bot 0 Posted 5 jam yg lalu. Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak dunia kembali melesat pada perdagangan Rabu (4/3/2026) pagi, seiring eskalasi konflik Amerika Serikat dan Israel dengan Iran yang mulai mengganggu produksi serta distribusi energi kawasan Timur Tengah. Per pukul 10.00 WIB, mengacu Refinitiv, harga minyak mentah acuan global Brent Crude berada di level US$82,03 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) tercatat US$74,95 per barel. Secara harian, Brent naik tipis dari posisi penutupan Selasa (3/3/2026) di US$81,40 per barel. Jika ditarik sepekan ke belakang, reli terlihat tajam. Pada 24 Februari 2026, Brent masih berada di kisaran US$70,77 per barel. Artinya, dalam waktu kurang dari dua pekan, harga melonjak lebih dari US$11 per barel. WTI pun menunjukkan pola serupa, dari US$65,63 pada 24 Februari menjadi nyaris US$75 pagi ini. Lonjakan ini dipicu serangan militer terbaru yang menyasar sejumlah target di Iran dan dibalas dengan gangguan terhadap infrastruktur energi kawasan. Pasar merespons cepat karena Timur Tengah menyumbang hampir sepertiga produksi minyak global. Setiap gangguan, sekecil apa pun, langsung diterjemahkan sebagai ancaman terhadap keseimbangan suplai-permintaan dunia. Tekanan makin terasa setelah Irak dilaporkan memangkas produksi dalam jumlah signifikan akibat keterbatasan ekspor dan penumpukan penyimpanan. Negara tersebut merupakan produsen terbesar kedua di dalam Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC). Jika hambatan ekspor berlanjut, potensi penutupan sumur dalam skala lebih besar menjadi risiko nyata yang diperhitungkan pelaku pasar. Di saat bersamaan, ketegangan di Selat Hormuz kembali menjadi sorotan. Jalur sempit ini dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dan LNG global. Laporan mengenai gangguan terhadap kapal tanker membuat arus pengiriman praktis tersendat dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini memaksa sejumlah negara importir mulai menjajaki sumber pasokan alternatif. Meski demikian, kenaikan harga belum sepenuhnya tak terkendali. Pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait kemungkinan pengawalan kapal tanker oleh Angkatan Laut AS dan dukungan jaminan risiko perdagangan maritim sedikit meredam lonjakan lebih dalam. Namun, pelaku industri pelayaran dan asuransi masih menimbang apakah langkah tersebut cukup untuk memulihkan kepercayaan. Dari sisi fundamental lain, pasar juga mencermati kenaikan persediaan minyak mentah Amerika Serikat pekan lalu yang dilaporkan lebih tinggi dari perkiraan. Secara teori, lonjakan stok bisa menjadi penyeimbang reli harga. Namun untuk saat ini, faktor geopolitik jelas lebih dominan. Selama ketidakpastian di Timur Tengah belum mereda, volatilitas tinggi masih akan menjadi "harga" yang harus dibayar pasar energi global. CNBC Indonesia (emb/emb) Add as a preferred source on Google [1] [Gambas:Video CNBC][2] References^ Add as a preferred source on Google (www.cnbcindonesia.com)^ [Gambas:Video CNBC] (www.cnbcindonesia.com)Sumber Share this post Link to post Share on other sites