Jump to content
FJB - Forum Jual Beli Indonesia
Masuk untuk mengikuti  
bot

Breaking News! Dolar AS Perkasa, Rupiah Melemah ke Rp16.810/US$

Recommended Posts

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam perdagangan pertama nya di pekan ini, Senin (2/3/2026). seiring respon pasar terhadap memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah usai serangan Israel dan AS ke Iran pada akhir pekan lalu.

Merujuk data Refinitiv, rupiah Garuda terdepresiasi ke level Rp16.810/US$ atau melemah sebesar 0,30%. Setelah di perdagangan terakhir, Jumat (27/2/2026) rupiah mengakhiri perdagangan dengan pelemahan 0,06% di level Rp16.760/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) per pukul 09.00 WIB terpantau sedang berada di zona hijau dengan penguatan sebesar 0,22% atau naik ke level 97,821.

Pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan akan dipengaruhi oleh kombinasi sentimen eksternal dan domestik.

Dari eksternal, penguatan dolar AS terjadi di tengah meningkatnya permintaan aset safe haven setelah serangan AS dan Israel ke Iran pada akhir pekan. Konflik tersebut memicu kekhawatiran pasar global karena berpotensi memperluas ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, termasuk mengganggu lalu lintas maritim di kawasan Teluk yang kaya minyak.

Selain itu, Iran juga dilaporkan melancarkan serangan terhadap aset-aset AS di sejumlah negara sekitar, seperti Uni Emirat Arab, Bahrain, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, Yordania, Irak, dan Suriah. Kondisi ini mendorong pelaku pasar cenderung memburu aset berdenominasi dolar AS, sehingga menopang penguatan DXY.

Menguatnya indeks dolar tersebut mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap dolar AS, yang pada akhirnya dapat memberi tekanan pada mayoritas mata uang lain, termasuk rupiah.

Dari dalam negeri, pelaku pasar juga akan mencermati rilis data inflasi Februari 2026 yang akan diumumkan Badan Pusat Statistik BPS hari ini.

Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia dari 13 institusi memperkirakan Indeks Harga Konsumen IHK pada Februari 2026 akan mengalami inflasi sebesar 0,3% secara bulanan. Sementara itu, secara tahunan, inflasi diperkirakan mencapai 4,34%, dengan inflasi inti diproyeksikan menguat ke 2,49%.

Sebagai catatan, pada Januari 2026 Indonesia mengalami deflasi 0,15% secara bulanan. Meski demikian, secara tahunan IHK masih mencatat inflasi 3,55%, sedangkan inflasi inti berada di level 2,45%.

Dalam catatan BPS, inflasi bulanan pada Februari dalam lima tahun terakhir relatif rendah, rata-rata hanya sebesar 0,03%. Namun, inflasi Februari 2026 diyakini berpotensi meningkat seiring momen Ramadan yang mulai berlangsung pada 19 Februari 2026.

Rilis inflasi ini akan menjadi perhatian penting pasar karena dapat memengaruhi arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia (BI) ke depan. Seperti diketahui, perkembangan inflasi merupakan salah satu faktor utama yang diperhatikan BI dalam menentukan arah BI Rate, yang pada akhirnya juga akan berdampak pada pergerakan rupiah.

(evw/evw) Add cnbc-logo.svg?v=6.8.8 as a preferred
source on Google
[1] [Gambas:Video CNBC]
[2]

References

  1. ^ Add as a preferred source on Google (www.cnbcindonesia.com)
  2. ^ [Gambas:Video CNBC] (www.cnbcindonesia.com)

Sumber

Share this post


Link to post
Share on other sites
Masuk untuk mengikuti  

×
×
  • Create New...