bot 0 Posted 1 jam yg lalu. Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat melambung dan menyentuh level 9.100 untuk pertama kalinya pada perdagangan sesi 1 hari ini, Kamis (15/1/2026). Di tengah koreksi dalam pada saham-saham konglomerat dalam beberapa waktu terakhir, saham bank jumbo justru mendapat apresiasi dari investor pada perdagangan hari ini. Sebagaimana diketahui beberapa waktu ke belakang saham bank jumbo mendapat tekanan jual yang cukup besar dan membuat harganya mengalami koreksi. Pada akhir sesi 1, emiten perbankan, khususnya yang berada di kelompok bank modal inti (KBMI) 4 menjadi penopang indeks. Bank Mandiri (BMRI) dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI) menjadi pendorong utama IHSG dengan masing-masing bobot 14,37 indeks poin dan 14,15 indeks poin. Dari sisi kenaikan harga saham, Bank Negara Indonesia (BBNI) melesat paling kencang, yakni 4,82% ke level 4.570. BMRI dan BBRI masing-masing naik 3,82% dan 2,42%, sedangkan BBTN 1,67%. Berdasarkan nilai transaksi, saham bank jumbo juga mendominasi pada perdagangan sesi 1 hari ini. BBRI mencatat Rp 2,02 triliun, BMRI Rp 1,54 triliun, dan BBNI Rp 629 miliar. Sebagai catatan, total transaksi pada sesi 1 perdagangan hari ini mencapai Rp 16,8 triliun. Artinya nyaris 30% dari total transaksi merupakan sumbangsih dari ketiga saham bank tersebut. Sementara itu, sejumlah saham konglomerat, utamanya emiten milik Prajogo Pangestu dan Bakrie menjadi pemberat IHSG. Barito Renewables Energy (BREN) yang koreksi 1,81% membebani IHSG sebesar 6,48 indeks poin. Lalu Bumi Resources Minerals (BRMS) dan Bumi Resources (BUMI) yang masing-masing turun 3,2% dan 1,81% menyumbang -5,97 indeks poin dan -3,12 indeks poin. Adapun pasar keuangan Indonesia hari ini akan menutup perdagangan pada pekan kedua Januari 2026. Pasar keuangan libur pada Jumat untuk memperingati Isra Mi'raj. Dengan perdagangan pekan ini yang pendek maka pelaku pasar perlu mencermati sejumlah sentimen, baik dari dalam ataupun luar negeri. Di dalam negeri, tekanan terhadap mata uang Garuda kini telah melampaui sekadar fluktuasi angka di layar monitor perdagangan antarbank, melainkan sudah memukul pasar fisik secara nyata. Berdasarkan pantauan langsung di lapangan pada perdagangan hari ini, harga jual Dolar AS di sejumlah money changer utama di Jakarta telah menembus angka keramat Rp17.000. Di kawasan sentra valuta asing seperti Menteng, Jakarta Pusat, kurs jual tercatat berada di rentang yang mengkhawatirkan, yakni Rp16.930 hingga Rp17.010 per Dolar AS. Fenomena ini mengindikasikan adanya lonjakan permintaan fisik dolar yang signifikan, baik dari masyarakat yang melakukan aksi hedging maupun pelaku usaha yang panik mengamankan likuiditas valas untuk kebutuhan impor bahan baku yang mendesak. (mkh/mkh) [Gambas:Video CNBC][1] References^ [Gambas:Video CNBC] (www.cnbcindonesia.com)Sumber Share this post Link to post Share on other sites