Jump to content
FJB - Forum Jual Beli Indonesia
Masuk untuk mengikuti  
bot

Minyak Makin Panas, Ada Isu Iran dan Manuver AS-Venezuela

Recommended Posts

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Kamis (29/1/2026), memperpanjang reli untuk hari ketiga berturut-turut. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta dinamika kebijakan Amerika Serikat terhadap Venezuela menjadi pemicu utama lonjakan harga, di tengah pasar yang mulai menilai risiko pasokan semakin nyata.

Melansir Refinitiv, per pukul 10.20 wib, minyak Brent kontrak terdekat tercatat di US$69,20 per barel, naik dari posisi sehari sebelumnya di US$68,40. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) menguat ke US$64,04 per barel, melanjutkan tren kenaikan dari US$63,21 pada perdagangan Rabu. Sejak 26 Januari, Brent telah melesat lebih dari 5%, mencapai level tertinggi sejak akhir September.

. Pasar merespons meningkatnya risiko konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Menurut laporan Reuters, Presiden AS Donald Trump meningkatkan tekanan terhadap Teheran untuk menghentikan program nuklirnya, termasuk membuka opsi serangan militer. Kehadiran armada laut AS di kawasan turut memperbesar premi geopolitik di pasar energi.

Iran sendiri merupakan produsen minyak terbesar keempat di OPEC, dengan produksi sekitar 3,2 juta barel per hari. Ancaman gangguan pasokan dari kawasan Teluk langsung diterjemahkan pasar menjadi risiko harga. Analis Citi menilai eskalasi ini telah menambah premi geopolitik sekitar US$3-4 per barel, dengan potensi Brent menembus US$72 per barel jika tensi berlanjut.

Dari sisi pasokan global, dinamika Venezuela juga ikut menyumbang sentimen. Amerika Serikat dilaporkan menyerahkan kembali sebuah supertanker yang sebelumnya disita kepada otoritas Venezuela. Langkah ini muncul di tengah kebijakan Washington yang semakin agresif mengontrol rantai distribusi minyak Venezuela, termasuk terhadap armada tanker tua yang masuk kategori dark fleet dan minim perlindungan asuransi.

Meski pengembalian kapal tersebut berpotensi membuka kembali sebagian alur distribusi minyak Venezuela, pasar menilai kebijakan AS justru menciptakan ketidakpastian baru. Di satu sisi ada peluang tambahan pasokan, namun di sisi lain kontrol ketat dan sanksi membuat aliran minyak Venezuela tetap rapuh dan sulit diprediksi.

Faktor fundamental jangka pendek turut memperkuat harga.Energy Information Administration (EIA) melaporkan stok minyak mentah AS turun 2,3 juta barel menjadi 423,8 juta barel pada pekan yang berakhir 23 Januari. Penurunan ini berlawanan dengan ekspektasi pasar yang sebelumnya memperkirakan kenaikan stok.

Kondisi tersebut mencerminkan keseimbangan pasokan-permintaan yang mulai mengetat, seiring permintaan kilang yang stabil dan ketersediaan barel yang semakin terbatas. Kombinasi antara penurunan stok AS dan risiko geopolitik membuat pelaku pasar kembali memasukkan skenario harga tinggi ke dalam proyeksi jangka pendek.

CNBC Indonesia 

(emb/emb)
[Gambas:Video CNBC]
[1]

References

  1. ^ [Gambas:Video CNBC] (www.cnbcindonesia.com)

Sumber

Share this post


Link to post
Share on other sites
Masuk untuk mengikuti  

×
×
  • Create New...