Jump to content
FJB - Forum Jual Beli Indonesia

mother

Members
  • Jumlah Konten

    917
  • Bergabung

  • Kunjungan terakhir

Seller statistics

  • 0
  • 0
  • 0

Reputasi Forum

0 Neutral

Tentang mother

  • Rank
    Super Silver
  1. KOMPAS.com - Berapa berat badan bayi yang ideal? Untuk menjawabnya jangan pernah membandingkan bayi Anda dengan bayi tetangga yang chubby dan gemuk. Membandingkan bayi sendiri dengan bayi lain bukan langkah tepat. Mengingat berat badan setiap bayi sangat individual tergantung faktor genetik, bahkan juga zat gizi yang dikonsumsi ibu ketika hamil. Oleh sebab itu, daripada "galau" melihat bayi lain, lebih baik mengacu pada grafik pertumbuhan bayi bersumber dari WHO untuk memonitor berat badan dan panjang bayi si kecil setiap bulannya. Bayi baru lahir dinilai memiliki berat badan (BB) normal bila jumlahnya sekitar 2.500-4.000 gram. Selanjutnya, pertambahan BB berbeda, ada yang sedikit juga banyak. Di minggu pertamanya bayi akan mengalami penurunan BB sekitar 5-7 persen dari berat lahir. Namun tak perlu khawatir dengan penurunan BB ini karena ini merupakan masa bagi bayi untuk menyesuaikan diri dengan dunia luar. Artinya, kejadian ini normal saja. Selama di dalam rahim, janin banyak minum air dan dikeluarkan setelah ia lahir dalam bentuk air kemih. Justru karena cairan tubuh yang berkurang ini akan memudahkan adaptasi bagi sistem pernafasan dan kardiovaskular. Untuk mengimbangi pengurangan BB tersebut, sangat dianjurkan agar bayi diberi ASI sebanyak 8-15 kali sehari, mulai hari ke-3 atau ke-4. Dengan demikian, harapannya pada 2-3 minggu ke depan BB yang menurun tersebut dapat pulih kembali. Selanjutnya BB bayi akan bertambah sekitar 175-225 gram setiap minggunya. Pada bulan pertama biasanya kenaikan BB rata-rata bayi mencapai 500-1.400 gram. Pada bulan kedua BB bayi akan bertambah sekitar 1 kg dari berat tubuhnya waktu lahir. Pada bulan ke-2, BB bayi akan mencapai 3,5-6,8 kg. Jadi, setiap bulan diharapkan BB bayi bertambah. Umumnya, di usia empat atau enam bulan, BB si kecil bertambah dua kali lipat dari berat lahir. Kemudian pertambahan BB melambat. Meski melambat, pertambahan masih tetap harus dalam kategori normal berdasar kurva untuk memantau pertumbuhan bayi. (Tabloid Nakita/Hilman Hilmansyah) Editor : wawa Sumber
  2. KOMPAS.com - Kebiasaan makan sehat terbentuk sejak masa balita. Untuk memulai kebiasaan makan sehat, balita butuh contoh dari orangtuanya. Dokter keluarga di London dan dosen di Imperial College Medical School, dr Carol Cooper punya kiatnya untuk para orangtua. Kebiasaan makan sehat pada anak bisa dimulai sejak dini dengan pengaruh besar dari orangtua. Dr Carol mengatakan orangtua perlu menyiapkan waktu khusus saat makan, dengan menikmati hidangan bersama balita. Di waktu inilah orangtua bisa mengajarkan sekaligus mencontohkan makan makanan sehat termasuk tata krama saat makan. Yang juga tak kalah penting, berikan contoh pada balita bagaimana cara menikmati makanan. Selanjutnya, memberi makan pada balita memang punya tantangan tersendiri. Balita bukan lagi bayi yang mengandalkan orangtuanya untuk makan namun belum cukup besar untuk bisa menyantap sendiri makanannya. Untuk membantu balita menikmati makanannya dan memiliki kebiasaan makan sehat, sediakan makanan yang bervariasi setiap harinya. Sajikan makanan segar, yogurt, sereal tanpa rasa. Untuk membuatnya lebih menarik dan merangsang nafsu makan balita, bentuk makanan sehingga memberikan hiburan visual untuk anak. Bentuk makanan padat menjadi bintang dan lainnya. Makan menjadi lebih menyenangkan bagi balita, ini tujuan utamanya. Selain itu, balita kerap merasa haus. Jadi, tawarkan balita minuman atau air putih secara rutin. Namun sebaiknya jangan terlalu dekat dengan waktu makan karena khawatir ia kekenyangan sebelum menyantap makanannya. Dengan orangtua menyontohkan dan strategi yang tepat, perlahan balita bisa membangun kebiasaan makan sehat yang akan dibawanya hingga dewasa kelak. Sumber: Huffington Post Editor : wawa Sumber
  3. KOMPAS.com - Pada perjalanan usia si kecil, bila didapati berat badannya ternyata terus merosot, perlu diteliti apakah ada sesuatu masalah yang menjadi pemicunya. Misal, muncul penyakit kronis atau terjadi kelainan sistem pencernaan, hormonal, dan sebagainya. Berat badan (BB) bayi yang terus merosot bisa jadi juga karena asupan gizi si kecil tak mencukupi lantaran ada masalah menyusui sehingga ia tak mendapatkan ASI dengan baik. Bila diketahui ada masalah kesehatan, tentu perlu dilakukan pemeriksaan dan penanganan secara medis. Lain hal bila karena bayi kurang mendapatkan asupan ASI tentu perlu dipastikan bayi dapat menyusu dengan baik. Perhatikan posisi dan pelekatan menyusui yang benar, frekuensi menyusui setidaknya dua jam sekali, melakukan pijat payudara sebelum menyusui agar produksi ASI melimpah dan sebagainya. Di sisi lain, ibu menyusui juga perlu mengonsumsi