Jump to content
FJB - Forum Jual Beli Indonesia

Archived

This topic is now archived and is closed to further replies.

Lebay

Cita-Cita Jadi Dokter Gigi, Jahja Malah Jadi Bos BCA

Recommended Posts

KISAH SUKSES

Senin, 08 Juli 2013 14:42 wib

Rezkiana Nisaputra - Okezone

QmwHJ2rC5K.jpgDirut BCA Jahja Setiaatmadja. (Foto: Okezone)

JAKARTA - Lahir dari keluarga yang sederhana, Jahja Setiaatmadja merupakan anak tunggal yang mengenyam pendidikan di Universitas Indonesia (UI) dengan mengambil jurusan akuntansi. Raut wajahnya yang bersahabat dan senyumnya yang tulus serta bersahaja, membuktikan kepercayaan diri bahwa dia mampu dan untuk menjadi orang nomor satu yang sekaligus Direktur Utama di PT Bank Central Asia Tbk (BCA).

Mengingat hal tersebut, kali ini Okezone berkesempatan untuk melakukan wawancara eksklusif dengan Direktur Utama BCA, Jahja Setiaatmadja baru-baru ini. Lalu bagaimana kisah sukses saat masih menjadi mahasiswa dan hingga sekarang yang sudah menjadi Dirut BCA, silakan untuk disimak.

Jahja Setiaatmadja yang dilahirkan dari keluarga sederhana bercerita sedikit mengenai orang tuanya dahulu semasa masih bekerja di Bank Indonesia (BI). Di tempat Ayahnya dahulu bekerja, bukanlah sebagai pejabat teras melainkan hanya sebagai karyawan biasa yang menempati jabatan kepala kasir di BI hingga 35 tahun lamanya dan pensiun di tahun 1979. Bertitik tolak dari latar belakang keluarga yang pas-pasan, terlebih pada tahun 1970-an, saat itu di BI sendiri jika dilihat dari segi gaji, honor dan segalanya masih sangatlah minim.

"Di tahun itu dan sekarang ini jelas beda kalau dilihat dari segi gaji honor dan segalanya, tahun 1970-an itu BI gajinya sangat minim-minim, apalagi hanya karyawan biasa," ujar Jahja saat wawancara khusus dengan Okezone beberapa waktu lalu di Menara BCA, Jakarta.

Jahja juga mengaku, bahwa Ayahnya baru bisa membeli rumah sendiri pun setelah pensiun di tahun 1979, di mana sebelumnya dia sempat menumpang. "Iya, Ayah saya sampai pensiun pun baru Ayah saya bisa beli rumah sendiri karena sebelumnya itu menumpang," tukasnya.

Saat dirinya lulus SMA, yakni pada 1974, dia ditanya oleh ayahnya, kamu mau terusin ke mana setelah ini? Dan dia pun menjawab dirinya ingin sekali menjadi dokter gigi. Namun demikian, permintaan Jahja di tolak mentah-mentah oleh sang Ayah karena mengingat biaya untuk sekolah menjadi dokter spesialis sangatlah mahal.

"Ayah saya bilang, ‘wah elu mau jadi dokter gigi, masuknya saja berapa? Terus terang Ayah enggak mampu ongkosin kamu untuk jadi dokter gigi’," jelasnya.

Lalu, di saat sang ayah melarang dirinya untuk menjadi dokter gigi karena keterbatasan biaya, Jahja pun diminta untuk masuk keperguruan tinggi dengan jurusan ekonomi. Dia pun sempat menolak permintaan ayahnya tersebut karena Jahja sendiri tidak begitu suka dengan jurusan ekonomi.

"Padahal terus terang saya tak suka ekonomi ada istilah bon A bon B tata buku, itu istilah zaman dulu. Lalu singkat kata, ya sudah saya bilang tak apa-apa deh masuk ekonomi daripada enggak sama sekali," keluh Jahja.

Setelah mengiyakan permintaan Ayahnya, Jahja pun mengadu nasib untuk masuk ke perguruan tinggi di UI dengan meminta antar temannya untuk mengikuti bimbingan tes di Rawamangun. Serius mengikuti tes, tersebut Jahja pun akhirnya diterima dan berkesempatan kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Jahja pun masih ingat betul bagaimana dia harus turun naik kendaraan umum untuk berangkat saat kuliah dulu. Barulah ketika menjadi mahasiswa tingkat tiga, dirinya bisa mencoba motor Honda CB 100 lantaran sang Ayah baru diberi kesempatan untuk kredit motor di tempat Ayahnya kerjanya.

"Saya naik angkot dulu, tapi karena ayah saya diberi kredit untuk ambil motor, Honda CB 100 zaman dulu itu masih keren. Nah baru pas jadi mahasiswa tingkat tiga itu saya naik itu motor," curhatnya.

Selama menginjak bangku kuliah, Jahja termasuk salah satu mahasiswa yang rajin, pasalnya dia bisa menyelesaikan masa kuliahnya dengan waktu 4,5 tahun, di mana pada saat itu kelulusan dengan durasi tersebut bisa dibilang cepat karena normalnya lima tahun barulah lulus kuliah.

"Harusnya lima tahun, tapi 4,5 tahun saya sudah selesai kuliah. Karena pada waktu itu ada semester kilat jadi dipersingkat dan cepat," tambahnya.

Di masa-masa akhir kuliahnya, ketika sedang membuat skripsi, dia menjelaskan bahwa dirinya memutuskan untuk mencari kerja untuk menambah uang saku jajannya. Dan pada 1979, Jahja diterima dan bekerja untuk pertama kalinya sebagai Junior Accountant di kantor akuntan publik Pricewater House.

"Ini pertama kali saya menginjakan kaki untuk bekerja dan mulai merintis karier dari mulai ini dan hingga dengan sampai seperti ini (menjadi Dirut BCA)," tutup Jahja. (Bersambung) (wdi)

Berita Selengkapnya Klik di Sini [h=4]Berita Terkait: Wawancara khusus Dirut BCA Jahja Setiaatmadja[/h]

 

 

p-89EKCgBk8MZdE.gif

 

Sumber

Share this post


Link to post
Share on other sites

×
×
  • Create New...