bot 0 Posted Mei 15, 2025 Jakarta, CNBC Indonesia — Investor asing berduyun-duyun kembali masuk ke pasar modal Indonesia. Merujuk data Bursa Efek Indonesia (BEI), sepanjang perdagangan kemarin, Rabu (14/5/2025), net foreign buy mencapai nyaris Rp 3 triliun atau tepatnya Rp2,83 triliun. Seiring dengan hal tersebut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun bergerak naik signifikan. IHSG menguat lebih dari 2% ke posisi 6.979,88. BBRI menjadi saham yang paling banyak diincar asing dengan net foreign buy Rp 1,24 triliun. Hal ini seiring pula dengan saham BBRI yang menguat paling besar di antara saham bank jumbo. Selanjutnya BMRI juga masuk daftar saham yang paling banyak dibeli asing pada perdagangan kemarin. BMRI membukukan net buy asing sebesar Rp 668,38 miliar. Selengkapnya, mengutip Stockbit, berikut 10 saham dengan net foreign buy perdagangan Rabu! PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) - Rp1,24 triliun PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) - Rp668,38 miliar PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) - Rp528,19 miliar PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) - Rp327,47 miliar PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) - Rp78,49 miliar PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) - Rp70,19 miliar PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) - Rp68,03 miliar PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) - Rp58,09 miliar PT United Tractors Tbk. (UNTR) - Rp44,56 miliar PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) - Rp42,30 miliar Adapun pasar keuangan Tanah Air hari ini kembali bergerak di zona penguatan. Pertumbuhan penjualan ritel hingga membaiknya ramalan pertumbuhan ekonomi AS dapat mendorong laju pasar keuangan Tanah Air, mengingat AS menjadi salah satu mitra dagang penting bagi Indonesia. Investor juga menunggu data neraca perdagangan April 2025 serta pidato Ketua The Fed Jerome Powell. Sementara itu, kabar baik dari dalam negeri muncul dari Bank Indonesia (BI) yang telah merilis data penjualan eceran atau ritel Indonesia periode Maret 2025, terpantau dari Indeks Penjualan Riil/IPR tumbuh 5,5% secara tahunan (yoy). Angka tersebut lebih tinggi dari proyeksi BI sebelumnya yang sebesar 0,5%, tetapi lebih rendah dari Maret 2024 yang mencapai 9,3%. Pada Maret 2025, IPR tercatat sebesar 248,3, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada Februari 2025 sebesar 2% secara tahunan atau (yoy). Peningkatan IPR pun didorong oleh Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau, Barang Budaya dan Rekreasi, serta Subkelompok Sandang. Dalam perkembangan terpisah, Goldman Sachs mengurangi perkiraan resesi AS menjadi 35% dari 45%, menandai perusahaan pialang besar pertama yang melakukannya, sementara Barclays mengabaikan risiko resesi sepenuhnya dan J.P. Morgan menempatkan kemungkinan di bawah 50%. Pada Senin (12/5/2025), AS dan China sepakat untuk mengurangi tarif impor masing-masing selama 90 hari, dengan AS menurunkan tarifnya atas barang-barang China menjadi 30% dari 145% dan China memangkas bea atas impor AS menjadi 10% dari 125%. (mkh/mkh) Saksikan video di bawah ini: Video: Rupiah Tumbang Jelang Rilis The Fed & Perang India-Pakistan Next Article 10 Saham Ini Kompak Diborong Asing Kala IHSG Tersungkur [1]References^ Next Article 10 Saham Ini Kompak Diborong Asing Kala IHSG Tersungkur (www.cnbcindonesia.com)Sumber Share this post Link to post Share on other sites