makanan bergizi seimbang agar kualitas ASI baik. Upaya lain yang bisa dilakukan adalah pijat bayi. Cara ini dinilai dapat melancarkan fungsi sistem pencernaan sehingga BB bayi diharapkan kembali meningkat. Sebaliknya, bila BB si kecil didapatu terus bertambah bahkan melebihi grafik normal tentu perlu diperhatikan juga. Boleh jadi karena si kecil dijejali susu formula di mana tak semua zat didalamnya terserap tubuh. Berbeda dengan ASI di mana zat yang terkandung didalamnya terserap 100 persen oleh tubuh. Bila berat badan bayi terus bertambah melebihi grafik normal, dikhawatirkan terjadi overweight. Karena itu sebaiknya teliti lagi pola pemberian makan bayi. Kalau terlalu banyak susu formula, sebaiknya mulai kurangi. Untuk bayi usia 0-6 bulan dianjurkan diberikan full ASI. Setelah usia enam bulan, bayi mendapatkan makanan pendamping selain ASI. (Tabloid Nakita/Hilman Hilmansyah) Editor : wawa Sumber
  4. KOMPAS.com - Pemeriksaan kehamilan penting bagi ibu untuk menyelamatkannya dari berbagai risiko. Karenanya ibu hamil perlu rutin memeriksakan kehamilan dengan tatap muka bersama dokter lewat konsultasi langsung. Namun belakangan semakin banyak bermunculan akun Twitter dokter yang melayani "konsultasi" seputar kehamilan. Merespons fenomena ini, salah satu pendiri gerakan Selamatkan Ibu, dr Sophia Hage mengatakan mencari informasi di Twitter tak bisa menggantikan konsultasi langsung ke dokter. Saat konsultasi langsung, ada unsur edukasi, terapi, diagnosa dan pengobatan. Diagnosa dan pengobatan ini yang tidak bisa dilakukan lewat Twitter karena tidak ada pemeriksaan langsung. "Konsultasi langsung tidak bisa digantikan dengan kata-kata yang terbatas 140 karakter di Twitter, selain tidak adanya pemeriksaan fisik yang penting untuk mendiagnosa," jelasnya di sela peluncuran gerakan Dayakan Indonesia di Jakarta. Bertanya dengan dokter lewat Twitter sebatas mencari informasi awal. "Sebagai edukasi, Twitter bisa dioptimalkan. Setidaknya kita bisa tahu apa yang harus dilakukan pertama kali," ungkap dr Sophia. Ia menambahkan, diagnosa dan pengobatan tak bisa dilakukan dokter lewat Twitter. Memberi resep dengan menyebutkan merek obat tertentu juga tak boleh dilakukan lewat media sosial. Meski begitu, dr Sophia mengakui, komunikasi lewat Twitter dengan tenaga medis tetap berguna. Namun jangan puas melakukan konsultasi kesehatan lewat media sosial. Apalagi hanya mengandalkan informasi di Twitter untuk membuat keputusan atau tindakan terkait kehamilan. Editor : wawa Sumber
  5. KOMPAS.com - Penting bagi calon ayah dan calon ibu untuk membekali diri dengan pengetahuan yang baik dan menyeluruh saat menjalani kehamilan, hingga menyiapkan persalinan agar terhindar dari berbagai risiko kehamilan. Dengan pengetahuan yang baik, calon orangtua bisa mencegah berbagai risiko kehamilan atau setidaknya dapat mengantisipasinya lebih baik. Termasuk risiko pendarahan, infeksi, dan eklampsia yang menjadi penyebab kematian ibu saat melahirkan. Salah satu pendiri gerakan Selamatkan Ibu, dr Sophia Hage, mengatakan risiko kematian ibu ini perlu menjadi perhatian semua orang. Perempuan di daerah yang minim akses informasi menjadi sasaran utamanya. Meski begitu, lanjut dr Sophia, perempuan di kota besar yang dikelilingi dengan berbagai fasilitas dan mudah mendapatkan informasi juga masih perlu membekali diri dengan pengetahuan yang tepat. "Meski tinggal di kota besar, dengan tersedianya berbagai fasilitas, belum tentu lepas dari risiko kehamilan. Dengan memiliki pengetahuan yang baik, setidaknya ketika terjadi sesuatu saat menjalani kehamilan, ibu tetap selamat," ungkapnya. Menurutnya, risiko kehamilan tetap ditemui di kota besar lantaran karakteristik masyarakat kota merasa sudah aman dan terlanjur nyaman. "Di kota, orang merasa sudah terlindungi karena tersedianya ragam fasilitas. Juga merasa sudah aman karena sudah kontrol rutin. Padahal meski kontrol kehamilan sudah rutin belum tentu tidak berisiko,"jelasnya. Karenanya, ibu perlu memiliki pengetahuan yang menyeluruh terhadap kualitas kandungannya apakah normal atau berisiko. Selain tentunya melakukan pemeriksaan kehamilan yang baik dan teratur, juga perencanaan matang seperti memperhitungkan jarak tempuh dari tempat tinggal ke rumah sakit, memilih rumah sakit, dan mengatur siapa yang akan mengantar bersalin. Jika semua hal ini dilakukan, risiko kematian ibu dengan berbagai penyebabnya pun bisa dicegah, atau setidaknya dapat diantisipasi lebih baik. Editor : wawa Sumber
