Jump to content
FJB - Forum Jual Beli Indonesia

Archived

This topic is now archived and is closed to further replies.

Parno

BANK INDONESIA: Selama 2012 ada 283 masalah kartu & fasilitas kredit

Recommended Posts

MAKASSAR : Bank Indonesia Wilayah I Sulawesi Maluku Papua (Sulampua) menyatakan sepanjang Januari 2012 hingga Oktober 2012 terdapat 283 laporan keluhan nasabah terkait permasalahan kartu kredit dan fasilitas perkreditan dari perbankan.

 

Pemimpin BI Wilayah I Sulampua Arief Budi Santoso mengatakan pengaduan nasabah yang diterima BI berdasar laporan secara lisan dan tulisan.

 

Secara umum banyak nasabah melaporkan keluhannya mengenai suku bunga yang berbeda pada kartu kredit, mengenai akad kredit, fasilitas perkreditan seperti Kredit Perumahan Rakyat (KPR), jaminan kredit, rekening koran, bilyet giro, dan pemblokiran rekening.

 

Tingginya laporan keluhan nasabah tersebut, lanjut Arief, diakibatkan sebagian besar diakibatkan masih kurangnya pemahaman nasabah tentang perbankan serta kurang memperhatikan masa berlaku kreditnya. "Selain itu, nasabah juga kadang tidak mengerti perhitungan kredit masalah agunan dan sistem informasi yang nasabah tidak mengerti," paparnya di sela-sela Pertemuan CP Perbankan Wilayah Makassar, bertempat di Hotel Grand Clarion Makassar, Selasa (23/10/2012).

 

Kendati demikian, keluhan dari nasabah tersebut pada umumnya diserahkan ke bank bersangkutan untuk kemudian diproses dan diselesaikan.

 

"Kami juga mencoba menjalin kerjasama dengan Ombudsman Makassar, mengingat tidak sedikit nasabah bank yang melaporkan permasalahan perbankannya ke lembaga ini. Ini juga untuk lebih mempercepat penyelesaian keluhan nasabah, mengingat jika hanya Ombudsman saja tanpa ada koordinasi dengan BI tentu sulit, apalagi Ombudsman tidak bisa masuk secara langsung untuk menyelesaikan persoalan nasabah, karena bank berbeda dengan lembaga keuangan lain seperti asuransi dan sebagainya," jelas Arief.

 

Menurutnya, dari data BI Wilayah I Sulampua hingga triwulan III 2012 LDR perbankan di Sulsel telah mencapai 130,25 persen, jauh lebih tinggi dari rata-rata nasional yang hanya mencapai sekitar 80 persen. Sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) yang terhimpun sebesar Rp49,29 triliun, hanya meningkat 25,38 persen (yoy), terutama pada jenis Giro dan Tabungan.  Sementara Kredit yang disalurkan  tumbuh 24,04 persen (yoy) atau menjadi Rp 64,19 triliun.

 

"Ini menunjukkan semakin banyak masyarakat yang menggunakan falisitas perbankan pada wilayah Sulampua yang kemudian bisa berpengaruh pada pengaduan nasabah terkait permasalahan perbankan," tutup Arief. (k56/msb)

 

 

p-89EKCgBk8MZdE.gif

 

Sumber

Share this post


Link to post
Share on other sites

×
×
  • Create New...