Jump to content
FJB - Forum Jual Beli Indonesia
Masuk untuk mengikuti  
bot

IHSG Tiba-Tiba Anjlok 1% Lebih di Awal Perdagangan, Ini Penyebabnya

Recommended Posts

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambles pada awal perdagangan Jumat (27/2/2026), melanjutkan tekanan sejak pembukaan pasar.

IHSG tercatat turun 1,47% atau terkoreksi 121,26 poin ke level 8.114,00 per pukul 09.11 WIB. Indeks sempat dibuka melemah di 8.211,31 dan langsung tertekan hingga menyentuh level terendah 8.093,75. Adapun posisi tertinggi pagi ini berada di 8.214,45, jauh di bawah level penutupan sebelumnya di 8.235,26.

Dari sisi likuiditas, nilai transaksi tercatat mencapai Rp2,98 triliun dengan volume 7,98 miliar saham dalam 397 ribu kali transaksi. Sebanyak 507 saham melemah, hanya 124 saham menguat, sementara 327 stagnan-mencerminkan tekanan jual yang dominan di pasar.

Akan tetapi per pukul 09.36 WIB, IHSG berhasil memangkas koreksi menjadi -0,29%. 

Mengutip data Refinitiv, pelemahan IHSG hingga -1,47% terutama disebabkan oleh koreksi saham-saham berkapitalisasi jumbo (big caps) yang memiliki bobot besar terhadap indeks.

Dua saham konglomerat, Barito Renewables Energy (BREN) dan Dian Swastatika Sentosa (DSSA), masing-masing membebani IHSG sebesar -9,26 indeks poin dan -8,23 indeks poin.

Berikut 10 emiten yang menjadi penekan utama berdasarkan kontribusi penurunan indeks (index points) antara lain:

  1. Barito Renewables Energy (BREN): -9,26 poin

  2. Dian Swastatika Sentosa (DSSA): -8,23 poin

  3. Bank Central Asia (BBCA): -7,11 poin

  4. Bank Rakyat Indonesia (BBRI): -6,29 poin

  5. Telkom Indonesia (TLKM): -5,26 poin

  6. Chandra Asri Pacific (TPIA): -3,11 poin

  7. Barito Pacific (BRPT): -2,58 poin

  8. Astra International (ASII): -2,05 poin

  9. GoTo Gojek Tokopedia (GOTO): -1,97 poin

  10. Petrindo Jaya Kreasi (PTRO): -1,81 poin

Jika dijumlahkan, sepuluh saham tersebut menyumbang lebih dari 47 poin pelemahan indeks, atau sekitar sepertiga dari total koreksi IHSG pagi ini yang mencapai 121 poin.

Terlihat bahwa tekanan terbesar berasal dari kelompok saham energi dan konglomerasi (BREN, DSSA, BRPT), serta perbankan besar (BBCA dan BBRI) yang memiliki bobot signifikan dalam struktur indeks.

Adapun pada perdagangan Jumat ini pergerakan pasar saham berpotensi bergerak cenderung sideways dengan potensi melemah. Ruang koreksi terbuka setelah pada perdagangan Kamis kemarin pelaku pasar mulai melakukan aksi ambil untung atau taking profit.

Dari sisi teknikal, pelemahan IHSG pada Kamis kemarin juga membuat sinyal koreksi lanjutan kian terlihat. Indikasinya muncul lewat terbentuknya pola Bearish Rising Wedge, yakni pola kenaikan harga yang terjadi dalam rentang pergerakan yang makin menyempit. Kondisi ini kerap dibaca sebagai tanda penguatan yang mulai kehilangan tenaga dan rawan berbalik arah.

Pola tersebut muncul setelah IHSG sempat anjlok pada akhir Januari kemarin, lalu perlahan menanjak. Namun, indeks beberapa kali gagal menembus level psikologis 8.400. Gagalnya penguatan di area itu kemudian diikuti pembentukan wedge, yang secara teori sering berakhir dengan penembusan ke bawah dan memicu koreksi lanjutan.

Jika skenario Bearish Rising Wedge ini terkonfirmasi, IHSG setidaknya berpotensi menguji area support di kisaran 7.900 hingga 7.800, atau membuka ruang penurunan sekitar 4%.

(mkh/mkh) Add cnbc-logo.svg?v=6.8.8 as a preferred
source on Google
[1] [Gambas:Video CNBC]
[2]

References

  1. ^ Add as a preferred source on Google (www.cnbcindonesia.com)
  2. ^ [Gambas:Video CNBC] (www.cnbcindonesia.com)

Sumber

Share this post


Link to post
Share on other sites
Masuk untuk mengikuti  

×
×
  • Create New...