  6. KOMPAS.com - Setelah beberapa tahun menikah dan melakukan hubungan seksual rutin, belum juga memperoleh momongan? Anda perlu segera memeriksakan diri ke dokter, karena kondisi ini digolongkan sebagai infertilitas. Suami istri perlu menjalani pemeriksaan menyeluruh dan dilakukan bersamaan. Suami akan ditangani oleh seorang androlog atau urolog, sementara istri ditangani oleh ahli kandungan dan kebidanan. Dari pemeriksaan, akan diketahui beberapa masalah fisik yang bisa menyebabkan infertilitas sebagai berikut: Sumbatan vagina Ada dua jenis sumbatan yang kerap terjadi, yakni sumbatan anatomik dan vaginismus. Untuk sumbatan anatomik karena bawaan, sedangkan vaginismus karena pengerutan liang vagina akibat faktor psikologis. Selain itu, sumbatan pada vagina juga dapat disebabkan oleh adanya peradangan. Peradangan ini dapat muncul lantaran bakteri yang mengakibatkan kadar keasaman pada liang vagina terlalu berlebihan, sehingga sperma dapat gagal memasuki rahim. Penyakit yang dapat menyebabkan bakteri pada liang vagina ini antara lain penyakit gonorea, sifilis, trikomoniasis, kandidiasis, amubiasis, atau kista vagina. Sumbatan pada vagina bisa diatasi dengan pengobatan. Bila pengobatan tidak memungkinkan akan dilakukan pembedahan agar vagina dapat berfungsi normal. Terakhir, bila cara ini tidak mendapatkan kehamilan dapat dilakukan program inseminasi atau bayi tabung. Gangguan pada leher, mulut, dan bentuk mulut rahim Penyebab gangguan pada mulut rahim dapat berupa: * Sumbatan pada leher rahim. * Lendir pada mulut rahim yang tidak normal sehingga lendir menjadi terlalu kental atau cair yang mengakibatkan sperma terhambat menuju rahim. * Bentuk mulut rahim yang tidak normal sehingga dapat mengganggu penyampaian sperma ke rahim. Untuk mengatasi permasalahan di mulut rahim ini dapat dilakukan pengobatan bila berkaitan dengan kondisi lendir yang bertugas mengantarkan sperma ke rahim. Tapi, kalau berkaitan dengan bentuk mulut rahim yang memang sudah tidak sempurna maka harus dilakukan pembedahan agar mulut rahim dapat berfungsi normal sebagai jalur sperma menuju rahim. Bila cara ini tidak dapat mengatasi masalah maka harus dilakukan inseminasi atau bayi tabung. Gangguan pada rahim Masalah lain yang dapat mengganggu transportasi sperma menuju rahim adalah kelainan rongga rahim yang disebabkan sinekia, mioma atau polip, peradangan endometrium, dan gangguan kontraksi uterus. Sperma tidak mungkin melakukan migrasi karena gerakannya sendiri. Gerakan sperma dibantu oleh kontraksi yang terjadi antara vagina dan uterus. Kontraksi ini memegang peranan penting dalam transportasi sperma ke dalam rahim hingga ke saluran telur. Prostaglandin (senyawa asam) dalam cairan sperma dapat membuat rahim berkontraksi secara ritmik. Kurangnya prostaglandin dalam sperma akan memengaruhi perjalanan sperma. Kelainan-kelainan tersebut dapat mengganggu implantasi, pertumbuhan intrauterine, dan nutrisi serta oksigenisasi janin. Untuk mengatasi ini diperlukan beragam cara, mulai pengobatan hingga pembedahan. Permasalahan lain yang mungkin terjadi pada rahim adalah kelainan bawaan semenjak lahir berupa kelainan bentuk rahim. Kelainan bawaan ini seperti tidak memiliki rahim, rahimnya kecil, terdapat dua rahim, rahim berbentuk hati, rahim bersekat, dan rahim bertanduk. Kecuali kelainan tidak memiliki rahim, semua kelainan itu dapat diusahakan memiliki anak. Tentunya dengan pengobatan yang berbeda berdasarkan kelainan yang dimiliki. Untuk rahim yang kecil dapat dilakukan terapi hormonal agar rahimnya dapat membesar hingga ukuran normal. Sedangkan untuk bentuk rahim lainnya harus dilakukan operasi untuk mengoreksi bentuk rahim. Masalah di saluran telur Kelainan saluran telur yang dimaksud adalah hidrosalping, yaitu tuba yang membesar seluruhnya atau tuba yang menebal. Penyebab kerusakan di dinding tuba adalah infeksi atau adanya endometriosis. Selain hidrosalping, terdapat juga tuba yang pendek, yang disebabkan tekukan pada beberapa tempat dan perlekatan tuba. Perlekatan dapat mengganggu pergerakan fimbriae dan menahan ovarium. Kelainan pada saluran telur dapat diatasi dengan operasi untuk memperbaiki dan mengembalikan anatomi tuba dan indung telur seperti semula. Sedangkan endometriosis pada saluran telur dapat diusahakan kesembuhannya melalui pengobatan berupa obat-obatan hormonal. Bila sudah tidak memungkinkan dengan pengobatan, perlu dilakukan pembedahan. Bisa dengan bedah mikro, bedah konvensional, atau laparoskopi. Masalah tidak terjadinya kehamilan bisa juga disebabkan gangguan pada indung telur, seperti adanya tumor atau kista, yang tersering berupa kista endometriosis. Untuk mengatasi gangguan kista endometriosis dapat dengan pengobatan atau pembedahan untuk mengangkat tumor tersebut. (Tabloid Nakita) Editor : Dini Sumber
