Jump to content
FJB - Forum Jual Beli Indonesia
Masuk untuk mengikuti  
bot

Kuwait Setop Produksi, Qatar Ramal Harga Minyak US$150 per Barel

Recommended Posts

Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Energi Qatar[1] Saad al-Kaabi memproyeksi harga minyak[2] mentah dunia terus melanjutkan kenaikan menuju level US$150 per barel dalam hitungan dua hingga tiga minggu ke depan. Potensi tersebut sangat mungkin terjadi jika Selat Hormuz[3] tetap tertutup bagi kapal tanker,

Pernyataan al-Kaabi kepada Financial Times dalam sebuah wawancara yang dirilis Jumat (6/3) tersebut muncul hanya beberapa jam sebelum adanya laporan bahwa Kuwait, salah satu anggota pendiri OPEC itu telah mulai menghentikan produksi di beberapa ladang minyak.

Hal tersebut dilakukan karena Kuwait tak lagi memiliki tempat untuk menyimpan pasokan minyak selama lalu lintas di Selat Hormuz masih lumpuh total. Menurut sumber yang mengetahui masalah tersebut, Kuwait juga sedang mendiskusikan pemotongan produksi lebih lanjut, termasuk operasi penyulingan, ke tingkat yang hanya mencukupi kebutuhan domestik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hingga saat ini, besarnya penghentian produksi di Kuwait belum dikuantifikasi secara pasti sebagaimana dikutip dari Oilprice, Senin (9/3).

Pria yang juga Presiden dan CEO Qatar Energy tersebut mengungkapkan bahwa semua eksportir minyak dan gas utama di Timur Tengah saat ini sedang bersiap menyatakan force majeure (keadaan memaksa) pada ekspor mereka dalam hitungan hari. Itu dilakukan jika jalur pelayaran vital yakni Selat Hormuz secara de facto tetap tertutup bagi lalu lintas kapal tanker.

Awal pekan ini, perusahaan energi negara Qatar telah menghentikan produksi LNG di pusat Ras Laffan, kompleks LNG terbesar di dunia, dan kemudian mengeluarkan pemberitahuan force majeure kepada para pembeli.

Langkah itu diambil menyusul serangan pesawat nirawak di fasilitas tersebut, serta hampir terhentinya lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz.

Lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz telah merosot dari rata-rata 138 kapal per hari, menjadi hanya dua kapal dalam 24 jam terakhir hingga Kamis (5/3), menurut laporan Joint Maritime Information Center. Pusat informasi tersebut mencatat bahwa kedua kapal yang berhasil melewati selat itu bukanlah kapal tanker.

Saat ini, terdapat puluhan kapal tanker yang terdampar di dekat Hormuz, beberapa di antaranya telah menjadi target serangan, dan perusahaan asuransi telah mencabut perlindungan asuransi perang.

Kondisi tersebutturut berkontribusi pada kelumpuhan perdagangan energi di wilayah penghasil minyak terbesar di dunia tersebut. Di sisi lain,Presiden AS mengumumkan bahwa pemerintah federal akan turun tangan untuk memberikan asuransi, namun hingga saat ini belum membuahkan hasil.

"Kami memperkirakan semua pihak yang belum menyatakan force majeure akan melakukannya dalam beberapa hari ke depan jika situasi ini terus berlanjut. Semua eksportir di kawasan Teluk harus menyatakan force majeure," kata al-Kaabi kepada Financial Times.

Pejabat tersebut juga memprediksi bahwa jika perang berlanjut selama beberapa minggu, pertumbuhan ekonomi global akan sangat terdampak. Namun, jika perang berakhir hari ini, al-Kaabi menyebut Qatar kemungkinan akan membutuhkan waktu"berminggu-minggu hingga berbulan-bulan" untuk kembali ke jadwal dan siklus pengiriman energi yang normal.

====[4]

(ins)

References

  1. ^ Qatar (www.cnnindonesia.com)
  2. ^ harga minyak (www.cnnindonesia.com)
  3. ^ Selat Hormuz (www.cnnindonesia.com)
  4. ^ ==== (www.cnnindonesia.com)

Sumber

Share this post


Link to post
Share on other sites
Masuk untuk mengikuti  

×
×
  • Create New...