bot 0 Posted Januari 31, 2025 Foto: Utusan Khusus Presiden RI Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo memberikan paparan dalam ESG Sustainbility Forum 2025 di Menara Bank Mega, Jakarta, Jumat (31/1/2025). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Jakarta, CNBC Indonesia - Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo mengungkapkan perdagangan di pasar karbon dalam negeri masih sangat sepi. Hashim juga menyoroti rendahnya likuiditas di bursa karbon menjadi hal penting yang harus diselesaikan, sehingga merekomendasikan akses pasar karbon RI untuk ikut dibuka kepada pelaku usaha karbon internasional. Sebagai informasi, dari sisi transaksi perdagangan karbon, secara akumulasi sejak diluncurkannya pada 26 September 2023 hingga 27 Desember 2024, tercatat volume transaksi mencapai 908.018 ton CO2 ekuivalen, dengan total nilai transaksi akumulasi mencapai Rp 50,64 miliar. Artinya rerata harga mencapai Rp 55.769 atau nyaris US$ 4 per ton ekuivalen CO2. Lebih lanjut, Hashim mengungkapkan bahkan setelah pasar karbon resmi dibuka untuk pelaku internasional awal pekan lalu, Senin (20/1/2025), pasar karbon RI juga tercatat masih sepi. "Dua minggu lalu [sejak bursa karbon dibuka ke internasional], ternyata perdagangannya amat rendah volumenya kecil sekali dari kredit 1,7 juta ton CO2 tersedia, yang laku hanya 40.000," ungkap Hashim dalam CNBC Indonesia ESG Sustainability Forum 2025, Jumat (31/1/2025). Artinya total kredit yang terserap kurang dari 3% dari suplai yang tersedia di bursa karbon lokal. (fsd/fsd) Saksikan video di bawah ini: Video: Indonesia Resmi Punya Bursa Karbon Internasional Next Article Jejak Hashim Djojohadikusumo, Pengusaha Besar Adik Prabowo [1]References^ Next Article Jejak Hashim Djojohadikusumo, Pengusaha Besar Adik Prabowo (www.cnbcindonesia.com)Sumber Share this post Link to post Share on other sites