Jump to content
FJB - Forum Jual Beli Indonesia
Masuk untuk mengikuti  
bot

2 Tambang Raksasa Dunia Mau Merger, Nilainya Capai Rp 4.375 T

Recommended Posts

Jakarta, CNBC Indonesia - Dua Raksasa tambang global Glencore dan Rio Tinto kembali membuka pembicaraan mengenai potensi merger besar yang berpeluang melahirkan perusahaan tambang terbesar di dunia. Bila sukses, nilai perusahaannya akan menjadi US$260 miliar atau sekitar Rp4.375,54 triliun.

Melansir Financial Times, wacana ini mencuat hampir setahun setelah negosiasi sebelumnya gagal. Kedua perusahaan mengonfirmasi mereka masih berada dalam tahap "diskusi awal" tanpa kepastian transaksi akan tercapai.

Jika terealisasi, kesepakatan ini akan membentuk entitas tambang dengan nilai perusahaan lebih dari US$260 miliar, di tengah persaingan ketat untuk mengamankan pasokan tembaga global. Perlombaan menguasai aset tembaga dinilai semakin membentuk ulang lanskap industri pertambangan dunia.

Dalam pernyataan terpisah pada Kamis waktu setempat, Glencore dan Rio Tinto menyebut pembahasan mencakup kemungkinan penggabungan sebagian atau seluruh bisnis, termasuk opsi merger berbasis pertukaran saham. Pernyataan itu dirilis tak lama setelah Financial Times mengungkap adanya pembicaraan tersebut.

Rio Tinto, yang memiliki nilai perusahaan sekitar US$162 miliar dan lebih besar dibanding Glencore, berpotensi menjadi pihak pengakuisisi dalam skema yang tengah dibahas. Namun, kedua perusahaan menegaskan belum ada kepastian struktur maupun hasil akhir dari negosiasi tersebut.

Respons pasar terlihat cepat, dengan saham Glencore di London melonjak 8,8% pada perdagangan Jumat pagi setelah kabar dikonfirmasi. Sebaliknya, saham Rio Tinto turun 2,4% di London dan anjlok 6,3% pada perdagangan sahamnya di Bursa Australia.

Tekanan untuk memperbesar skala usaha meningkat setelah penggabungan Anglo American dan Teck Resources dari Kanada, yang dilakukan tanpa premi. Kondisi ini mendorong pemain besar seperti BHP dan Rio Tinto untuk memperkuat portofolio demi mengamankan sumber daya tembaga.

Harga tembaga pekan ini menembus rekor tertinggi sepanjang masa di atas US$13.300 per ton, mencerminkan ketatnya pasokan global. Analis memperingatkan defisit tembaga dapat mencapai 10 juta ton pada 2040 jika investasi dan produksi tidak dipercepat.

Sumber yang mengetahui pembicaraan menyebut penggabungan penuh antara Rio Tinto dan Glencore menjadi salah satu opsi yang dibahas, meski detailnya belum jelas. Negosiasi ini disebut kembali dimulai pada akhir tahun lalu.

Belum jelas apakah bisnis perdagangan komoditas Glencore yang sangat besar akan disertakan dalam merger tersebut. Faktor ini dinilai krusial karena perdagangan merupakan salah satu pilar utama model bisnis Glencore.

Glencore yang berbasis di Swiss belakangan memposisikan diri sebagai perusahaan pertumbuhan tembaga, dengan CEO Gary Nagle menyatakan ambisi menjadi produsen tembaga terbesar di dunia. Saat ini, Glencore merupakan produsen tembaga terbesar keenam dunia dan produsen batu bara tercatat terbesar.

Rencana ekspansi Glencore, termasuk pengembangan tambang tembaga El Pachón di Argentina, ditargetkan mendorong produksi menjadi 1,6 juta ton per tahun pada 2035. Angka tersebut hampir dua kali lipat dari tingkat produksi saat ini.

Kedua perusahaan sebelumnya telah menjajaki merger pada akhir 2024, namun pembicaraan terhenti akibat perbedaan valuasi, isu kepemimpinan, serta masa depan aset batu bara Glencore. Sejak itu, dinamika internal di kedua perusahaan mengalami perubahan signifikan.

Rio Tinto menunjuk CEO baru, Simon Trott, yang mulai menjabat pada Agustus dan fokus pada efisiensi serta peninjauan aset. Sejumlah aset, termasuk tambang boron besar di California, kini berada dalam kajian strategis.

Di sisi lain, Glencore telah merestrukturisasi bisnis batu baranya menjadi entitas terpisah berbasis di Australia, yang dikonfirmasi pada Mei. Analis menilai struktur baru ini memudahkan opsi pemisahan bisnis batu bara menjadi perusahaan tersendiri.

Rio Tinto sendiri telah meninggalkan bisnis batu bara sejak menjual tambang terakhirnya pada 2018. Karena itu, analis menilai perusahaan ini kemungkinan enggan kembali terlibat dalam aset batu bara.

Dalam enam bulan terakhir, saham Glencore melonjak 35% didorong kenaikan harga komoditas dan strategi tembaganya. Sementara itu, saham Rio Tinto mencatat kenaikan 41% dalam periode yang sama.

Gary Nagle sebelumnya menyatakan industri tambang kekurangan skala dan relevansi akibat ukuran perusahaan yang ada saat ini. Menurutnya, pembentukan perusahaan yang lebih besar penting untuk menciptakan sinergi, meningkatkan daya tarik talenta, dan menarik modal.

Berdasarkan aturan pengambilalihan di Inggris, Rio Tinto memiliki waktu hingga 5 Februari untuk mengajukan tawaran resmi kepada Glencore atau menyatakan tidak berniat melakukannya. Tenggat waktu ini menjadi penentu arah kelanjutan negosiasi merger raksasa tersebut.

(fsd/fsd)
[Gambas:Video CNBC]
[1]

References

  1. ^ [Gambas:Video CNBC] (www.cnbcindonesia.com)

Sumber

Share this post


Link to post
Share on other sites
Masuk untuk mengikuti  

×
×
  • Create New...