bot 0 Posted 2 jam yg lalu. Jakarta, CNN Indonesia -- Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI[1]) Hery Gunardi[2] menyebut pelemahan pertumbuhan kredit[3] perbankan terjadi akibat pelaku usaha menahan ekspansi.Awalnya, Hery menyampaikan meski pemerintah telah mengucurkan saldo anggaran lebih (SAL) ke bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN), pertumbuhan kredit tetap melambat.Risiko kredit macet perbankan (non-performing loan/NPL) pun mencapai angka yang tinggi sepanjang 2025. Hal itu, menurut Hery, disebabkan oleh tekanan terhadap arus kas UMKM yang belum sepenuhnya pulih/ ADVERTISEMENT SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT "Pertumbuhan kredit terus melambat sepanjang tahun 2024 hingga 2025. Di saat yang sama, angka NPL mulai meningkat sejak Desember 2024 dan bertahan di level yang lebih tinggi. Hal ini menunjukkan tekanan arus kas pelaku UMKM belum sepenuhnya pulih," ujar Hery dalam webinar OJK Institute berjudul Economic Outlook 2026, Kamis (19/2). Hery menilai perlambatan laju kredit tak hanya terjadi karena faktor likuiditas, tetapi juga faktor struktur sektoral ekonomi domestik yang belum pulih.Selain itu, Hery menerangkan pertumbuhan kredit juga melemah juga imbas akibat tiga sektor penyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) negara yang melemah.Sektor tersebut adalah manufaktur, pertanian, dan perdagangan yang tercatat mempunyai peran besar terhadap penyerapan tenaga kerja dan PDB."Ketika konsumsi melambat, margin usaha tertekan, ekspansi langsung tertahan. Ini tercermin pada pertumbuhan kredit yang melemah. Artinya, moderasi kredit saat ini bukan semata faktor likuiditas. Walaupun sudah diguyur dari pemerintah Rp 200 triliun, likuiditas tambahan tetapi sangat dipengaruhi oleh struktur sektoral ekonomi kita," terangnya.Saat ini, menurut Hery, proyeksi pertumbuhan ekonomi dan arah kebijakan moneter belum mendapat respons baik dari pelaku usaha.Hal tersebut lantaran pelaku usaha cenderung menyikapinya dengan wait and see serta adanya jarak terhadap kebijakan pemerintah dan keputusan bisnis."Tantangannya bukan pada supply dana tetapi pada kepercayaan dan prospek usaha ke depan, yang dibutuhkan bukan sekadar likuiditas tambahan tetapi penguatan keyakinan pelaku usaha agar ekspansi kembali berjalan," jelas Hery.Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan kredit perbankan nasional 9,69 persen (yoy). Lajunya melambat jika dibandingkan pertumbuhan sepanjang 2024 yang mencapai 10,39 persen (yoy).====[4] (sfr/sfr) References^ BRI (www.cnnindonesia.com)^ Hery Gunardi (www.cnnindonesia.com)^ kredit (www.cnnindonesia.com)^ ==== (www.cnnindonesia.com)Sumber Share this post Link to post Share on other sites