Jump to content
FJB - Forum Jual Beli Indonesia
Masuk untuk mengikuti  
bot

Riset: UMKM Lebih Pilih Utang Pinjol Dibanding ke Bank

Recommended Posts

Jakarta, CNN Indonesia --

Riset Katadata Insight Center mengungkap pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM[1]) lebih memilih utang ke pinjaman daring (pindar) alias pinjol[2] dibanding meminjam dana ke bank[3].

Senior Analyst Katadata Insight Center Hanif Gusman menjelaskan kecenderungan UMKM memilih pinjol karena pertimbangan kecepatan pencairan dana.

Namun, Hanif melihat industri pinjol saat ini masih dikelilingi persepsi negatif, sehingga menghambat optimalisasinya. Padahal sebenarnya pinjol memiliki manfaat, salah satunya bagi UMKM yang menghadapi masalah pendanaan dari perbankan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Salah satu yang kami lihat itu banyaknya stigma bahwa industri ini mengajarkan orang-orang untuk berutang. Itu stigma negatifnya," katanya dalam acara diskusi yang diselenggarakan Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) di Jakarta Pusat, Rabu (4/4).

Riset Katadata Insight Center menyasar 309 responden, yang merupakan pemilik atau manajemen UMKM penerima pembiayaan dari platform pinjol anggota AFPI. Hasil riset menunjukkan 64 persen responden tidak memanfaatkan pinjaman bank karena proses pengajuannya terlalu rumit.

Selanjutnya, 41,6 persen responden menyatakan enggan mengajukan pinjaman ke bank karena persyaratan dokumennya sulit dipenuhi, sedangkan 32,9 persen lainnya terkendala tidak memiliki jaminan atau agunan.

Survei juga menunjukkan mayoritas UMKM atau sekitar 69,3 persen responden memanfaatkan pinjol untuk modal usaha karena proses pencairan dana yang cepat. Lalu, 66,3 persen responden memilih pinjol, karena prosedurnya dinilai cepat dan sederhana, serta 60,8 persen lainnya karena aplikasi digitalnya mudah digunakan.

Selain terkait pendanaan, riset Katadata melaporkan para responden melihat pinjol sebagai jawaban bagi ketidakpastian ekonomi. Sebanyak 64,7 persen responden menyatakan lebih siap menghadapi kondisi darurat setelah mengakses pembiayaan dari pinjol, kemudian 55,3 persen responden merasa lebih aman karena memiliki akses modal saat dibutuhkan.

Dari sisi pengelolaan usaha, 46,9 persen mengaku manajemen keuangan mereka menjadi lebih baik. Kemudian 46,6 persen menyebut tambahan modal membantu menambah stok barang dari pemasok atau distributor.

Dari kondisi ini, Hanif melihat pinjol berpeluang menjadi bagian dari penggerak perekonomian negeri. Pertama, pinjol bisa menjadi mitra strategi penyaluran dana pemerintah. Ia menyoroti langkah pemerintah memindahkan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp200 triliun dari Bank Indonesia ke Bank Himbara pada tahun lalu.

Menurutnya, pinjol berpeluang menjadi saluran distribusi melalui innovative credit scoring (ICS), sehingga mampu menyaring calon debitur, tanpa memerlukan agunan atau persyaratan ketat seperti bank konvensional.

"Pindar menurut kami itu berpeluang sebagai saluran distribusi," ucap Hanif.

Kedua, sebagai aplikasi digital, pinjol dinilai mampu melampaui batas geografis. Hasil riset Katadata mengungkap 18,9 persen penduduk masih kesulitan mengakses secara fisik ke lembaga keuangan. Lalu, masih ada gap inklusi keuangan antara perkotaan sebesar 83,6 persen dan pedesaan sebesar 75,7 persen.

Maka Hanif memandang modal bisnis pinjol yang berbasis digital tanpa kantor cabang fisik menjadi kunci krusial dalam mendukung pertumbuhan dan pemerataan penyaluran kredit.

Ia menyebut di Pulau Jawa, jumlah nasabah pinjol naik 37,6 persen menjadi 4,63 juta akun. Lalu, volume penyaluran pembiayaan juga naik 23,9 persen dari Rp6,81 triliun ke Rp8,44 triliun.

"Nah, dengan adanya pindar yang digital dan tanpa menggunakan fisik, ini menjadi kunci penting," kata Hanif.

====[4]

(dhz/pta)

References

  1. ^ UMKM (www.cnnindonesia.com)
  2. ^ pinjol (www.cnnindonesia.com)
  3. ^ bank (www.cnnindonesia.com)
  4. ^ ==== (www.cnnindonesia.com)

Sumber

Share this post


Link to post
Share on other sites
Masuk untuk mengikuti  

×
×
  • Create New...