuhan minyaknya, sehingga setiap kenaikan harga global langsung menaikkan biaya impor energi dan memperlebar defisit neraca migas," ujarnya.

Selain berdampak pada neraca perdagangan, lonjakan harga minyak juga akan meningkatkan beban subsidi energi pemerintah. Jika harga minyak bertahan tinggi dalam waktu lama, pemerintah harus mengalokasikan anggaran lebih besar untuk menahan harga energi di dalam negeri.

Menurut Ronny, situasi tersebut berpotensi menekan ruang fiskal pemerintah secara signifikan.

"Jika harga bertahan lama di atas US$100, ruang fiskal pemerintah akan benar-benar tertekan parah," kata dia.

Dalam kondisi seperti itu, pemerintah pada dasarnya memiliki tiga pilihan kebijakan untuk menjaga stabilitas ekonomi. Pertama,menambah subsidi energi agar harga BBM di dalam negeri tetap stabil. Namun kebijakan ini akan meningkatkan beban APBN.

Pilihan kedua adalah menaikkan harga BBM agar lebih mendekati harga keekonomian. Sementara pilihan ketiga,mempertahankan harga BBM tetapi mengorbankan anggaran untuk sektor lain.

"Dalam situasi seperti ini, pemerintah biasanya punya tiga pilihan, yakni menambah subsidi, menaikkan harga BBM, atau menahan harga tetapi mengorbankan anggaran sektor lain," jelas Ronny.

Ia menilai risiko kenaikan harga BBM di dalam negeri akan meningkat apabila harga minyak global bertahan tinggi dalam jangka waktu lama.

Selain itu, lonjakan harga minyak juga dapat memicu tekanan pada nilai tukar rupiah. Kenaikan impor energi biasanya meningkatkan kebutuhan devisa, sehingga berpotensi melemahkan mata uang domestik.

Butuh Waktu Kembali

Ronny juga menyoroti bahwa durasi dampak dari lonjakan harga minyak sangat bergantung pada kondisi geopolitik global serta pasokan energi dunia. Pengalaman historis menunjukkan pasar biasanya membutuhkan waktu beberapa bulan untuk menyesuaikan diri terhadap lonjakan harga energi.

"Secara historis, setiap kali minyak menembus US$100, pasar biasanya membutuhkan tiga sampai enam bulan untuk menemukan keseimbangan baru," imbuhnya.

Keseimbangan tersebut biasanya tercapai melalui peningkatan produksi oleh negara produsen atau melalui penurunan permintaan global akibat harga energi yang terlalu tinggi. Selama periode penyesuaian tersebut, negara pengimpor minyak seperti Indonesia akan terus merasakan tekanan pada inflasi, subsidi energi, dan nilai tukar.

Untuk merespons kondisi tersebut, Ronny menilai pemerintah perlu mengambil sejumlah langkah strategis. Menurutnya, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mengamankan kondisi fiskal dengan memperketat belanja negara yang kurang produktif.

Selain itu, pemerintah juga perlu memprioritaskan stabilitas energi dan pangan agar tekanan inflasi tidak semakin meluas.

Langkah kedua adalah memperkuat cadangan energi nasional serta melakukan diversifikasi pasokan. Hal ini dapat dilakukan melalui optimalisasi kilang domestik serta percepatan program transisi energi.

Ketiga, yakni dengan menjaga stabilitas rupiah serta arus modal agar tekanan dari sektor eksternal tidak semakin membesar. Ronny menekankan pentingnya koordinasi kuat antara pemerintah dan otoritas moneter untuk menjaga stabilitas ekonomi.

"Koordinasi kuat antara pemerintah dan bank sentral sangat penting agar lonjakan harga energi tidak berubah menjadi lonjakan inflasi yang jauh lebih tinggi," beber Ronny.

Dalam situasi harga minyak yang sangat tinggi, Ronny juga menilai pemerintah perlu melakukan penyesuaian terhadap prioritas anggaran. Salah satu opsi yang dapat dipertimbangkan adalah rasionalisasi sementara anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

"Dalam situasi harga minyak sangat tinggi, menurut saya anggaran untuk Program Makan Bergizi Gratis memang perlu dirasionalisasi sementara," ucapnya.

Ia menegaskan langkah tersebut bukan berarti program tersebut tidak penting, tetapi pemerintah harus menyesuaikan prioritas anggaran ketika menghadapi tekanan fiskal akibat lonjakan harga energi. Ia menilai subsidi energi memiliki dampak yang sangat cepat terhadap stabilitas harga dan daya beli masyarakat.

Jika harga energi melonjak dan memicu inflasi, masyarakat berpenghasilan rendah akan menjadi kelompok yang paling terdampak.

Untuk itu, rasionalisasi sebagian anggaran MBG melalui penundaan implementasi atau pengurangan skala program sementara dapat menjadi salah satu sumber ruang fiskal.


References

  1. ^ harga minyak (www.cnnindonesia.com)
  2. ^ Indonesia (www.cnnindonesia.com)
  3. ^ ekonomi (www.cnnindonesia.com)

Sumber

Share this post


Link to post
Share on other sites
Masuk untuk mengikuti  

×
×
  • Create New...