  7. KOMPAS.com – Tak hanya orang dewasa yang membutuhkan perlindungan dari paparan sinar matahari; buah hati Anda juga membutuhkan hal yang sama. Efek buruknya pun tak hanya terasa pada kulit, tetapi juga mata. Untuk menghindari bahaya yang ditimbulkan, ada sedikit tips yang bisa Anda terapkan untuk menjaga kesehatan mata anak Anda. "Ada banyak penelitian yang menunjukkan, sinar matahari berdampak buruk untuk mata anak Anda,” ujar James McDonnell, MD, direktur medis di Loyola University Health System dan profesor oftalmologi di Loyola University Chicago Stritch School of Medicine. "Sinar matahari yang berlebihan dapat menyebabkan penuaan pada lensa dan kerusakan pada retina mata." Orangtua harus berhati-hati menjaga perlindungan mata anak mereka agar tidak terlalu terkena paparan sinar matahari langsung. Anak-anak dengan kulit yang cenderung masih alami dan memiliki mata yang berwarna lebih terang, lebih rentan terhadap paparan sinar matahari yang terlalu banyak, demikian menurut McDonnell. "Sensitivitas cahaya matahari juga menurun dalam keluarga. Jika Anda sensitif terhadap paparan cahaya, kemungkinan anak Anda akan serupa," tambah McDonnell. Sinar matahari terlalu banyak dapat berakibat buruk bagi mata anak Anda, tetapi terlalu sedikit juga bisa merugikan. Jadi sebaiknya Anda tidak menghindari sinar matahari sama sekali. Karena, bagaimanapun mata anak-anak membutuhkan sinar matahari. Paparan sinar matahari melakukan banyak hal baik bagi tubuh, seperti memproduksi melatonin, dan penting untuk siklus tidur Anda. Sebagai aturan umum, McDonnell mendesak para orangtua untuk membekali anak-anak mereka dengan kacamata hitam untuk melindungi mata mereka dari paparan sinar matahari secara langsung. Atau, gunakan topi saat bermain di bawah sinar matahari selama lebih dari 20 menit. Yang perlu Anda ketahui juga, tidak semua kacamata baik untuk anak-anak Anda. "Ada banyak kacamata yang tidak efektif untuk melindungi mata anak-anak dari sinar matahari," kata Dr McDonnell. Berikut beberapa tips saat memilih kacamata hitam yang tepat untuk anak Anda: * Kacamata anak-anak harus memiliki bingkai yang membungkus ke sekeliling untuk melindungi mata mereka dari cahaya yang menimpa dari samping. * Lensa harus cukup transparan agar dapat dilihat oleh mata anak Anda. * Lensa hitamnya harus bebas dari bahan kimia berbahaya seperti phthalates atau bisphehol. * Pilih model kacamata yang pas dan nyaman untuk mata anak. * Carilah lensa yang mengandung perlindungan sinar UVA dan UVB. Sumber: SheKnows Editor : Dini Sumber
  8. KOMPAS.com - World Health Organization (WHO) menyebutkan, ada empat gangguan kesehatan yang sering menyerang anak, yaitu flu, radang tenggorokan, diare, dan tifus. Semua gangguan kesehatan ini berkaitan dengan daya tahan tubuh. Artinya, kalau daya tahan tubuh lemah, maka anak lebih berisiko terkena. Oleh sebab itu, mewaspadai gangguan-gangguan kesehatan ini akan membantu ayah ibu untuk menjaga anak-anaknya agar terhindar. Ada pun gangguan-gangguan kesehatan itu adalah: 1. Flu Sering disebut dengan influenza. Penyebabnya adalah virus influenza. Gejalanya diawali dengan batuk-pilek, demam/panas tinggi, anak menggigil, sakit tenggorokan, otot pegal-pegal dan mata terasa panas dan merah. Penanganan: Kebanyakan influenza akan sembuh dengan sendirinya (self limited disease) asalkan anak beristirahat yang banyak, mengonsumsi vitamin C, dan diberi minum yang banyak. Jadi tak perlu buru-buru memberikan obat antibiotik. Cukup diobati sesuai gejalanya. Misalnya, kalau demam maka diberi penurun panas, kalau batuk diberi obat batuk. Pencegahan: Mengingat virus flu menular lewat udara ataupun bersin, maka sebaiknya menggunakan masker sehingga virus tidak menular melalui udara maupun percikan ludah. 2. Radang tenggorokan Radang tenggorokan (faringitis), sejatinya adalah infeksi pada tenggorokan. Paling banyak menyerang anak usia batita, dan akan menyerang saat daya tahan tubuh kurang baik, misalnya karena kurang beristirahat. Penyakit ini disebabkan oleh virus, dan penularannya melalui butiran halus air ludah (droplet) yang mengandung kuman yang ada di udara dan terhirup saat bernafas. Gejalanya, demam, sakit tenggorokan, batuk, linu-linu pada otot, sakit kepala, serta keluar air mata tapi mata tak berwarna merah. Namun jika terkena cahaya akan merasa silau. Biasanya anak menjadi kurang aktivitasnya, banyak diam, dan terkadang rewel. Kejadian radang tenggorokan wajar antara 6-7 kali per tahun. Jika lebih dari itu, orangtua harus waspada. Biasanya ini terjadi pada anak-anak yang alergi atau yang daya tahannya kurang. Pada anak dengan alergi atau yang daya tahan tubuhnya kurang, mudah terkena radang tenggorokan. Penanganan: Umumnya radang tenggorokan dapat sembuh sendiri meski tak diobati. Cukup dengan banyak istirahat dan makan makanan bergizi. Biasanya pemberian obat berupa obat simptomatik untuk mengatasi gangguan yang terjadi. Bila ringan, radang tenggorokan perlu minimal 3-5 hari untuk penyembuhan. Pemberian antibiotik dilakukan bila dijumpai demam mendadak, ada pembesaran kelenjar getah bening di sekitar leher, ada detritus (warna "keputihan" di tenggorok), dan peningkatan sel darah putih. Pencegahan: Pencegahan radang tenggorok yaitu dengan menjauhkan anak dari orang yang terkena radang tenggorokan. Jika tak memungkinkan, maka anak bisa menggunakan masker. Selain itu, berikan makanan yang bergizi dan istirahat yang cukup. 