Jump to content
FJB - Forum Jual Beli Indonesia
Masuk untuk mengikuti  
bot

Dilip Shanghvi, Raja Obat Generik asal India Berharta Rp428 T

Recommended Posts

Jakarta, CNN Indonesia --

Jika mencari siapa orang terkaya[1] di jagat raya dalam bisnis kesehatan, Dilip Shanghvi[2] orangnya.

Shanghvi merupakan pendiri Sun Pharmaceuticals, perusahaan farmasi terbesar di India dan salah satu produsen obat generik terkemuka dunia.

Forbes memperkirakan kekayaan tembus US$26,4 miliar atau setara Rp428 triliun per 25 Mei 2025 (asumsi kurs Rp16.250).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mayoritas kekayaan Shangvhi berasal dari 54 persen sahamnya di Sun Pharma. Raksasa farmasi ini punya lebih dari 40 pabrik, di mana produk-produknya menjangkau lebih dari 100 negara.

Shanghvi juga tercatat sebagai pemegang 66 persen saham Sun Pharma Advanced Research, anak usaha Sun Pharma di bidang riset dan pengembangan obat-obatan Sun Pharma. Ia juga punya saham di BioLight Life Sciences.

Di luar bisnis obat, pada 2015 Shanghvi menjajal bisnis energi dengan kepemilikan 4 persen saham di Suzlon Energy, produsen turbin angin.

Shanghvi lahir pada 1 Oktober 1955 di Gujarat, India. Ayahnya merupakan distributor obat grosiran, dengan toko kecil di pasar Dawa Bazar, Kalkuta.

Sedari kecil, ia sering melihat ayahnya bekerja di toko kecilnya. Saat membaca label obat, bocah Shanghvi penasaran bagaimana obat-obatan itu dibuat.

Pada 1982, Shanghvi memperoleh gelar Sarjana Perdagangan dari Universitas Kalkuta. Setelah lulus, ia langsung merancang pembangunan bisnisnya sendiri. Visinya adalah menyediakan obat-obatan berkualitas tinggi dengan harga terjangkau.

Ia meminjam modal US$200 atau sekitar Rp3,2 juta kepada ayahnya untuk memulai bisnisnya sendiri, menjual obat-obatan psikiatris.

'Modal kecil' itu ia pakai untuk memulai Sun Pharmaceutical Industries pada 1983. Bisnis itu dirintis dengan seorang rekan bernama Pradeep Ghosh, yang hingga kini masih bekerja untuk Sun Pharma.

Di awal pembentukan, obat yang dijualnya pun cuma satu, yakni Lithosun yang digunakan untuk mengobati penyakit bipolar hingga disusul sejumlah kecil obat-obatan psikiatris lainnya.

Lalu pada 1990-an, Sun Pharma membangun pabrik, sembari menambahkan lini produk obat kardiologi (jantung) dan gastroenterologi (pencernaan).

Pada 1993, Shanghvi mendirikan Pharma Advanced Research Center untuk mempercepat pengembangan obat generik.

Setahun berikutnya, Sun Pharma melantai di bursa efek India.

Usai go public, Sun Pharma berekspansi ke industri obat generik, dengan mengakuisisi perusahaan farmasi asal Amerika Serikat (AS), Caraco Pharmaceuticals yang berpusat di Detroit, pada 1997.

Pembelian Caraco memberi Sun Pharma akses ke pasar obat generik global. Akuisisi ini memudahkan urusan Sun Pharam dengan BPOM AS, karena Caraco sudah tahu seluk-beluk izinnya.

Sun Pharma tumbuh besar lewat ekspansi organik dan rangkaian strategi akuisisi. Strategi akusisi Shanghvi adalah membeli perusahaan dengan kinerja buruk, lalu menggabungkan operasi perusahaan itu dengan Sun Pharma.

Akuisisi terbesar adalah saat Sun Pharma membeli pesaingnya di India, Ranbaxy Laboratories, senilai US$3,2 miliar pada 2014. Pembelian ini mendongkrak saham Sun Pharma hingga menjadikan Shanghvi sebagai taipan farmasi terkaya di dunia.

Di masa gemilang itu, Shanghvi berhasil merebut posisi orang terkaya India dari konglomerat Mukesh Ambani pada 2015.

Shanghvi juga pernah gagal mengakuisisi. Ini terjadi saat ini ingin membeli Taro Pharmaceutical asal Israel. Usai negosiasi panjang sejak 2007, bertahun-tahun kemudian Sun Pharma akhirnya bisa mengakuisisi 61 persen saham Taro.

Pada 2011, Shanghvi menawar US$367 untuk membeli seluruh perusahaan, tetapi akhirnya mundur usai para pemilik saham Taro aji mumpung dengan menaikkan harga lebih tinggi.

Pada Mei 2012, Shanghvi menyerahkan jabatannya sebagai direktur utama Sun Pharma. Posisi itu ia berikan kepada sosok pilihannya sendiri, Israel Makov, mantan kepala eksekutif Teva Pharmaceuticals. Teva merupakan perusahaan farmasi generik terbesar dunia yang berbasis di Israel.

Usai mundur, Shanghvi mengambil peran sebagai direktur pelaksana Sun Pharma dan masih menjabat hingga sekarang.

Bisnis obat Shanghvi tak lepas dari badai, terutama di rentang tahun 2014 hingga 2018.

Pada 2015, saham Sun Pharma amblas nyaris 40 persen. Gara-garanya, Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) menemukan kekurangan produksi di salah satu pabrik terbesar Sun, memberikan surat peringatan kontrol kualitas hingga penarikan produk dari pasar AS.

Teguran FDA ini jelas berdampak pada operasional dan reputasi Sun Pharma.

Selanjutnya, pada 2018 dampak pembelian rival Ranbaxy dan ekspansi jenis obat juga berdampak pada kinerja keuangan Sun Pharma.

Pertumbuhan perusahaan terganggu buntut masalah regulasi dan perang harga. Pengeluaran juga meningkat imbas biaya investasi ke segmen jenis obat-obatan baru. Semua faktor itu menggerus laba perusahaan hingga 70 persen pada 2018.

[Gambas:Photo CNN][3]

Terpuruk tapi tak ambruk. Shanghvi tak menyerah dan terus melancarkan strategi akuisisi strategis untuk membesarkan Sun Pharma.

Secara keseluruhan, Sun Pharma telah membeli lebih dari selusin perusahaan farmasi sejak 1997.

"Kisah kami adalah tentang pertumbuhan bertahap. Kami tidak mencari lompatan besar, kami lebih suka lompatan kecil," begitulah ucapan Dilip Shanghvi yang terkenal.

Saat ini, Sun Pharma menjelma jadi perusahaan farmasi terdaftar paling berharga sekaligus terbesar di India.

Menariknya, dari pendapatan tahunan Sun Pharma yang diperkirakan mencapai US$5,8 miliar atau sekitar Rp94 triliun, 65 persennya justru disumbang pasar luar negeri.

====[4]

Masa-masa Tergelap Sun Pharma

--[5]

References

  1. ^ orang terkaya (www.cnnindonesia.com)
  2. ^ Dilip Shanghvi (www.cnnindonesia.com)
  3. ^ [Gambas:Photo CNN] (cnnindonesia.com)
  4. ^ ==== (www.cnnindonesia.com)
  5. ^ -- (www.cnnindonesia.com)

Sumber

Share this post


Link to post
Share on other sites
Masuk untuk mengikuti  

×
×
  • Create New...