Jump to content
FJB - Forum Jual Beli Indonesia

Archived

This topic is now archived and is closed to further replies.

Parno

EDITORIAL BISNIS: Pentingnya Emergency Plan

Recommended Posts

Di tengah krisis ekonomi global yang berlangsung sekarang, Indonesia justru berada dalam kondisi yang mantap dalam iklim investasi. Beberapa indikasinya adalah pemberian predikat layak investasi (investent grade) dari sejumlah lembaga pemeringkat internasional.

 

Data Badan Koordinasi Penanaman Modal juga menggambarkan betapa Indonesia benar-benar menjadi primadona tujuan investasi yang ditandai dengan peningkatan secara drastis nilai penanaman modal sepanjang 10 bulan terakhir, dan hingga akhir tahun diperkirakan mencapai Rp300 triliun.

 

Sayangnya, data yang begitu impresif tadi tidak diikuti dengan kinerja sektor riil. Di sektor manufaktur, pemerintah bahkan terpaksa merevisi target pertumbuhan ta hun ini dari 7,05% menjadi hanya 6,67%.

 

Kondisi yang sama terjadi pula di sektor perdagangan. Kinerja ekspor yang cenderung melemah memaksa pemerintah memangkas target pertumbuhan ekspor tahun ini menjadi minus 5%-7% dari realisasi tahun lalu yang mencapai US$203 miliar.

 

Padahal, pada awal tahun pemerintah menargetkan kinerja ekspor tumbuh 0% alias sama dengan pencapaian tahun sebelumnya. Pada kenyataannya realisasi ekspor lebih rendah dari pada yang ditargetkan sehingga revisi tar get terpaksa harus dilakukan.

 

Menyimak data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor Januari-September 2012 hanya tercatat US$143 miliar atau lebih rendah 6,06% dibandingkan dengan realisasi pada periode sama tahun lalu.

 

Dengan melihat tren pengapalan barang sepanjang 9 bulan terakhir, diperkirakan nilai ekspor hingga akhir tahun hanya mampu mencapai ang ka US$190 miliar atau di bawah realisasi tahun lalu yang tercatat US$203 miliar.

 

 

Perlambatan kinerja ekspor ini menimbulkan ke cemasan akan terjadinya defisit neraca perdagangan mengingat selama 9 bulan per tama, nilai surplus yang diraih hanya US$1,03 miliar, jauh di bawah sur plus pada 2011 yang mencapai US$26,32 miliar.

 

Perlambatan kinerja ekspor maupun penurunan pertumbuhan industri manufaktur, keduanya sama-sama disebabkan oleh faktor krisis ekonomi yang mendera kawasan Eropa dan Amerika Serikat sebagai pasar utama.

 

Seharusnya, pelemahan permintaan di kedua kawasan itu—yang tercatat merupakan pasar tradisional—dapat diantisipasi jika sejak awal pemerintah menyiapkan skenario darurat (emergency plan) antara lain berupa pemberian insentif dan berbagai kemudahan kepada pengusaha.

 

Indonesia telah berulang kali mengalami imbas atas krisis yang terjadi di negara lain, tetapi selama itu pula pemerintah tidak pernah belajar bagaimana menyusun emergency plan untuk menjaga agar target-target pertumbuhan industri dan perdagangan dapat dicapai.

 

Tindakan yang paling mudah dan selalu dilakukan adalah merevisi target, hal yang sebetulnya justru merefleksikan bahwa pemerintah tidak cukup serius dalam upaya mencapai target-target yang sudah ditetapkannya sendiri.

 

Kita berharap, kegagalan dalam meraih target pertumbuhan kali ini mendorong pemerintah untuk senantiasa menyiapkan emergency plan guna mengantisipasi segala kemungkinan dan ketidakpastian yang terjadi di lingkungan domestik maupun internasional.

 

 

 

p-89EKCgBk8MZdE.gif

 

Sumber

Share this post


Link to post
Share on other sites

×
×
  • Create New...