3. Diare Anak dikatakan diare bila buang air besar (BAB) lebih dari empat kali dalam kurun waktu 24 jam atau satu kali BAB encer dan menyembur (mencret). Diare merupakan salah satu gejala adanya gangguan atau penyakit infeksi saluran cerna. Biasanya diare berkaitan dengan tingkat higienis yang rendah. Penyebabnya bisa oleh rotavirus, bakteri, atau bahan yang tidak dibutuhkan tubuh. Umumnya, akibat rotavirus yang masuk lewat mulut. Penanganannya, tidak lantas dengan memberikan obat antidiare. Biarkan tubuh mengeluarkan hal-hal tak perlu dari tubuhnya. Penanganan: Selama diare berlangsung, anak harus selalu mendapat asupan nutrisi dan cairan. Jika masih bayi dengan asupan ASI. Suplai harus lebih banyak ketimbang yang dikeluarkan tubuh. Bantu juga dengan pemberian larutan gula-garam atau oralit, atau oralit khusus anak. Berikan setiap kali anak sehabis diare. Pemberian pada anak di bawah 2 tahun sebanyak 50-100 ml cairan oralit maupun cairan rumah tangga. Pada anak di bawah 10 tahun sebanyak 100-200 ml. Di usia 10 tahun ke atas berikan cairan sebanyak yang diinginkan. Selama diare sebaiknya hindari buah-buahan, kecuali pisang. Kandungan zat pektin dalam pisang dipercaya mampu mengeraskan tinja. Cara yang dilakukan ini untuk menghindari anak dari dehidrasi sekaligus meningkatkan daya tahan tubuh. Diharapkan, tubuh anak akan mampu memusnahkan sendiri penyakitnya. Bila diarenya dalam sehari itu membuat anak tampak lemas, tidak bergairah, BAB selalu cair dan menyembur, segera larikan ke rumah sakit terdekat. Apalagi jika fesesnya berlendir atau berdarah (sekalipun hanya berupa bercak atau vlek). Pencegahan: Pencegahan diare dengan selalu menjaga kebersihan diri maupun lingkungan. Antara lain membiasakan anak untuk cuci tangan sebelum dan sesudah makan. Cucilah tangan minimal 20 detik, dengan menggunakan air bersih mengalir dan sabun. Jaga kebersihan peralatan makan dan minum anak. Perhatikan pula kebersihan dan keamanan makanan anak. 4. Tifus Dalam istilah kedokterannya disebut dengan demam tifoid. Penyebabnya adalah bakteri Salmonella typhi. Kuman ini hidup di air kotor, makanan tercemar, dan lingkungan kotor lainnya. Masa inkubasi tifus rata-rata 7-14 hari. Gejala umumnya, demam dengan suhu 38-39 derajat Celcius, sakit kepala, mual, muntah, nafsu makan menurun, sakit perut, diare atau justru sembelit (sulit buang air besar) selama beberapa hari. Anak tampak lemah dan lesu. Peningkatan suhu bertambah setiap hari dengan teratur. Misalnya selalu menjelang malam hari atau selalu siang hari dan malamnya mereda. Setelah seminggu gejala demam tak hilang meski sudah diberi penurun panas, maka dilakukan tes Widal untuk mengetahui kepastian tifus tidaknya. Biasanya pada minggu kedua gejala lebih jelas, dengan demam semakin tinggi, lidah kotor, bibir kering, dan kembung. Penanganan: Pengobatan dilakukan dengan pemberian obat-obatan oleh dokter, banyak beristirahat di tempat tidur, tak banyak bergerak, serta banyak minum. Waktu penyembuhan bisa makan waktu dua minggu hingga satu bulan. Penderita juga dipantang mengonsumsi makanan berserat tinggi, juga makanan yang berisiko menimbulkan kontraksi pada pencernaan seperti makanan pedas atau asam. Pasien dianjurkan mengonsumsi makanan berprotein tinggi seperti daging, telur, susu, tahu, tempe, dan lain-lain. Hal ini dapat membantu daya tahan tubuh sehingga waktu penyembuhan pun semakin cepat. Pencegahan: Pencegahan dilakukan dengan pemberian vaksinasi tifoid setiap tiga tahun, anak diajarkan hidup sehat seperti mencuci tangan sebelum makan, tidak jajan sembarangan bagi anak yang sudah lebih besar. (Tabloid Nakita) Editor : Dini Sumber
  9. KOMPAS.com - Setiap fase perkembangan dan pertumbuhan anak pasti jadi momen yang berharga bagi orangtua. Namun yang perlu diketahui, semua anak memiliki tingkat perkembangan yang berbeda. "Jangan berpikir bahwa tiap anak punya tahap perkembangan yang sama. Dan momen penting dalam pertumbuhan anak bukan pada seberapa cepat dia bisa membaca, berjalan, atau bicara. Tetapi kesesuaian usia dan kemampuannya," ungkap Carrie Lupoli, pakar pengasuhan anak, saat workshop "The Joy of Learning" di Four Seasons Hotel, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu. Jika disesuaikan dengan usianya, ada beberapa tahap perkembangan penting yang harus diperhatikan. 1. Baru lahir sampai lima bulan * Di usia ini, bayi sudah mampu mengenali wajah orang sedikit demi sedikit. * Bayi sangat suka melihat sekeliling dan mendengarkan. * Mereka juga sangat suka dipijat pelan-pelan. * Untuk merangsang inderanya Anda harus sering memberinya perhatian, mendengarkan ocehannya, dan juga membelainya. * Yang menggemaskan, di usia ini mereka juga suka mengoceh dan tersenyum manis. * Untuk memberinya rasa aman dan perasaan dicintai, sering-seringlah memeluk mereka. 2. 6-8 bulan * Mulai mengenali permukaan permainan, dan ini berfungsi untuk merangsang kemampuan bermainnya. * Di usia ini mereka suka sekali memasukkan berbagai benda ke dalam mulutnya. Hal ini berfungsi untuk merangsang sensor mereka. * Mereka juga mulai berusaha menggerakkan badannya dan duduk. * Bayi suka mengulang-ulang berbagai hal yang dilakukannya, lagi dan lagi. * Mulai belajar merangkak. 3. 9-11 bulan * Belajar mendorong tubuhnya dan mulai berjalan. * Memiliki tingkat penasaran yang sangat tinggi pada banyak hal. * Mulai tahu sebab-akibat. Misalnya, ketika menekan boneka maka bonekanya akan mengeluarkan bunyi. * Perlu belajar menyentuh dengan lembut, karena selama ini mereka lebih banyak "memukul" dan menyentuh barang dengan sekuat tenaga. 4. 12-17 bulan * Makin semangat dan aktif bicara walau belum jelas. * Belajar banyak perbendaharaan kata. * Menirukan gerakan dan kata-kata. * Aktif bergerak. 5. 18 bulan ke atas * Belajar perbendaharaan kata, menyusun kalimat panjang, dan bercakap-cakap. * Tertarik pada cara kerja suatu benda, dan gemar mengeksplorasi banyak hal. * Kemampuan mengingatnya makin tinggi. * Aktif bergerak, melompat, mendorong, dan menarik. Editor : Dini Sumber
  10. KOMPAS.com - Memasak sendiri makanan harian bisa dilakukan anak-anak usia sekolah. Orangtua bisa mulai mengajarkan memasak dengan memberikan kepercayaan kepada si kecil. Dengan demikian, setiap kali anak ingin makan, ia bisa berkreasi dengan masakan di rumah, tidak menjadi konsumtif dengan meminta dibelikan makanan tertentu. Chef profesional masakan Indonesia dari Aku Cinta Masakan Indonesia (ACMI), Ade Suherman, melatih putra sulungnya Muhammad Rizki Abadi (10) untuk memasak sejak usia tujuh. Menurutnya, anak perlu dilatih memasak sendiri saat waktunya makan tiba. Namun demikian, orangtua tetap perlu menyesuaikan masakan dengan kemampuan anak, dan saat memasak tetap ada pengawasan. Meski ada pengawasan, pria yang akrab disapa Herman ini menyarankan sebaiknya awasi anak saat memasak tanpa menunjukkan kekhawatiran berlebihan. "Saat sedang memasak, Rizki pernah minta memotong bawang untuk membantu saya. Saya biarkan dan jari tangannya terkena pisau, berdarah tapi dia diam saja. Saya pun tidak lantas menegurnya. Di dapur memang akan ada risiko seperti itu, jadi jangan terlalu khawatir," ungkapnya saat ditemui di peluncuran gerakan Dayakan Indonesia, di Jakarta, Rabu (19/6/2013). Yang bisa orangtua lakukan saat melatih anak memasak adalah mengenalkan dan mengajarkan cara menggunakan berbagai perlengkapan memasak. Termasuk cara menggunakan pisau misalnya. Juga bekali anak dengan pengetahuan sederhana seputar memasak. Misalnya, saat menggoreng terkena cipratan minyak, latih anak agar tidak panik dan tidak perlu merasa takut terkena cipratan minyak. Sekali lagi, ini adalah risiko memasak. Dengan membiasakan diri, anak akan semakin percaya diri. Herman juga menyarankan untuk tidak menghakimi anak apalagi membandingkannya saat membuat kesalahan memasak. Termasuk saat masakan yang dibuatnya gagal. Justru berikan pengetahuan yang baik terkait masakannya tersebut agar lain kali anak mencoba memasak kembali, ia akan memberikan hasil lebih baik. Untuk melatih kebiasaan memasak pada anak, sebaiknya pilih masakan yang sederhana seperti tumisan. Meski tak menuntut sang anak untuk menjadi chef sepertinya, Herman mengaku putra sulungnya kini bisa memasak makanan sendiri. Mulai ceplok telur, tumisan, menggoreng chicken nugget pun bisa. Tapi Herman membatasi menggoreng makanan karena lebih berisiko untuk anak-anak. Editor : wawa Sumber
  11. KOMPAS.com - Kehamilan adalah proses yang membahagiakan untuk Anda dan pasangan. Namun di balik kebahagiaan untuk memiliki momongan, proses ini juga menimbulkan ketidaknyamanan akibat morning sickness, gerakan bayi, dan gangguan emosional lain. Untuk sedikit membagi perasaan dan pengalaman ibu saat hamil, perusahaan popok bayi Huggies mengembangkan sebuah teknologi yang disebut sabuk sensorik kehamilan. Sabuk sensorik yang dikembangkan selama empat bulan ini dianggap bisa membantu mensimulasikan perasaan ibu hamil kepada pasangannya. Untuk merasakan gerakan bayi, Anda dan pasangan harus sama-sama menggunakan sabuk ini. Sensor di sabuk bumil akan menangkap gerakan dan tendangan bayi. Sinyal dari gerakan yang tertangkap sabuk inilah yang akan dikirim ke sabuk si ayah. Sabuk ini dianggap bisa meniru gerakan bayi secara nyata dan cepat. Dalam sebuah video yang diunggah ke YouTube, berjudul "Dad's Pregnant Too", seorang model pria mengungkapkan bahwa ia bisa merasakan gerakan bayi yang ada di perut istrinya. "Dia banyak bergerak, aku bisa merasakannya," ungkap si model pria sambil tersenyum. Sabuk ini memang tidak sepenuhnya bisa menggambarkan kondisi bumil sepenuhnya. Setidaknya, tidak bisa membuat ayah merasakan morning sickness, dan kelaparan di tengah malam. Namun, tak dipungkiri bahwa sabuk ini ternyata berpengaruh pada perubahan emosi ibu hamil. Selama percobaan berlangsung, banyak calon ayah yang merasa takjub pada proses kehamilan sehingga menitikkan air mata. Bagi Huggies sendiri, sabuk ini diciptakan untuk membantu para ayah masuk ke dalam kebahagiaan dan sukacita yang dirasakan ibu saat proses kehamilan. Penemuan sabuk ini juga dianggap sebagai cara untuk meningkatkan bonding ibu, ayah, dan anak. Selain itu, juga berguna untuk meningkatkan simpati dan empati suami kepada istrinya yang sedang hamil. Sumber: Shine Editor : Dini Sumber
  12. KOMPAS.com - Kehamilan menjadikan kulit seputar perut mengalami peregangan, kerusakan, dan meninggalkan stretchmark. Untuk mencegah kerusakan yang parah, ibu dapat memanfaatkan krim khusus yang bekerja melembabkan kulit. Bagaimana cara memilihnya? 1. Lakukan uji coba. Oleskan sedikit pada permukaan kulit. Bila keesokan hari terjadi gatal dan bentol kemerahan, pertanda kulit ibu sensitif terhadap bahan kimia tertentu dalam produk itu. Hindari pemakaian lebih lanjut, coba produk lain. 2. Perhatikan bahan-bahannya. Gunakan bahan yang aman bagi kehamilan. Meskipun katanya aman digunakan sepanjang kehamilan, cermati keterangan pada kemasan dan pastikan kandungannya aman. 3. Konsultasikan ke ahli. Kalau masih ragu sebaiknya konsultasikan ke dokter kulit mengenai pemakain krim sepanjang kehamilan. Dokter kulit bisa memberikan arahan lebih tepat mengenai produk yang sesuai kebutuhan dan jenis kulit ibu hamil. (Tabloid Nakita/Utami Sri Rahayu) Editor : wawa Sumber
  13. KOMPAS.com – Menurut sebuah studi terbaru, remaja sekarang lebih materialistis dan kurang tertarik untuk bekerja keras, daripada remaja yang lahir tahun 1946 hingga 1964, yang kerap disebut baby boomers. Para peneliti mengatakan, hal itu kemungkinan karena kesalahan orangtua sendiri karena mendorong budaya yang melahirkan narsisisme dan hak (untuk tidak bekerja keras). "Dibandingkan generasi-generasi sebelumnya, lulusan SMA sekarang lebih menginginkan banyak uang dan barang-barang bagus, tapi kurang bersedia bekerja keras untuk mendapatkannya," kata Jean Twenge, penulis studi dan profesor psikologi di San Diego State University. Berdasarkan penelitian yang diterbitkan di Personality and Social Psychology Bulletin, bukan hanya generasi milenium (Generasi Y, lahir tahun 1982 hingga 1999) yang materialistis. Keinginan mempunyai uang banyak sebenarnya memuncak pada Generasi X (lahir pada 1965 hingga 1981) dan sedikit agak menurun sejak saat itu. Di kalangan remaja sekolah menengah atas (SMA), kebutuhan akan uang menjadi keinginan tertinggi sekitar tahun akhir 1980-an. Meskipun Generasi Y kurang begitu tertarik pada uang ketimbang Generasi X, tapi generasi Y juga paling enggan bekerja keras. Dalam kategori "tidak mau bekerja keras", jumlah remaja SMA tahun 1970-an yang setuju sebesar 25 persen, pada akhir 80-an jumlah yang setuju naik hingga 30 persen, dan pada pertengahan 2000-an mencapai 39 persen. Remaja saat ini tampaknya lebih menginginkan uang ketimbang remaja tahun 1970-an. Sebanyak 62 persen dari remaja yang disurvei pada 2005-2007 mengatakan, penting bagi mereka untuk punya banyak uang. Pada tahun 1976-1978, hanya 48 persen remaja SMA yang beranggapan demikian. Para peneliti menggunakan sampel lebih dari 355.000 siswa SMA yang berpartisipasi dalam survei Monitoring the Future, yang memelajari perilaku remaja dan dewasa muda sejak pertengahan 1970-an. Untuk mengukur nilai-nilai materialistik, peneliti mengamati apakah remaja menginginkan mobil baru setiap beberapa tahun, atau ingin menjadi kaya suatu hari nanti. Meskipun remaja saat ini punya keinginan lebih besar daripada para baby boomers untuk berlibur, mereka kurang bersedia bekerja keras untuk mendapatkannya, demikian menurut Twenge, yang juga penulis buku Generation Me: Why Today's Young Americans Are More Confident, Assertive, Entitled -- and More Miserable Than Ever Before. Mengapa hal itu bisa terjadi? Anak-anak yang dibesarkan selama periode ketidakstabilan sosial (seperti ketika tingkat pengangguran tinggi) atau ketika lebih banyak orangtua yang berpisah, cenderung lebih mendukung nilai-nilai materialistik. Hal ini terutama ketika mereka mengalaminya selama pertengahan masa kecil dan awal usia remaja. Paparan terhadap iklan tampaknya memegang peran penting di sini, khususnya ketika anak-anak memasuki usia remaja awal. Banyak dari faktor-faktor ketidakstabilan sosial itu yang di luar kontrol orangtua. Namun, paparan pada iklan adalah satu elemen yang seharusnya bisa dikontrol orangtua, cukup dengan membatasi paparannya sebisa mungkin. Menurut Twenge, orangtua seharusnya juga berbicara pada anak-anak mengenai biaya hidup mereka. Menyampaikan tingginya beban biaya hidup secara terbuka juga akan membuat anak menaruh harapan yang lebih realistis mengenai (keharusan) bekerja. Dengan bekerja keras, mereka akan mampu mendapat penghasilan yang layak dan membeli barang-barang yang diinginkan. Sesederhana itu, sih. Sumber: Today Editor : Dini Sumber
  14. KOMPAS.com - Berbuat kesalahan adalah bagian dari perjalanan hidup dan aktivitas keseharian setiap orang, termasuk anak usia 3-5. Jadi, tak usah berlebihan menanggapi kesalahan anak, apalagi melibatkan emosi. Yang perlu orangtua lakukan adalah membimbing anak untuk dapat mengetahui kesalahan atau permasalahannya, juga melatih anak untuk mempertimbangkan perilakunya terutama yang berkaitan dengan orang lain. Untuk memunculkan perilaku ini, sejak dini orangtua perlu secara konsisten mengenalkan pada norma dan aturan yang berlaku dalam lingkungan sosial. Contoh, ketika menyusu ia menggigit puting susu dengan keras, maka ibu perlu memberitahunya bahwa itu menyakitinya. Jangan menganggap bayi tak memahami, ia bisa paham lewat ekspresi, intonasi, juga keterkejutan Anda. Lambat laun ia akan paham, menyakiti orang lain tak boleh dilakukan. Seiring pertambahan usianya, anak akan mengembangkan kemampuan moralnya lewat pengamatan ke lingkungan di sekitarnya. Dari situ ia akan menyadari norma moral dari apa yang terjadi, kemudian ia juga akan memahami hubungan sebab-akibat. Dari sini anak akan belajar mengenai moral. Jadi, lakukan dengan tenang dan tidak melibatkan emosi. Terimalah bila anak ketakutan dan kemudian menangis.Tenangkan dulu, baru lanjutkan kembali diskusi untuk menyelesaikan konflik atau masalah yang terjadi. Tujuan akhirnya adalah anak meminta maaf atas kesalahan yang sudah diperbuat dan mengingat bahwa perilaku tersebut tidak diterima atau tidak menyenangkan bagi orang lain. Tetaplah fokus pada perilaku dan sebab akibat. Beri kesempatan pada anak untuk mengemukakan alasan atau pendapatnya terhadap suatu perilaku. Kemudian minta anak memikirkan dampaknya terhadap orang lain dan menyampaikan apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki perilakunya. Tak kalah penting, sikap dan perilaku mengakui kesalahan ini harus ditunjukkan orangtua, pengasuh, guru, atau pun orang lain di depan anak. Anak belajar dari mencontoh. Bila Anda mudah mengucapkan maaf, hal ini akan mudah dan terbiasa dilakukan anak. Tentu tak hanya mengatakan "maaf", anak juga harus bisa memahami kesalahan dan tidak mengulanginya lagi. Selain itu orangtua juga perlu menstimulasi aturan dan disiplin yang diterapkan oleh lingkungan rumah, sekolah, dan sosial untuk meminimalisasi kesalahan anak. (Tabloid Nakita/Irfan Hasuki) Editor : wawa Sumber
  15. KOMPAS.com – Orangtua ternyata masih menganggap tabu berbincang mengenai seks dengan anak. Dan ini bukan hanya terjadi pada orangtua di Indonesia, lho. Sekitar 68 persen orangtua di Amerika Serikat mengaku tidak pernah menyinggung masalah seks dengan anak-anak mereka, karena malu atau risih melakukannya. Menurut sebuah survei yang dilakukan oleh situs diskon CouponCodes4u.com kepada 2.305 orang tua, setidaknya lebih dari 12,47 persen orangtua merasa bahwa sekolah lah yang harus bertanggung jawab penuh untuk memberikan pendidikan seks pada anak. Rasa malu menjadi alasan 44 persen orangtua sehingga tidak membahas seks dengan anak, 27 persen mengaku menghindari topik tersebut karena keyakinan agama, dan 11 persen mengatakan tidak percaya pendidikan seks. Hampir separuh dari orangtua percaya, yang harus memberikan anak pendidikan seks adalah guru di sekolah. Tetapi, lebih dari seperlima orangtua juga berpikir bahwa anak-anak harus belajar tentang hal itu dari teman-teman mereka. Sedangkan 15 persen lainnya berpikir anggota keluarga seperti saudara dapat menjadi sumber pengetahuan anak tentang seks. Lalu lebih dari 11 persen beranggapan internet dan televisi merupakan wadah yang tepat bagi anak untuk mengenal seks. Mark Pearson, ketua CouponCodes4u, menyimpulkan, "Salah satu percakapan yang paling sulit sebagai orangtua yaitu, berbincang mengenai seks dengan anak-anak mereka.” Meskipun 62 persen orangtua setuju bahwa pendidikan seks itu penting, tetapi hanya 18 persen dari mereka yang berani berbincang mengenai seks dengan anak, itupun ketika mereka sudah tumbuh dewasa. “Menariknya, banyak orangtua merasa terlalu malu untuk berbicara tentang seks, dan memilih untuk membiarkan pihak ketiga yang mengajari anak mereka tentang pendidikan seks. Entah itu teman-teman, saudara, atau guru sekolah anak untuk mendiskusikannya,” jelas Pearson. Hampir 49 persen orangtua berpikir untuk mengenalkan pendidikan seks pada anak pada usia 10 - 15 tahun. Namun, mereka tidak mempraktekkannya ketika anak memasuki usia tersebut. Sementara itu, orangtua yang memilih untuk mengenalkan sendiri pendidikan seks pada anak mereka, 37 persennya melakukan agar anak mereka tidak mendapatkan informasi yang salah dari orang lain. Sebanyak 29 persen orangtua berharap hal itu akan membuat hubungan mereka lebih terbuka dan jujur. Lalu, 26 persen lainnya mengatakan mereka menyinggung pendidikan seks agar bisa "mempersiapkan" anak-anak saat menghadapi dunia luar. Sumber: Dailymail Editor : Dini Sumber
×
×
  • Create New...